Setelah beberapa hari menjelajahi keindahan Isfahan, Fatimah membawa Lev kembali ke Teheran. Kali ini, bukan ke hotel, melainkan ke rumah keluarganya. Lev merasa sedikit gugup. Ia sudah pernah bertemu Ibu Fatimah di Kairo, tapi bertemu seluruh keluarga di rumah mereka di Iran adalah hal yang berbeda. Ia khawatir akan melakukan kesalahan konyol, apalagi dengan kesenjangan bahasa yang ada.
"Jangan khawatir, Lev," kata Fatimah, menyadari kegugupan Lev. "Mereka akan menyambutmu dengan hangat. Mereka sudah tahu banyak cerita tentang kamu dari aku."
Lev tersenyum masam. "Aku harap, ceritanya yang bagus-bagus saja."
Mereka tiba di sebuah rumah yang sederhana namun asri. Di halaman depan, tumbuh beberapa bunga mawar yang mekar. Fatimah mengetuk pintu, dan pintu terbuka. Seorang pria paruh baya yang ramah menyambut mereka. Ia adalah Ayah Fatimah.
"Ayah, ini Lev, temanku dari Banjarmasin," kata Fatimah, memperkenalkan.
Ayah Fatimah tersenyum lebar dan menjabat tangan Lev dengan hangat. "Selamat datang di rumah kami, Nak. Fatimah sudah cerita banyak tentangmu."
Meskipun tidak mengerti bahasa Persia Ayah Fatimah sepenuhnya, Lev bisa merasakan ketulusan dari senyum dan sorot matanya.
Di dalam rumah, suasana terasa hangat dan akrab. Adik laki-laki Fatimah, Ali, yang sedikit lebih muda dari Lev, menyambutnya dengan antusias. Ibu Fatimah, yang juga sudah menunggu, langsung menyajikan teh dan manisan. Kakek dan nenek Fatimah juga ada di sana, duduk di karpet, berbincang dengan suara yang pelan.
"Jangan sungkan, Nak. Anggap saja rumah sendiri," kata Ibu Fatimah, dengan bahasa Persia yang lembut.
"Terima kasih banyak," jawab Lev dalam bahasa Inggris, sambil sedikit membungkuk.
Meskipun komunikasi mereka terbatas karena kendala bahasa, kehangatan keluarga Fatimah terasa begitu nyata. Mereka mencoba berkomunikasi dengan bahasa isyarat, senyum, dan tawa. Ali, adik Fatimah, mencoba berbicara bahasa Inggris dengan Lev, meskipun terbata-bata. Ia menanyakan tentang Banjarmasin, tentang sungai, dan tentang arsitektur khas sana.
"Di Iran, kami punya arsitektur kuno. Di Banjarmasin, kalian punya rumah panggung di atas air," kata Ali. "Itu pasti unik."
"Unik, tapi sering banjir," jawab Lev, yang langsung membuat semua orang tertawa. Fatimah menerjemahkan kalimat itu dengan cepat.
Malam itu, mereka makan malam bersama di ruang makan. Hidangan yang disajikan adalah makanan khas Persia, dengan aroma rempah yang menggugah selera. Lev menikmati setiap hidangan yang disajikan, dan ia memuji masakan Ibu Fatimah.
"Ibu kamu jago masak, Fatimah," bisik Lev.
"Tentu saja," jawab Fatimah, bangga. "Semua resepnya dari nenek."
Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Kakek Fatimah menceritakan kisah-kisah kuno dari Persia. Meskipun tidak mengerti ceritanya, Lev terhanyut dalam intonasi suara kakek yang menenangkan. Ia merasa seperti sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur.
"Kamu beruntung, Lev," bisik Fatimah. "Mendengarkan cerita kakek adalah kehormatan."
Malam semakin larut. Keluarga Fatimah menyuruh Lev untuk menginap di rumah mereka. Lev, yang tadinya berencana kembali ke hotel, merasa tidak enak untuk menolak. Ia merasa dihargai dan diterima.
Sebelum tidur, Lev dan Fatimah berbincang-bincang di teras rumah.
"Terima kasih, Fatimah. Sudah mengenalkan aku ke keluargamu," kata Lev.
"Mereka juga senang bertemu denganmu, Lev," jawab Fatimah. "Mereka bilang, kamu orang yang baik dan lucu."
"Lucu karena konyol, atau lucu karena tingkah laku?" tanya Lev, sambil tersenyum.
"Keduanya," jawab Fatimah, tertawa kecil. "Tapi yang penting, kamu tulus."
Lev merasa lega. Ia tahu, kunjungannya ke rumah keluarga Fatimah adalah bagian penting dari perjalanannya. Ia tidak hanya melihat bangunan-bangunan megah, tetapi juga melihat kehangatan dan ketulusan keluarga. Iran, dengan segala tantangannya, adalah rumah kedua baginya. Dan Fatimah, dengan segala kekritisannya, adalah saudari yang ia temukan.
