Malam itu, kaum Quraisy telah mencapai puncak kebencian dan keangkuhannya. Di bawah lindungan kegelapan, mereka bersekutu untuk melakukan kejahatan yang paling keji: membunuh Nabi Muhammad SAW. Mereka memilih perwakilan dari setiap kabilah agar Bani Hasyim tidak bisa menuntut balas dendam kepada satu kabilah saja. Dengan pedang terhunus, mereka mengepung rumah Nabi Muhammad SAW, menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan rencana busuk mereka.
Namun, Allah memiliki rencana yang lebih agung. Melalui Malaikat Jibril, Allah memberitahukan rencana jahat kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan petunjuk Ilahi, Nabi Muhammad SAW meminta Ali bin Abi Thalib, sepupu yang sangat beliau cintai, untuk tidur di ranjangnya, menyelimuti diri dengan jubah hijau milik beliau. Ini adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa dari Ali, mempertaruhkan nyawanya sendiri demi keselamatan Nabi Muhammad SAW.
Sambil para pengepung menunggu dengan penuh nafsu membunuh, Nabi Muhammad SAW keluar dari rumah. Dengan sebuah keajaiban dari Allah, beliau membaca Surah Yasin dan meniupkan debu ke arah mereka. Mata mereka seolah terhalang, tidak bisa melihat sosok Nabi Muhammad SAW yang berjalan di antara mereka, keluar dari rumahnya dengan tenang.
Nabi Muhammad SAW kemudian bergegas menuju rumah sahabat karibnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar, yang sudah menanti kabar hijrah dengan hati berdebar, menyambut kedatangan beliau dengan sukacita yang tak terlukiskan. Akhirnya, waktu yang ia tunggu-tunggu tiba. Ia akan menemani kekasihnya, Nabi Muhammad SAW, dalam perjalanan suci ini.
Perjalanan mereka tidak langsung menuju ke utara, ke Yatsrib. Untuk mengelabui kaum Quraisy, mereka justru bergerak ke arah selatan, menuju sebuah gua di puncak Gunung Tsur. Langkah ini adalah bagian dari strategi yang matang dan penuh dengan keyakinan kepada pertolongan Allah.
Mereka bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari. Selama itu, sebuah drama penuh mukjizat terjadi. Asma binti Abu Bakar, putri Abu Bakar, dengan berani membawa makanan untuk mereka di malam hari, menempuh perjalanan yang gelap dan berbahaya. Abdullah bin Abu Bakar, putranya yang lain, bertugas mengamati pergerakan kaum Quraisy di siang hari, lalu menyampaikan informasi kepada mereka di malam hari. Sementara itu, Amir bin Fuhairah, seorang budak yang dibebaskan Abu Bakar, menggembalakan kambing-kambingnya melewati jejak yang dilewati oleh Asma dan Abdullah untuk menghapus jejak kaki mereka.
Kaum Quraisy, yang mengetahui Nabi Muhammad SAW berhasil meloloskan diri, mulai mencarinya dengan ganas. Mereka menyebarkan sayembara besar: 100 ekor unta bagi siapa saja yang berhasil menemukan dan membunuh Nabi Muhammad SAW. Pelacakan pun berlanjut hingga ke mulut Gua Tsur. Abu Bakar, yang berada di dalam gua, merasa sangat khawatir. Jantungnya berdebar kencang saat melihat kaki-kaki kaum Quraisy hanya beberapa jengkal dari tempat persembunyian mereka.
Nabi Muhammad SAW, dengan ketenangan yang luar biasa, menenangkan Abu Bakar. Beliau berbisik, “La tahzan, innallaha ma’ana. Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Pada saat-saat kritis itu, seekor laba-laba membuat sarang di pintu gua, dan dua ekor burung merpati bertelur di sana. Melihat sarang laba-laba dan telur burung yang masih utuh, kaum Quraisy yakin tidak ada yang bisa masuk ke dalam gua tanpa merusaknya. Mereka pun berbalik pergi, tidak menyadari bahwa mereka hanya sejengkal dari buruan mereka. Ini adalah bukti nyata perlindungan Allah SWT.
Setelah tiga hari, dengan bantuan pemandu jalan yang sudah disewa, Abdullah bin Uraiqit, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Perjalanan yang penuh bahaya ini berhasil mereka lalui, menempuh jalur yang tidak biasa, melewati gurun-gurun terjal dan pegunungan.
Akhirnya, sampailah mereka di Quba, sebuah perkampungan di pinggir Yatsrib. Di sana, Nabi Muhammad SAW mendirikan masjid pertama dalam sejarah Islam, Masjid Quba. Beliau tinggal di Quba selama beberapa hari, membangun fondasi spiritual dan fisik untuk masyarakat baru.
Ketika berita kedatangan Nabi Muhammad SAW sampai ke Yatsrib, para penduduk menyambutnya dengan sukacita yang luar biasa. Mereka berbondong-bondong menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW, melantunkan syair-syair pujian, “Thala’al badru ‘alaina...” (Telah muncul bulan purnama di atas kami...). Suara takbir dan tahmid menggaung, menyambut kedatangan sang pembawa risalah. Yatsrib, yang tadinya dipenuhi perselisihan, kini disatukan oleh kehadiran beliau dan berubah nama menjadi Madinah al-Munawwarah, “Kota yang Bercahaya”.
Hijrah ke Madinah bukanlah sekadar perpindahan tempat. Ini adalah titik balik dalam sejarah Islam. Ini adalah bukti cinta dan pengorbanan yang tak tergantikan. Ini adalah awal dari sebuah era baru, di mana Islam dapat tumbuh, berkembang, dan menyinari seluruh dunia. Perjalanan suci ini menjadi simbol perjuangan, keteguhan, dan keyakinan akan pertolongan Allah SWT di tengah cobaan yang paling berat.
