Bab 15: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Bab 15: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Lev
0
"Terima kasih banyak, Faruq!" seru Lev, melambaikan tangan saat Faruq menurunkannya di dekat sebuah monumen raksasa.

"Sama-sama, Nak! Hati-hati. Nanti kalau ada apa-apa, telepon saja," pesan Faruq sebelum mobilnya melaju pergi.

Hari ini, Faruq menepati janjinya untuk mengantar Lev ke tempat jatuhnya meteor Chelyabinsk. Sisa-sisa meteor itu kini dipajang di sebuah museum, sementara di area jatuhnya, kini berdiri sebuah monumen. Lev menghabiskan pagi harinya mengamati monumen itu, mengagumi kekuatan alam yang begitu dahsyat.

Setelah merasa puas, ia memutuskan untuk mencari makan siang. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan kota. Di sebuah supermarket, ia masuk untuk membeli beberapa camilan dan minuman. Lev mengambil keranjang, lalu mulai berkeliling.

Di salah satu lorong, ia melihat seorang nenek renta yang kesulitan mendorong troli yang penuh dengan barang belanjaan. Nenek itu tampak kewalahan. Barang-barang di trolinya terlalu banyak, dan ia kesulitan mengendalikannya. Salah satu kantung belanjaan nenek itu terjatuh, isinya tumpah ke lantai.

Nenek itu terkejut. Ia berusaha memunguti barang-barangnya, tapi ia kesulitan membungkuk. Lev yang melihat kejadian itu langsung bergegas membantu. Ia dengan sigap mengambil semua barang yang jatuh dan meletakkannya kembali ke dalam kantung belanjaan.

Nenek itu menatap Lev dengan terkejut, lalu tersenyum. Ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Rusia yang tidak Lev mengerti.

"Maaf, saya tidak mengerti," kata Lev, tersenyum dan menggeleng.

Nenek itu mengangguk-angguk, lalu menunjuk ke troli yang penuh sesak. Lev mengerti. Nenek itu butuh bantuan. Tanpa ragu, Lev mendorong troli nenek itu, mengikutinya dari belakang.

Di kasir, Lev membantu nenek itu mengeluarkan barang-barangnya dari troli. Ia juga membantu nenek itu memasukkan barang-barang yang sudah dibayar ke dalam kantung-kantung belanjaan. Nenek itu tersenyum lebar, mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Saat mereka keluar dari supermarket, Lev terus mendorong troli nenek itu. Ia mengantar nenek itu sampai ke halte bus terdekat. Nenek itu menunjuk ke arahnya, lalu mengucapkan sesuatu. Lev mengerti, nenek itu memintanya untuk menunggu bersamanya. Lev mengangguk.

Mereka duduk di bangku halte, di tengah dinginnya udara Chelyabinsk. Nenek itu mengucapkan sesuatu lagi. Lev tidak mengerti, tapi ia bisa merasakan kehangatan dari kata-kata nenek itu. Ia hanya membalas dengan senyuman.

Bus datang. Lev membantu nenek itu naik. Sebelum nenek itu naik, nenek itu memeluk Lev, lalu mencium pipinya. "Spasibo," bisik nenek itu. "Kau anak baik."

Lev merasa malu. Ia tidak mengerti apa yang nenek itu katakan, tapi ia bisa mengerti arti pelukan dan senyum nenek itu. Kebaikan tidak butuh bahasa. Kebaikan bisa dirasakan.
Bus itu melaju, membawa nenek itu pergi. Lev berdiri di halte, merasa hangat. Ia merasa bahagia. Ia merasa menjadi pahlawan, meskipun tidak ada yang tahu.

Ia kembali berjalan ke hostel. Di tengah jalan, ia mengambil ponselnya. Ada pesan dari Sofia.

“Pahlawan Batikku! Sudah eksplor Chelyabinsk?”

Lev tersenyum. “Sudah. Dan aku baru saja jadi pahlawan di sini.”

“Oh ya? Apa yang kau lakukan? Kamu menyelamatkan dunia?” balas Sofia.

Lev mengetik dengan cepat. “Tidak. Aku hanya membantu seorang nenek mendorong troli belanjanya. Tapi dia memelukku. Rasanya seperti... menyelamatkan dunia.”

“Itu memang menyelamatkan dunia, Lev. Dengan caramu sendiri,” balas Sofia, dengan emoticon hati di akhir kalimatnya.

Lev merasa hatinya menghangat. Ia tidak perlu menjadi pahlawan super. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Seorang pemuda Muslim dari Banjarmasin yang berani menjelajahi dunia, yang berani berbuat baik, di mana pun ia berada.

Malam itu, Lev menulis di jurnalnya.
“Chelyabinsk. Kota Meteor. Hari ini, aku bertemu nenek yang mengajari aku bahwa kebaikan tidak butuh bahasa. Aku bertemu nenek yang membuatku merasa seperti pahlawan. Aku belajar, bahwa menjadi pahlawan tidak harus besar. Bisa dimulai dari hal kecil. Dan aku bersyukur. Ya Allah, terima kasih untuk nenek itu.”

Di luar jendela, salju kembali turun. Lev tersenyum. Di tengah dinginnya Chelyabinsk, ia menemukan kehangatan dari kebaikan yang sederhana. Ia merasa lebih kuat, dan lebih siap untuk petualangan selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default