Bab 16: Shalat di Masjid Beverly Hills

Bab 16: Shalat di Masjid Beverly Hills

Lev
0

Setelah menghabiskan waktu di tengah kemewahan dan juga potret kemiskinan Los Angeles, Lev dan Sindy merasa perlu mencari jeda. Pemandangan kontras yang mereka saksikan telah membuat mereka merenung. Perjalanan mereka adalah sebuah pelajaran, dan setiap kota memberikan sudut pandang yang berbeda.

Pagi itu, mereka memutuskan untuk mengunjungi Beverly Hills sekali lagi, tetapi kali ini dengan tujuan yang berbeda. Bukan untuk melihat kemewahan, melainkan untuk mengunjungi masjid sederhana yang Lev temukan sebelumnya. Masjid itu, yang bernama Islamic Center Beverly Hills, terletak di sebuah jalan yang tenang, jauh dari keramaian toko-toko mewah. Bangunannya tidak mencolok, justru sangat sederhana, seolah tak ingin menarik perhatian di tengah gemerlapnya area itu.

Saat Lev dan Sindy tiba, mereka disambut oleh seorang pria paruh baya yang ramah. Pria itu, yang mengenakan setelan jas rapi dan kopiah, menyambut mereka dengan senyum hangat.

“Welcome, young people. You look new here,” sapanya.

“Yes, we are just traveling through. Saya Lev, dari Indonesia. Ini teman saya, Sindy,” jawab Lev.

“My name is Mr. Hassan. I am the head of the community here,” kata pria itu. “Silakan masuk. Waktu shalat sebentar lagi.”

Sindy, yang sudah terbiasa ikut Lev ke masjid, segera mengambil kerudung yang disediakan di dekat pintu. Ia mengenakannya dengan rapi, meskipun masih sedikit canggung. Mr. Hassan tersenyum melihat Sindy.

“It is wonderful to see friends support each other’s beliefs,” katanya, dengan nada tulus.

Di dalam masjid, Lev merasa tenang. Atmosfernya sangat berbeda dengan masjid di Anchorage. Di sini, jamaahnya terlihat sangat beragam. Ada yang memakai setelan jas mahal, ada yang memakai pakaian kasual, dan ada juga yang memakai gamis. Mereka semua datang dengan satu tujuan: beribadah kepada Allah.

Setelah shalat, Mr. Hassan mengajak mereka berbincang di sebuah ruang kecil. Mr. Hassan bercerita tentang komunitas Muslim di Beverly Hills.

“Banyak orang mengira kami ini berbeda. Kami punya uang, kami punya pekerjaan yang bagus, kami tinggal di tempat yang mewah. Tapi kami sama saja seperti Muslim di tempat lain. Kami berusaha untuk menjadi Muslim yang lebih baik setiap hari,” jelas Mr. Hassan.

“Ada tantangan yang sulit, Pak?” tanya Lev.

“Tentu saja. Di tempat seperti ini, godaan duniawi sangat besar. Kami berusaha untuk tidak terlena. Kami juga berusaha untuk tidak lupa dengan orang-orang yang kurang beruntung,” kata Mr. Hassan. “Kami punya banyak program sosial. Kami membantu para tunawisma, kami membantu anak-anak yatim, dan kami juga membantu para imigran.”

Lev terinspirasi. Ia melihat bahwa meskipun berada di lingkungan yang penuh dengan kemewahan, komunitas Muslim di Beverly Hills tetap memegang teguh nilai-nilai Islam. Mereka tidak melupakan orang-orang yang membutuhkan.

Sindy, yang mendengarkan dengan seksama, juga merasa tergerak. “Aku jadi sadar, uang itu nggak menjamin kebahagiaan, ya, Om,” katanya.

Mr. Hassan tersenyum. “Uang bisa membeli banyak hal, Nak. Tapi tidak bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan itu datang dari hati yang bersih. Dari menolong orang lain. Dari berbagi.”
Setelah berbincang cukup lama, Lev dan Sindy pamit. Mr. Hassan memberikan mereka sebuah buku tentang Islam, dan ia mendoakan agar perjalanan mereka berjalan lancar.

“Semoga kalian berdua menjadi rahmat bagi semua orang,” kata Mr. Hassan, dengan senyum hangat.

Saat mereka berjalan keluar dari masjid, Sindy menatap Lev.
“Lev, kamu itu kayak hero tahu nggak?” kata Sindy.

“Hero kenapa?” tanya Lev, bingung.

“Hero yang bawa kebaikan. Di tempat yang penuh kemewahan, kamu bisa bawa kebaikan yang tulus,” jelas Sindy. “Dan kamu ngajarin aku kalau kebaikan itu nggak harus dengan uang. Dengan nasi kuning aja bisa bikin orang senang.”

Lev tersenyum. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Tetapi ia merasa, ia sudah mendapatkan banyak pelajaran. Ia belajar tentang toleransi dari Sindy, ia belajar tentang kebaikan dari Mr. Hassan, dan ia belajar tentang dirinya sendiri. Ia tahu, ia adalah seorang Lev Ryley dari Banjarmasin, yang siap menebar rahmat di mana pun ia berada.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default