Bab 17: Bebek Alabio dan Kejadian Konyol

Bab 17: Bebek Alabio dan Kejadian Konyol

Lev
0

Pagi di Amuntai disambut dengan udara yang lebih hangat dibandingkan Barabai. Setelah sarapan dengan ketupat Kandangan yang dibeli di warung dekat penginapan, Lev dan Rauf memutuskan untuk melanjutkan petualangan mereka. Tujuan mereka hari ini adalah sebuah desa yang terkenal dengan peternakan bebek Alabio.

"Rauf, ini bakal jadi petualangan yang berbeda. Bebek, peternakan, pasti seru," ucap Lev, bersemangat.

Rauf mengangguk, kali ini tanpa banyak berkomentar. Ia sudah mulai terbiasa dengan ide-ide Lev yang aneh.
Mereka menyusuri jalanan pedesaan yang dipenuhi oleh persawahan dan kolam ikan. Sesekali, mereka berpapasan dengan warga desa yang sedang beraktivitas. Lev langsung mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa foto.

"Rauf, ini namanya potret kehidupan. Slice of life yang sesungguhnya," bisik Lev.

Mereka sampai di sebuah peternakan bebek yang cukup besar. Terlihat ribuan bebek Alabio sedang berenang di kolam, dan beberapa peternak sedang memberikan pakan. Lev langsung terkesima.

"Rauf, lihat! Lucu banget! Bebeknya gemuk-gemuk," seru Lev.

Rauf hanya tersenyum. "Iya, Lev. Jangan heboh. Nanti bebeknya kabur."

Lev menghampiri seorang peternak, seorang bapak paruh baya yang sedang memegang karung pakan. "Permisi, Pak. Boleh bantu?" tanya Lev.

Bapak peternak itu, dengan senyum ramah, mengangguk. "Boleh, Nak. Sini."

Lev mengambil karung pakan, lalu mulai memberikannya ke bebek-bebek. Namun, Lev, yang terlalu bersemangat, tidak sengaja menjatuhkan karung pakan. Ribuan bebek langsung menyerbu karung itu, membuat Lev panik.

"Rauf, tolong!" seru Lev.

Rauf langsung membantu Lev mengumpulkan pakan yang berserakan. Bapak peternak itu hanya bisa tertawa melihat tingkah Lev.

"Anak muda, kalau kasih pakan bebek itu pelan-pelan. Enggak usah buru-buru," kata bapak itu, terkekeh.

Lev merasa malu. Ia membantu bapak peternak itu membersihkan pakan yang berserakan. Setelah selesai, Lev kembali mencoba memberikan pakan, kali ini dengan lebih hati-hati.

"Rauf, ini namanya belajar dari kesalahan. Dulu dodol, sekarang bebek," bisik Lev.

Rauf hanya tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti kamu sudah semakin mengerti."

Setelah selesai membantu, mereka mengobrol dengan bapak peternak itu. Bapak itu bercerita tentang keunggulan bebek Alabio, yang telurnya lebih besar dan dagingnya lebih enak.

"Di sini, Nak. Bebek itu bukan cuma ternak. Tapi juga sumber penghidupan. Kita syukuri aja apa yang kita punya," kata bapak itu, bijak.

Lev mengangguk. Ia merasa, kakeknya ingin ia belajar hal ini. Belajar tentang arti syukur, tentang pentingnya bekerja keras, dan tentang menghargai hal-hal kecil.

Malam harinya, di penginapan, Lev dan Rauf duduk di teras, memandang bintang-bintang di langit Amuntai yang cerah.

"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.

"Catat apa lagi?" tanya Rauf.

"Catatan hari ini: Bebek Alabio mengajarkanku tentang kesabaran. Bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengan asal-asalan. Ada prosesnya. Dan proses itu, yang bikin kita jadi lebih baik," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.

Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti kamu sudah semakin mengerti."

Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak ketiga, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default