"Sampai jumpa lagi, Pahlawan Batik!" seru Faruq sambil memeluk Lev dengan erat. "Jangan lupakan kami. Kami menunggumu kembali."
"Terima kasih untuk semuanya, Faruq," jawab Lev, matanya berkaca-kaca. "Saya tidak akan melupakan kalian."
Lev berdiri di peron stasiun kereta Chelyabinsk. Di sekelilingnya, Kamil, Alim, Ruslan, dan beberapa teman lain dari komunitas muslim Chelyabinsk melambaikan tangan. Hari keberangkatan Lev ke Kamchatka akhirnya tiba. Perjalanan ini akan menjadi yang terpanjang, melewati hampir seluruh Rusia.
"Jaga dirimu baik-baik, Lev," kata Kamil. "Semoga perjalananmu menyenangkan."
"Terima kasih, Kamil. Kalian juga," balas Lev.
Alim, yang memegang ponselnya, menampilkan wajah Sofia.
"Lev! Jangan lupa oleh-oleh! Nasi goreng lagi!"
Lev tertawa. "Pasti! Nanti akan saya kirimkan dari Kamchatka!"
"Hati-hati di jalan, ya, Lev. Kami doakan kamu selamat sampai tujuan," kata Ruslan.
"Terima kasih, Ruslan. Doakan saya ya," kata Lev.
Suara peluit kereta berbunyi, menandakan keberangkatan. Lev, yang sudah berada di dalam gerbong, melambaikan tangannya dari jendela. Ia melihat teman-temannya semakin jauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Di dalam gerbong, Lev duduk di kursinya, memandang ke luar jendela. Ia merasa sedih, tapi juga merasa lega. Chelyabinsk telah memberinya pengalaman yang tak terlupakan. Ia bertemu dengan komunitas muslim yang hangat dan ramah, yang membuatnya merasa di rumah. Ia mendaki gunung untuk pertama kalinya, dan ia belajar tentang kekuatan iman. Ia juga mendapatkan kejutan ulang tahun yang membuat hatinya menghangat.
Namun, ia tahu, perjalanannya harus berlanjut. Tujuan utamanya adalah Kamchatka, dan ia tidak bisa berlama-lama di Chelyabinsk.
Lev mengambil buku jurnalnya, lalu mulai menulis.
“Chelyabinsk. Meninggalkan kota yang memberiku begitu banyak pelajaran. Aku belajar tentang persaudaraan, tentang kebaikan yang tidak mengenal batas. Aku belajar tentang kekuatan iman, tentang bagaimana Allah selalu menyediakan jalan. Aku berterima kasih kepada Faruq, Kamil, Alim, Ruslan, dan semua teman-teman di sini. Kalian adalah keluarga baruku. Dan aku akan selalu mengingat kalian.”
Lev meletakkan jurnalnya, lalu mengeluarkan ponselnya. Ada beberapa pesan dari Sofia, yang memberinya semangat. Ia tersenyum. Ia tidak sendirian. Ia punya Sofia, dan ia punya teman-teman baru dari komunitas muslim Chelyabinsk.
Perjalanan kereta dimulai. Kereta Trans-Siberia, kereta terpanjang di dunia, akan membawanya melewati ribuan kilometer, melintasi Siberia yang dingin. Pemandangan di luar jendela mulai berubah. Hamparan salju putih yang membentang luas, dengan pepohonan pinus yang menjulang tinggi, menciptakan pemandangan yang magis.
Lev merasa takjub. Ia menyadari, setiap perjalanan adalah sebuah pelajaran. Setiap perpisahan adalah awal dari sebuah pertemuan baru. Dan setiap kesulitan adalah ujian untuk menguatkan iman.
Ia memejamkan mata, membiarkan kenangan di Chelyabinsk memenuhi benaknya. Ia tersenyum. Petualangannya masih panjang. Dan ia tidak sabar untuk melihat apa yang akan ia temukan di Kamchatka, di ujung timur Rusia.
Ia yakin, Allah akan terus menjaganya. Dan ia yakin, ia akan kembali dengan banyak cerita. Cerita tentang persahabatan, tentang iman, tentang petualangan. Cerita tentang seorang pemuda dari Banjarmasin, yang berani melangkah jauh, demi menggapai impian.
