BAB 6: Saat Siti Nurhaliza Memaksa Zaki Belajar Bahasa Korea untuk Keperluan "Taaruf" Ulang

BAB 6: Saat Siti Nurhaliza Memaksa Zaki Belajar Bahasa Korea untuk Keperluan "Taaruf" Ulang

Lev
0
Ikuti kisah kocak Ibu Hermione, Ibu Krisdayanti, Ibu Siti Nurhaliza dalam novel Islami terbaru 2026. Tiga suami di Palangkaraya yang harus berjuang menghadapi hobi unik istri mereka: dari kecanduan Drakor, obsesi Hollywood, hingga drama Sinetron. Sebanyak 27 bab penuh tawa, cinta, dan hikmah religi. Baca selengkapnya!



Pagi itu di kediaman Zaki, udara Palangkaraya yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi kelas bahasa asing dadakan. Di atas meja makan, bukan lagi buku desain arsitektur yang tergeletak, melainkan tumpukan kartu flashcard berwarna warni dengan tulisan Hangeul yang meliuk-liuk.

Siti Nurhaliza berdiri dengan penggaris kayu kecil di tangannya, menatap Zaki dengan sorot mata seolah ia sedang menguji calon peserta audisi boyband.

"Mas Zaki, ulangi setelah aku," ujar Siti dengan nada tegas namun manis. "Saranghaeyo, Siti-ya..."

Zaki, yang sedang menyeruput kopi hitamnya, hampir tersedak. "Siti, ini masih jam tujuh pagi. Lidahku masih kaku, belum kena nasi kuning. Kenapa harus pakai bahasa Korea?"

"Mas, kita ini sudah menikah tujuh tahun," Siti duduk di depan suaminya dengan raut wajah melankolis. "Aku merasa kita butuh percikan baru. Di drakor semalam, si pria melamar ulang istrinya dengan bahasa yang sangat lembut. Aku ingin kita melakukan 'Taaruf Ulang' tapi dengan nuansa Seoul. Biar lebih aesthetic!"

Zaki menghela napas panjang. Sebagai seorang arsitek yang lebih terbiasa menghitung volume semen daripada menghafal kosakata, ini adalah siksaan kreatif. "Siti, sayang... Taaruf itu kan perkenalan sebelum menikah. Kita sudah punya anak satu, cicilan rumah hampir lunas, dan kamu sudah tahu persis kalau aku tidur suka mendengkur. Mau kenalan apa lagi?"

"Pokoknya harus belajar! Nanti sore, saat kita jalan-jalan di Bundaran Besar, Mas harus panggil aku 'Chagiya'. Kalau Mas panggil 'Dek' atau 'Siti' saja, aku tidak mau turun dari mobil!" ancam Siti sambil menyodorkan kartu bertuliskan 'Annyeonghaseyo'.

Pertemuan di Pagar Pembatas

Kehebohan di rumah Zaki rupanya terdengar hingga ke halaman sebelah. Fahri, yang sedang mencuci mobilnya, melihat Zaki keluar rumah dengan wajah linglung sambil menggumamkan kata-kata yang terdengar seperti "Kamshamida".

"Kenapa kamu, Zak? Kena kutukan apa pagi-pagi begini?" tanya Fahri sambil menyemprotkan air.

"Istriku, Fah. Dia mau kita 'Taaruf Ulang' gaya Korea. Aku disuruh hafal dua puluh kosakata sebelum Dzuhur," jawab Zaki lesu.

Fahri tertawa kencang, tapi tawa itu mendadak berhenti saat Krisdayanti muncul dari pintu rumah dengan mengenakan gaun pagi ala sosialita New York dan kacamata hitam besar.

"Fahri! Stop laughing! Kamu juga punya tugas. Aku ingin kamu belajar cara memesan kopi di coffee shop pakai aksen British. Kita harus level up gaya komunikasi kita!" seru Krisdayanti dari teras.

Fahri langsung mematikan selang airnya. Wajahnya seketika se-pucat Zaki. "Tuh kan, Zak. Kita ini senasib. Bedanya, kamu bakal jadi Oppa, aku bakal jadi Bodyguard Hollywood yang gagal aksen."

Intaian Sang Detektif Sinetron

Di saat Zaki dan Fahri sedang meratapi nasib di bawah matahari Kalimantan, mereka tidak sadar bahwa dari balik gorden rumah ketiga, sepasang mata sedang mengamati dengan penuh kecurigaan.

Hermione, dengan ponsel di tangan yang siap merekam, berbisik pada dirinya sendiri, "Lihat itu... Mas Zaki dan Mas Fahri bicara berbisik-bisik di dekat pagar. Pasti ada plot rahasia. Jangan-jangan mereka berencana melakukan 'tukar guling' identitas seperti di sinetron Putri yang Tertukar!"

Imran, yang baru saja selesai memakai seragam dinasnya, menghampiri istrinya. "Hermione, kamu ngapain di balik gorden? Itu Mas Zaki sama Fahri cuma ngobrol biasa."

"Mas tidak paham sinyalemen sinetron, Mas!" sahut Hermione tanpa mengalihkan pandangan. "Lihat gerakan tangan Zaki. Itu kode! Dia sedang memberikan sandi rahasia. Aku harus memberitahu Siti Nurhaliza bahwa suaminya mungkin sedang merencanakan sesuatu yang dramatis."

"Ya Allah, Hermione..." Imran mengusap wajahnya. "Berangkatkan aku ke kantor dengan tenang, tolong. Jangan sampai pas aku pulang nanti, komplek ini sudah penuh dengan garis polisi gara-gara imajinasimu."

Misi "Taaruf" di Bundaran Besar 

Sore harinya, rencana Siti Nurhaliza pun dilaksanakan. Mereka pergi ke Bundaran Besar Palangkaraya. Zaki mengenakan kemeja oversize yang dipaksakan Siti, meski Zaki merasa dirinya lebih mirip karung beras berjalan daripada aktor drakor.

"Ayo Mas, katakan," bisik Siti saat mereka berjalan di trotoar yang ramai.

Zaki menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada rekan kerjanya yang melihat. Dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar, ia berucap, "Chagiya... mau makan jagung bakar?"

Siti langsung menjerit kecil kegirangan. "Aigoo! Mas Zaki manis sekali! Satu poin untuk suamiku!"

Namun, keromantisan itu pecah saat mereka berpapasan dengan Fahri yang sedang dipaksa Krisdayanti berjalan tegak ala model. Fahri yang melihat Zaki, spontan berteriak, "Woi, Oppa! Cocok bener pakai baju kegedean gitu!"

Zaki membalas dengan muka merah, "Daripada kamu, Fah! Pakai kacamata hitam sore-sore, dikira orang mau pijat urut!"
Pertemuan itu berakhir dengan tawa meledak dari kedua suami tersebut, mengabaikan istri mereka yang cemberut karena adegan "estetik" mereka dirusak oleh realita persahabatan pria lokal Palangkaraya.

Di kejauhan, Hermione tampak memotret mereka dari dalam mobil. "Fix! Ini adalah adegan 'Persahabatan yang Dikhianati'. Judul besarnya: Suamiku Ternyata Lebih Suka Nongkrong daripada Menjadi Ikon Fashion-ku."

Malam itu, ketiga keluarga pulang dengan kebahagiaan masing-masing. Meskipun penuh paksaan dan komedi, di hati kecil Zaki, Fahri, dan Imran, mereka tahu bahwa mengikuti kegilaan istri adalah cara termudah untuk menjaga surga kecil mereka tetap damai.

Baca Selanjutnya: Bab 7: Red Carpet Gadungan: Ketika Fahri Harus Pakai Jas di Cuaca Panas Palangkaraya

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default