"Ini adalah perjalanan yang panjang," kata seorang nenek yang duduk di seberang Lev, melihatnya mengeluarkan Al-Qur'an kecil dari tas. Nenek itu, yang memiliki mata berwarna biru dan senyum yang hangat, berbicara dalam bahasa Rusia yang halus.
Lev tersenyum dan mengangguk. "Ya. Jauh sekali." Ia tidak mengerti persis apa yang nenek itu katakan, tapi ia bisa menangkap maknanya.
"Kau sendirian?" tanya nenek itu lagi.
Lev mengangguk. "Ya. Tapi... punya teman banyak," jawab Lev, mencampur bahasa Indonesia dan isyarat.
Nenek itu tertawa. "Bagus. Di kereta, semua orang adalah teman. Kereta adalah rumah kita."
Lev mengangguk lagi, setuju. Kereta Trans-Siberia ini memang seperti rumah berjalan. Gerbongnya hangat, dengan aroma teh yang kental dan mie instan yang tercium di mana-mana. Di dalamnya, banyak orang dari berbagai latar belakang. Ada yang dari Mongolia, ada yang dari Rusia, dan ada yang dari negara-negara Asia Tengah. Mereka semua berbaur, berbagi cerita, dan berbagi makanan.
Lev memilih kompartemen yang berisi empat tempat tidur, di mana ia bisa berinteraksi dengan orang lain. Selain nenek yang ramah itu, ada seorang mahasiswa muda dari Mongolia yang sedang dalam perjalanan pulang, dan seorang pria paruh baya yang tampak kelelahan, sedang tidur pulas di ranjang atas.
Selama beberapa hari perjalanan, Lev menghabiskan waktunya dengan membaca, menulis jurnal, dan mengamati pemandangan di luar jendela. Pemandangan Siberia yang dingin membentang luas. Hutan-hutan pinus yang diselimuti salju, sungai-sungai yang membeku, dan desa-desa kecil dengan atap-atap yang tertutup salju. Pemandangan itu begitu indah, begitu damai, dan begitu berbeda dari Banjarmasin.
Meskipun sendirian, Lev tidak pernah merasa kesepian. Ia sering berinteraksi dengan nenek di seberangnya, yang kadang memberinya teh panas atau camilan. Mereka berbicara dengan bahasa yang campur aduk, bahasa Rusia, isyarat, dan senyuman. Lev juga sesekali mengobrol dengan mahasiswa dari Mongolia, yang cukup fasih berbahasa Inggris.
Di sela-sela obrolan, Lev menyempatkan diri untuk shalat. Di gerbong kereta yang sempit, ia mengambil posisi sujud, menghadap kiblat yang ia tentukan dengan aplikasi di ponselnya. Pemandangan itu menarik perhatian beberapa penumpang lain, tapi tidak ada yang mengganggu. Beberapa hanya melirik, sebagian lagi tersenyum. Lev merasa tenang. Ia bisa menjalankan ibadahnya dengan nyaman, bahkan di tengah perjalanan yang jauh.
Malam harinya, saat semua penumpang sudah terlelap, Lev kembali menulis di jurnalnya.
“Kereta Trans-Siberia. Perjalanan ini benar-benar menguras tenaga, tapi juga menguatkan jiwa. Aku bertemu banyak orang, mendengar banyak cerita. Aku melihat keindahan Siberia yang tak terlukiskan. Dan di tengah semua itu, aku merasa begitu dekat dengan-Nya. Perjalanan ini adalah pengingat bahwa kebesaran Allah itu tak terbatas, dan bahwa kita, sebagai hamba-Nya, harus selalu bersyukur.”
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Sofia.
“Aku sedang membaca buku yang kita beli di kafe. Aku jadi merindukanmu. Hati-hati di jalan ya, Pahlawan Batik!”
Lev tersenyum. Ia merasa hangat. Ia tahu, meskipun terpisah oleh jarak yang sangat jauh, ia tidak sendirian. Ada Sofia, ada keluarga, ada teman-teman baru di Chelyabinsk. Dan yang terpenting, ada Allah.
Perjalanan terus berlanjut. Kereta Trans-Siberia membawa Lev semakin jauh ke timur. Di luar jendela, pemandangan terus berganti. Lev tidak tahu apa yang menantinya di Kamchatka. Tapi ia tahu, ia akan menjalaninya dengan hati yang penuh keyakinan. Ia akan terus menulis, terus merenung, dan terus bersyukur. Karena di setiap langkah, ada pelajaran. Dan di setiap perjalanan, ada makna.
