Bab 22: Road Trip Penuh Tawa

Bab 22: Road Trip Penuh Tawa

Lev
0

Setelah meninggalkan Canberra, Lev dan Jessica kembali melanjutkan perjalanan darat mereka menuju Brisbane. Kali ini, mereka memutuskan untuk mengambil rute yang sedikit berbeda, melewati kota-kota kecil di sepanjang pantai timur Australia. Tujuannya adalah untuk menikmati pemandangan laut dan menemukan kejutan-kejutan kecil yang mungkin tidak mereka temukan di kota-kota besar.

"Brisbane tidak akan sedamai Canberra, Lev," kata Jessica, yang mengemudi di jalur kiri dengan lincah. "Tapi tidak seramai Melbourne atau Sydney. Aku yakin kamu akan suka."

Lev duduk di kursi penumpang, menikmati pemandangan. Ia memasang playlist musik yang sudah ia siapkan: campuran lagu-lagu Islami, lagu-lagu Banjar, dan lagu-lagu pop Australia. Jessica, yang awalnya aneh dengan musik Banjar, kini mulai menyukainya.

"Ini lagu tentang apa, Lev?" tanyanya saat sebuah lagu dengan melodi riang diputar.

"Ini lagu tentang sungai, Jess," jawab Lev. "Tentang kehidupan di tepi sungai. Banyak orang Banjar yang hidupnya bergantung pada sungai."

Jessica tersenyum. "Aku suka. Aku bisa membayangkan perahu-perahu kecil yang hilir mudik di sana."

Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah kota kecil bernama Port Macquarie. Di sana, mereka menemukan sebuah tempat konservasi koala. Lev dan Jessica memutuskan untuk mampir. Mereka melihat koala-koala yang sedang tidur di pohon eukaliptus, terlihat sangat menggemaskan.

"Aku tidak percaya mereka bisa tidur begitu pulas," kata Lev sambil mengambil foto. "Di Banjarmasin, aku tidak pernah lihat hewan yang sesantai ini."

"Koala memang hewan yang pemalas, Lev," canda Jessica. "Tapi mereka sangat lucu."

Setelah puas melihat koala, mereka melanjutkan perjalanan. Saat mereka melewati sebuah peternakan, mereka melihat papan besar bertuliskan "Kangguru liar, peluklah kami!"

"Ayo mampir, Lev!" seru Jessica bersemangat. "Kita bisa peluk kangguru!"

Lev, yang tadinya penasaran, tiba-tiba merasa cemas. "Jess, bukannya kangguru itu berbahaya?" tanyanya.

"Tidak, Lev. Kangguru di sini sudah terbiasa dengan manusia. Mereka jinak," Jessica meyakinkan.

Dengan sedikit ragu, Lev mengikuti Jessica. Di peternakan itu, mereka disambut oleh puluhan kangguru yang sedang berkeliaran bebas. Jessica dengan berani mendekati salah satu kangguru dan memeluknya. Lev masih ragu, tapi setelah melihat Jessica baik-baik saja, ia memberanikan diri.

"Hai, kangguru," sapa Lev, sedikit gugup.

Kangguru itu menatap Lev, lalu mencium pipinya. CUP!

Lev terkejut. "Dia menciumku!" serunya dengan wajah memerah.

Jessica tertawa terbahak-bahak. "Sepertinya dia suka sama kamu, Lev! Kalian berdua sama-sama menggemaskan!"
Momen kocak itu diabadikan oleh Jessica dengan kamera ponselnya. Foto Lev yang dicium kangguru menjadi salah satu kenangan terlucu mereka.

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka menginap di sebuah motel kecil di Gold Coast, sebuah kota pantai yang ramai. Lev dan Jessica menikmati makan malam di tepi pantai, melihat ombak yang datang dan pergi.

"Rasanya seperti mimpi, Jess," kata Lev. "Aku tidak pernah membayangkan bisa berada di tempat seindah ini."

"Ini bukan mimpi, Lev," jawab Jessica. "Ini kenyataan. Dan perjalanan kita masih panjang."

Lev tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki Jessica sebagai sahabat. Jessica tidak hanya menemaninya, tapi juga mengajarkannya untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dan di perjalanan yang penuh tawa ini, mereka menyadari bahwa persahabatan adalah petualangan terindah.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default