Baca novel Islami 'Luka di Simpang Empat'. Kisah Lev ℛyley yang mengorbankan wanita tulus demi cinta sepihak, namun berakhir ngenes di Banjarbaru. Cerita slice of life sedih, komedi, dan penuh hikmah di Kalimantan Selatan. Baca 25 Bab Lengkap di sini!
Setelah pertemuannya dengan Sarah yang meninggalkan bekas lubang di harga dirinya, Lev ℛyley memutuskan untuk melakukan "healing" mandiri. Ia memilih Hutan Pinus Mentaos sebagai pelarian. Di kepalanya, ia membayangkan dirinya seperti aktor film Slice of Life: berjalan pelan di bawah rimbunnya pohon pinus, memotret cahaya matahari yang menembus celah daun, lalu merenungi takdir dengan puitis.
Namun, realitanya berbeda. Lev lupa bahwa ini hari Minggu.
Hutan Pinus tidak sesunyi yang ia bayangkan. Isinya penuh dengan keluarga yang sedang piknik membawa rantang nasi kuning, anak-anak yang berlarian, dan pasangan yang sibuk mencari angle foto untuk Instagram.
"Estetika hancur oleh realita," gumam Lev sembari menyampirkan kamera DSLR-nya.
Ia duduk di salah satu bangku kayu yang agak menjauh dari keramaian. Baru saja ia ingin membuka aplikasi Al-Qur'an di ponselnya untuk mencari ketenangan, sebuah suara yang sangat ia kenali melengking dari arah belakang.
"Eh, Kak Lev? Wah, sendirian aja? Lagi nyari inspirasi buat desain undangan mantan, ya?"
Lev tersentak. Ia menoleh dan menemukan Maya. Gadis ketiga yang pernah ia tolak dengan alasan 'ingin menjaga kesucian cinta'. Maya adalah kebalikan dari Sarah; dia ceria, sedikit blak-blakan, dan sekarang dia sedang berdiri di sana dengan membawa es krim yang mulai meleleh.
"Maya... Hai," sapa Lev kikuk.
"Jangan pasang muka sedih gitu, Kak. Kurang cocok sama filter foto Hutan Pinus," Maya duduk di sampingnya tanpa permisi. "Aku dengar soal Alya. Turut berduka cita ya buat hatinya yang sudah resmi jadi fosil."
Lev meringis. Maya memang tidak pernah menyaring ucapannya. "Kamu masih marah soal waktu itu, May?"
Maya menjilat es krimnya, lalu menatap lurus ke depan. "Marah? Awalnya iya. Siapa yang nggak kesal ditolak cowok yang alasannya 'mau fokus nunggu satu nama di sepertiga malam'? Eh, ternyata yang ditunggu malah nikah sama tentara. Tapi sekarang aku sadar, Kak. Allah itu baik banget sama aku."
"Baik kenapa?"
"Ya baik karena nggak membiarkan aku sama orang yang matanya ketutup cuma buat satu orang sampai nggak bisa lihat dunia luar. Kak Lev itu kayak orang yang nunggu bus di halte bandara. Nggak nyambung," ujar Maya tertawa kecil.
Tawa Maya yang renyah itu sebenarnya adalah tamparan bagi Lev. Ia sadar betapa konyolnya ia di mata wanita-wanita ini. Ia merasa telah berkorban, padahal ia hanya sedang keras kepala.
"Terus, sekarang kamu sama siapa ke sini?" tanya Lev mengalihkan pembicaraan.
"Sama calon imam, dong. Tuh!" Maya menunjuk seorang pria yang sedang sibuk merapikan tikar tidak jauh dari sana.
Lev merasa seperti sedang dikeroyok oleh takdir. Satu per satu wanita yang ia tolak justru menemukan kebahagiaannya, sementara ia terjebak di Banjarbaru dengan status 'pria paling gagal move-on se-Kalimantan Selatan'.
"Kak Lev," suara Maya melembut. "Nggak usah merasa paling menderita. Coba deh jalan-jalan ke Tahura Sultan Adam atau naik ke Bukit Kiram. Lihat betapa luasnya bumi Allah. Jangan cuma muter-muter di Jalan Ahmad Yani sama Lapangan Murjani doang. Dunia nggak seukuran hati Alya."
Maya bangkit, melambaikan tangan, dan pergi meninggalkan Lev dengan sepotong nasihat yang lebih tajam dari silet.
Lev menghela napas. Ia baru saja menyadari satu hal lucu sekaligus menyedihkan: wanita-wanita yang dulu ia tolak ternyata adalah cara Allah untuk menyelamatkannya dari kesepian ini, tapi ia justru memilih untuk mengunci pintu dari dalam.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Lev, ini Ibu Alya. Kalau ada waktu, bisa ke rumah besok? Ada titipan dari Alya untuk kamu sebelum dia berangkat ke asrama suaminya.”
Jantung Lev berdegup kencang. Titipan? Apa ini surat cinta terakhir? Atau justru tagihan traktiran yang belum lunas?
Lanjut ke Bab 4? Lev akan menghadapi "Ujian Nasional" yang sesungguhnya: datang ke rumah mantan dan bertemu calon suaminya yang berseragam. Apakah Lev akan tetap tegar atau justru pura-pura pingsan di teras?
