Sepulang sekolah, Vania langsung menuju ke kafe langganannya, "Senja Martapura," sebuah tempat nyaman di pinggir sungai dengan pemandangan perahu-perahu kecil yang lalu lalang. Ia sudah membuat janji dengan sahabat-sahabatnya: Sarah, seorang fashion designer yang selalu tampil stylish namun punya selera humor yang garing; dan Mia, seorang food blogger yang paling heboh dan selalu punya gosip terbaru.
"Vaniaaa! Dengar-dengar ada cerita seru, nih!" seru Mia begitu Vania sampai, suaranya sudah seperti toa masjid yang paling kencang. Ia bahkan tidak menunggu Vania duduk.
Vania mendesah pasrah. "Astaga, Mia, cepat sekali beritanya sampai ke telingamu. Aku bahkan belum sempat ganti baju."
Sarah, yang sedang menyesap kopi dengan elegan, hanya tersenyum tipis. "Mia itu punya jaringan intelijen yang lebih cepat dari internet. Makanya, kalau ada gosip, dia yang paling tahu."
Mia cemberut. "Bukan gosip, tapi fakta. Kan Dodo, muridmu, itu sepupuku. Dia voice note ke ibunya, terus ibunya forward ke ibuku, terus ibuku ke aku. Kan sah!"
"Dasar kepo!" Vania meletakkan tasnya di kursi. "Ceritanya biasa saja, kok. Aku cuma dikejar bebek. Titik."
"Biasaaa sajaa??" Mia membulatkan matanya. "Vania, itu namanya insiden! Lagipula, kan ada pahlawannya. Pahlawan misterius. Cowok, kan? Ganteng, kan? Badannya atletis kayak Pak Riko, kan?"
Vania menggeleng. "Tidak. Badannya lebih tegap. Aku juga tidak sempat lihat jelas. Pokoknya dia tampan, dengan senyum yang ramah."
"Coba jelaskan lebih detail!" Mia mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen dari tasnya. "Tinggi badan? Gaya rambut? Warna mata? Bau parfum? Jangan sampai lolos!"
"Ih, Mia! Kamu ini mau wawancara atau mau jadi mak comblang?" Vania mendorong buku catatan Mia. "Dia cuma nolongin aku, terus langsung pergi. Jangan dilebih-lebihkan, deh."
Sarah, yang biasanya diam, ikut angkat bicara. "Vania, kamu harusnya bersyukur. Akhirnya ada juga cowok yang melihat sisi lain dari dirimu."
"Sisi lain? Maksudmu sisi canggung yang suka dikejar bebek?" Vania memutar bola matanya.
"Bukan, Van. Maksudnya, sisi lucu yang bikin gemas. Lagipula, kalau cowok itu sampai mau nolongin kamu, berarti dia punya rasa peduli. Mana sekarang gampang cari cowok begitu," lanjut Sarah.
"Lagipula, kamu ini sudah terlalu lama sendirian, Van," timpal Mia, nada suaranya berubah serius. "Apa kamu tidak mau mencoba membuka hati lagi?"
Vania terdiam. Ia memandangi Sungai Martapura yang tenang. Sebenarnya ia sudah membuka hati. Ia selalu berdoa agar dipertemukan dengan jodoh yang baik. Tapi rasanya, setiap ia mencoba, selalu ada saja kekonyolan yang terjadi. Terkadang, ia berpikir apakah ia memang ditakdirkan untuk hidup sendiri saja, ditemani tawa dan drama sahabat-sahabatnya.
"Aku sudah berusaha, kok. Tapi jodohku kayaknya nyasar di hutan Amazon," jawab Vania, mencoba mencairkan suasana dengan candaan.
"Makanya, kita bantu!" Mia menyilangkan kedua tangannya dengan yakin. "Rencananya begini. Kita akan mencari tahu siapa pria misterius itu. Setelah ketemu, kita akan dekati dia. Kita akan tunjukkan bahwa Vania itu bukan cuma guru yang bisa dikejar bebek, tapi juga guru yang pintar masak, rajin menabung, dan suka mengaji."
"Mia, itu namanya stalking!" tegur Vania.
"Bukan stalking, namanya investigasi!" elak Mia. "Lagipula, ini demi kebaikanmu, Van. Kamu kan sudah bilang mau jodoh yang bisa membimbingmu. Nah, kita harus memastikan dia itu orang yang tepat."
"Tapi bagaimana cara kita mencarinya?" tanya Vania, mulai tertarik dengan ide gila Mia.
Sarah tersenyum. "Kita mulai dari tempat kejadian. Jembatan Barito."
Sore itu, mereka bertiga kembali ke Jembatan Barito, berpura-pura menjadi turis yang ingin berfoto. Mereka mengamati setiap sudut, bertanya kepada penjual makanan, dan bahkan sampai mewawancarai tukang parkir.
"Pak, tadi pagi ada lihat cowok ganteng nggak di sini?" tanya Mia, langsung to the point.
Tukang parkir itu mengernyitkan dahi. "Cowok ganteng? Banyak, neng. Saya juga ganteng, kok."
"Bukan, Pak. Cowok yang tinggi, pakai kaus, terus bantuin cewek yang lagi dikejar bebek," jelas Vania, merasa sangat malu.
Tukang parkir itu mengangguk-angguk. "Ooh, itu. Saya lihat. Dia pakai mobil bagus, neng. Keluar dari kafe sana tuh." Tukang parkir itu menunjuk kafe "Senja Martapura," tempat mereka biasa nongkrong.
Vania, Mia, dan Sarah saling pandang. Mereka tidak pernah menyadari ada kafe lain di dekat tempat mereka. Kafe itu tampak eksklusif dan selalu ramai. Mereka pun langsung menuju ke sana.
Di sana, mereka menemukan informasi bahwa pria itu memang sering datang ke kafe tersebut. Ia adalah seorang pebisnis yang sedang ada proyek di Banjarmasin. Namun, identitas lengkapnya dirahasiakan oleh pihak kafe.
"Ini nih, yang bikin penasaran!" Mia menggerutu. "Misterius banget, sih!"
"Sabar, Mia. Kita punya waktu. Kalau dia memang takdir Vania, pasti ketemu lagi," kata Sarah bijak.
Vania hanya bisa mengangguk. Ia tidak tahu apakah ia harus berharap atau tidak. Yang jelas, hari ini ia belajar satu hal: punya sahabat yang heboh dan peduli itu bisa membuat hidup lebih berwarna, meskipun kadang membuat malu. Ia hanya bisa berdoa, semoga Tuhan benar-benar telah menyiapkan sebuah skenario cinta yang paling manis di balik insiden dikejar bebeknya.
