Pagi di Kandangan disambut dengan kabut tipis yang menyelimuti kota, udara yang dingin menusuk kulit, dan suara ayam jago berkokok bersahutan. Setelah salat subuh di musala penginapan, Lev dan Rauf memutuskan untuk langsung menjelajahi Pasar Los Batu, pasar tradisional yang terkenal di kota ini. Tugas pertama: membeli dodol kandangan dan lemang, makanan khas setempat.
"Ini nih, Rauf. Momen yang kukejar. Interaksi sosial di pasar. Penuh warna, penuh cerita," bisik Lev, kameranya sudah siap siaga di tangannya.
Rauf hanya mengangguk, matanya mengawasi Lev dengan waspada. Dia tahu, Lev dan keramaian adalah kombinasi yang berbahaya.
Mereka menyusuri lorong pasar yang padat. Penjual sayur berteriak menawarkan dagangannya, aroma rempah dan ikan segar berbaur, menciptakan pengalaman yang autentik. Lev, yang terlalu asyik memotret, tak sengaja menabrak seorang ibu-ibu yang sedang membawa bakul.
"Aduh, maaf, Bu! Enggak sengaja!" seru Lev panik, membantu ibu itu mengambil beberapa bungkus sayur yang jatuh.
Ibu itu, dengan senyum ramah, malah menertawakan Lev. "Santai saja, Nak. Jalanan ini memang sempit kalau lagi ramai."
Lev merasa lega. Ia mengambil kesempatan ini untuk bertanya tentang dodol kandangan. "Bu, dodol kandangan yang paling enak di mana, ya?"
"Kamu cari dodol? Itu, di ujung sana, ada warung ibu Tini. Dodolnya paling manis, kayak senyum anak muda sekarang," jawab ibu itu, sambil melirik Lev genit. Lev hanya bisa nyengir malu.
Setelah berterima kasih, Lev dan Rauf menuju warung ibu Tini. Warung itu sederhana, tapi ramai. Di sana, mereka bertemu dengan ibu Tini, seorang penjual dodol yang cerewet tapi sangat ramah.
"Dodolnya, Nak? Mau yang rasa apa? Ada rasa original, nangka, durian. Atau mau campur-campur?" tawar ibu Tini.
"Rasa yang paling otentik aja, Bu," jawab Lev.
"Original dong, Nak! Rasanya sama kayak rasa cinta pertama, manis-manis pahit. Eh, manis semua ding," ibu Tini terkekeh.
Saat ibu Tini sibuk membungkus dodol, Lev mengambil inisiatif untuk mencoba membuat dodol. Ia melihat adonan dodol yang diletakkan di wajan besar. Lev mengambil spatula kayu dan mulai mengaduk adonan dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Ini kayaknya butuh tenaga ekstra ya, Bu," kata Lev, sambil mengaduk-aduk dengan gerakan yang tidak beraturan.
Ibu Tini, yang melihat tingkah Lev, hanya bisa tertawa. "Aduh, Nak. Kalau kamu aduk kayak gitu, nanti dodolnya lari semua. Ini harus pelan-pelan, tapi pasti."
Lev tidak mendengarkan. Ia terus mengaduk dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya spatula kayu itu patah.
Brak!
Suasana di warung mendadak hening. Ibu Tini melongo, Rauf menepuk dahinya. Lev memegang sisa spatula di tangannya, wajahnya panik.
"Maaf, Bu... aku enggak sengaja," ucap Lev pelan.
Ibu Tini, setelah beberapa detik terdiam, kembali tertawa terbahak-bahak. "Aduh, Nak. Kamu ini ada-ada saja. Tenaga kamu kayak kuli bangunan. Sudah, sudah, sini biar ibu saja yang lanjutkan. Dodol ibu jadi dodol patah hati kalau kamu yang aduk."
Lev merasa malu, tapi juga geli. Kejadian itu menjadi bahan obrolan lucu di warung itu. Setelah membeli dodol dan beberapa bungkus lemang, mereka beranjak dari warung ibu Tini.
Saat berjalan keluar dari pasar, Rauf mencolek Lev. "Lev, coba lihat sana," tunjuknya ke arah gerobak es kelapa.
Di gerobak itu, ada seorang bapak tua yang sedang mengipas es kelapanya. Ia adalah bapak-bapak yang tadi bertemu mereka di awal perjalanan.
"Pak! Bapak kok ada di sini?" tanya Lev, heran.
Bapak itu tersenyum. "Oh, ini gerobak saya. Saya cuma iseng tadi di depan pasar. Kan seru, bisa lihat orang-orang belanja," jawabnya, sambil menyodorkan es kelapa. "Mau coba?"
Lev dan Rauf saling pandang. Mereka menerima es kelapa dari bapak itu. Es kelapanya terasa segar dan manis, sangat pas untuk menghilangkan penat.
"Namanya siapa, Pak?" tanya Rauf.
"Saya pak Amang. Kalau kalian?"
"Saya Lev, ini Rauf. Kami dari Banjarmasin," jawab Lev.
"Oalah, jauh-jauh. Mau apa ke sini?" tanya pak Amang.
Lev menceritakan tujuannya, tentang misi kakeknya untuk mendokumentasikan kehidupan di Hulu Sungai. Pak Amang mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk.
"Bagus itu. Anak muda sekarang jarang yang mau peduli sama kampung halaman. Kalian mau lihat-lihat apa di sini? Nanti bapak antar. Pakai sepeda motor bapak, ya," tawar pak Amang.
Lev dan Rauf menolak dengan halus. "Tidak usah, Pak. Kami sudah ada kendaraan. Tapi terima kasih banyak, ya."
Sebelum berpisah, pak Amang memberikan pesan kepada mereka. "Di sini, kalian tidak akan menemukan keindahan yang mewah. Tapi kalian akan menemukan ketenangan, dan kebahagiaan yang sederhana. Jalani saja, nikmati. Nanti kalian akan tahu, bahwa hal-hal kecil itu yang paling berharga."
Lev dan Rauf mengangguk, mencerna kata-kata pak Amang. Hari pertama di Kandangan sudah memberikan banyak pelajaran, dan banyak tawa. Mereka kembali ke penginapan, dengan beberapa bungkus dodol dan lemang, dan satu pelajaran berharga dari seorang penjual es kelapa. Petualangan mereka di Kandangan baru saja dimulai. Kejutan dari kota ini, sepertinya akan terus berdatangan.
