Melihat betapa tulusnya Jessica menghormati keyakinan Lev, pemuda Banjarmasin itu merasa tergerak untuk menunjukkan lebih dari sekadar ritual ibadah individu. Ia ingin Jessica melihat bagaimana Islam dipraktikkan dalam sebuah komunitas, bagaimana nilai-nilai kekeluargaan dan toleransi itu hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Akhirnya, ia mengajak Jessica untuk ikut ke sebuah acara komunitas Muslim di Perth.
"Jess, besok ada acara makan-makan di masjid komunitas Muslim di sini," kata Lev. "Aku ingin kamu datang. Siapa tahu kamu bisa coba lagi makanan khas yang berbeda-beda."
Jessica, yang selalu tertarik pada hal-hal baru, langsung mengangguk setuju. "Tentu saja! Aku sudah penasaran dengan komunitas Muslim di sini. Kamu selalu cerita yang baik-baik tentang mereka."
Esok sorenya, Lev dan Jessica menuju ke masjid. Jessica mengenakan pakaian yang sopan, menutupi lutut dan bahunya sebagai bentuk penghargaan. Di depan pintu masjid, Lev menjelaskan etika yang harus dipatuhi, seperti melepaskan sepatu. Jessica mengangguk patuh, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Begitu masuk, Jessica terkesima. Ia membayangkan masjid adalah tempat yang sunyi dan formal. Namun, yang ia lihat adalah ruangan yang ramai dengan anak-anak berlarian, orang-orang dewasa yang bercengkrama, dan aroma masakan yang menggugah selera. Komunitas Muslim di sana sangat beragam, ada yang berasal dari Turki, Pakistan, Indonesia, hingga Afrika.
Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah menghampiri mereka. "Selamat datang, anak muda," sapanya dengan aksen Arab yang kental. "Kalian berdua dari mana?"
"Saya dari Indonesia, Bu," jawab Lev sambil tersenyum. "Dan ini teman saya, Jessica."
"Ah, masakan Indonesia enak sekali!" seru wanita itu. "Mari, silakan bergabung dengan kami. Jangan malu-malu, makanannya banyak."
Jessica merasa hangat dengan sambutan yang begitu ramah. Ia tidak merasa asing sama sekali. Lev memperkenalkan Jessica kepada beberapa teman Indonesianya yang sedang berkumpul. Mereka semua menerima Jessica dengan tangan terbuka, menceritakan pengalaman mereka sebagai perantau di Australia.
Saat waktu shalat magrib tiba, semua orang berhenti beraktivitas. Lev mengambil wudhu, dan Jessica mengamati dari kejauhan. Wanita-wanita mengambil tempat di belakang, sedangkan pria-pria di depan. Jessica melihat bagaimana mereka semua, dari berbagai negara dan latar belakang, bersatu dalam satu barisan, menghadap kiblat yang sama, menjalankan ritual yang sama. Hatinya dipenuhi rasa kagum yang mendalam.
"Ini membuatku terharu," bisik Jessica kepada Lev setelah salat selesai. "Meskipun mereka berasal dari tempat yang berbeda, mereka semua bersatu di sini. Dan semua orang memperlakukanku dengan sangat baik, padahal aku bukan Muslim."
"Itulah indahnya Islam, Jess," jawab Lev. "Islam mengajarkan kami untuk tidak memandang perbedaan suku, warna kulit, atau agama. Semua manusia itu sama di mata Allah."
Setelah shalat, mereka semua kembali menikmati hidangan yang disediakan. Ada kebab Turki, biryani Pakistan, dan tentu saja, masakan Indonesia seperti rendang dan nasi kuning. Jessica mencoba semuanya dengan antusias, dan setiap kali ia memuji masakannya, para koki amatir itu tersenyum bangga.
Sebelum pulang, Jessica sempat berbincang dengan seorang ibu asal Mesir yang menceritakan kisahnya berhijrah ke Australia dan mendirikan komunitas Muslim. Jessica terinspirasi oleh semangat dan keteguhan ibu itu.
Dalam perjalanan pulang, Jessica terdiam. "Lev, aku merasa ada sesuatu yang istimewa di komunitas itu," katanya. "Mereka memiliki ikatan yang kuat, tapi juga sangat terbuka pada orang luar. Itu membuatku berpikir, bahwa yang selama ini aku tahu tentang Islam ternyata tidak sepenuhnya benar."
Lev tersenyum. "Stereotip memang seringkali menyesatkan, Jess. Tapi aku senang kamu bisa melihatnya sendiri. Kamu bisa melihat Islam dari sisi yang berbeda."
Jessica mengangguk, matanya menatap ke luar jendela mobil. "Aku jadi penasaran, Lev. Bagaimana perjalananmu selanjutnya? Ke mana kita akan pergi?"
Lev tersenyum misterius. "Kita akan ke tempat yang lebih banyak kejutan, Jess. Siap-siap saja," jawabnya.
Kunjungan ke komunitas Muslim di Perth tidak hanya memperkaya pengetahuan Jessica tentang Islam, tetapi juga mempererat tali persahabatan antara mereka. Jessica, yang selama ini hanya mengenal Islam dari media, kini melihat Islam dari sisi yang lebih manusiawi, damai, dan penuh toleransi. Hal ini semakin membuat Jessica kagum pada Lev, dan semakin penasaran dengan petualangan yang menanti mereka di kota-kota Australia berikutnya.
