Undangan kencan itu datang melalui pesan singkat. Sebuah pesan yang sederhana, lugu, dan modern. Alex mengirimkannya ke nomor ponsel usang Eva, yang ia pakai hanya untuk kebutuhan dasar. Isinya, "Mau kencan? Malam ini, makan malam di The Talkeetna Roadhouse. Aku ingin mentraktirmu." Alex menambahkan emoji senyum, yang bagi Eva terasa sangat... asing. Ia sendiri tidak tahu cara membalasnya. Ia hanya membalas dengan, "Tentu."
The Talkeetna Roadhouse adalah tempat yang sempurna untuk kencan. Berdiri sejak awal abad ke-20, tempat ini memiliki suasana yang hangat dan penuh sejarah, dengan dinding yang dipenuhi foto-foto kuno dan memorabilia dari era penjelajah. Eva merasa sedikit lebih nyaman di sana, dikelilingi oleh peninggalan masa lalu yang ia kenal. Namun, ia juga merasa canggung. Ia tidak tahu bagaimana caranya berkencan di zaman ini. Terakhir kali ia berkencan, mereka naik kuda, bukan mobil.
Alex datang dengan mobil pikap tuanya, wajahnya berseri-seri. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jins. Eva mengenakan gaun sederhana berwarna gelap, yang ia temukan di salah satu toko barang antiknya. Gaun itu pas di tubuhnya, dan membuat kecantikannya yang tak lekang oleh waktu bersinar. Alex terperangah.
"Kau... terlihat sangat cantik, Eva," kata Alex, sedikit gagap.
"Terima kasih," jawab Eva, pipinya sedikit memerah. Itu adalah perasaan yang aneh, perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Makan malam berjalan dengan baik, setidaknya di awal. Mereka berbagi sepiring salmon bake yang lezat dan segelas anggur. Alex menceritakan lelucon-lelucon ringan, yang membuat Eva tertawa. Tawa yang tulus, yang berasal dari tempat yang sudah lama tidak ia sentuh.
Namun, perlahan-lahan, perbedaan waktu mereka mulai terasa.
Alex bertanya, "Apa hobi favoritmu, Eva?"
"Aku suka membaca. Dan... menari," jawab Eva.
"Menari apa? Kau terlihat seperti orang yang bisa menari dengan sangat baik."
"Dulu... waltz, cha-cha. Banyak hal," jawab Eva. Ia tidak menyebutkan bahwa ia pernah berdansa waltz dengan bangsawan-bangsawan di istana Wina, atau cha-cha dengan para prajurit di medan perang.
"Itu keren! Aku bisa mengajarimu menari modern. Kau bisa twerk," kata Alex, lalu ia menunjukkan gerakan yang aneh dan membuat Eva terperangah.
"Apa itu?" tanya Eva, matanya melebar.
"Itu twerking, Eva. Kau harus tahu itu. Itu hal yang keren di era sekarang!" Alex tertawa, tidak menyadari betapa jauhnya era Eva dari era kekinian.
Eva tertawa canggung. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi hal itu.
Alex kemudian mencoba bertanya tentang masa lalu Eva, dengan lebih hati-hati. "Kau tidak pernah menceritakan banyak tentang dirimu, Eva. Aku tahu itu mungkin hal yang terlalu pribadi, tapi... aku penasaran. Apa yang membuatmu datang ke Alaska?"
Eva menghela napas. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. "Aku... mencari ketenangan," jawabnya, jawaban yang sudah ia siapkan selama bertahun-tahun. "Aku sudah melihat banyak hal, dan aku lelah. Aku ingin tempat yang damai."
"Oh," jawab Alex, mengangguk-angguk. "Itu masuk akal. Alaska memang tempat yang sempurna untuk itu."
Lalu Alex mulai berbicara tentang rencana masa depannya. "Aku ingin membuka galeri seniku sendiri. Aku ingin melukis hingga tua. Mungkin punya keluarga di sini, di Talkeetna. Aku ingin menjadi bagian dari tempat ini."
Eva mendengarkan, senyumnya memudar. Ia melihat Alex, dengan semua impian dan harapannya, dan ia tahu, impian-impian itu akan terwujud. Alex akan menua, ia akan punya keluarga, dan ia akan meninggalkan warisan. Sementara ia, akan tetap sama. Ia akan melihat semua itu terjadi, dan suatu hari, ia akan melihat Alex pergi.
Rasa sedih yang sudah terlalu familiar itu kembali menyelimutinya. Ini adalah alasan mengapa ia selalu menjaga jarak. Ia takut pada perasaan ini. Ia takut pada kebahagiaan yang fana, yang akan selalu berakhir dengan perpisahan.
Melihat perubahan ekspresi Eva, Alex bertanya, "Ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Eva menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawabnya, suaranya pelan. "Hanya saja... aku berpikir tentang waktu. Bahwa waktu sangat cepat berlalu."
Alex mengangguk, mengira itu adalah ungkapan filosofis dari wanita yang bijaksana. Ia tidak tahu bahwa bagi Eva, itu adalah sebuah pernyataan tentang kebenaran yang kejam.
Setelah makan malam, Alex mengantar Eva pulang. Di depan pondok Eva, salju kembali turun, menutupi jejak-jejak yang mereka buat. Alex mencium pipi Eva, ciuman yang lembut dan penuh perhatian. "Terima kasih, Eva. Malam ini sangat menyenangkan."
Eva tersenyum. "Terima kasih, Alex."
Saat Alex pergi, mobil pikapnya menghilang di balik kegelapan malam, Eva masuk ke dalam pondoknya. Ia tidak lagi merasakan kehangatan yang tadi ia rasakan. Yang ada hanyalah dingin. Dinginnya keabadian. Ia tahu, kencan ini adalah sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan yang akan membuatnya merasakan sakit lagi. Namun, ia juga tahu, ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri. Ia terlalu lelah untuk sendirian. Ia butuh kehangatan, meskipun ia tahu, kehangatan itu akan selalu berujung pada dingin.
