Malam pertama di apartemennya terasa sunyi, dingin, dan kosong. Lev mencoba tidur, namun matanya tak mau terpejam. Ia merindukan suara jangkrik di malam hari, aroma melati yang biasa menyelinap dari jendela kamar, dan yang paling ia rindukan, keberadaan Vania di sisinya. Setiap sudut apartemen ini terasa asing. Ia memandang foto Vania, dan sebuah air mata jatuh. Ia merindukan Vania, sangat merindukannya.
Keesokan paginya, Lev bangun dengan perasaan lesu. Setelah menunaikan salat subuh, ia memutuskan untuk mencari sarapan. Ia teringat percakapannya dengan Anatasya tentang makanan halal. Ia harus berhati-hati dalam memilih makanan. Sembari berjalan, ia melihat sebuah toko roti. Aroma roti yang baru keluar dari oven sangat menggoda. Lev ragu sejenak, lalu ia masuk.
Di dalam toko, ia melihat berbagai macam roti dan kue yang indah. Ia melihat sebuah donat dengan taburan meses cokelat. Donat itu mengingatkannya pada Anatasya. Lev tersenyum kecil, lalu memesan donat dan teh hangat. Ketika ia membayar, ia terkejut melihat harganya. "Sangat mahal!" batinnya. Ia membandingkan dengan harga donat di Banjarmasin yang jauh lebih murah. Ia merasa menyesal.
Saat ia sedang menikmati donat dan tehnya, ia mendengar suara "Meow". Ia menoleh, dan melihat seekor kucing garong dengan bulu cokelat kehitaman menatapnya. Kucing itu tampak kelaparan. Lev merasa iba. Ia teringat Vania yang sangat menyayangi kucing. Ia mengambil sepotong donat, dan memberikannya kepada kucing itu. Kucing itu melahap donat dengan cepat.
"Meow," suara kucing itu lagi, seolah meminta lebih.
Lev tersenyum. Ia memberikan sisa donatnya kepada kucing itu. Kucing itu merasa senang, lalu mengusap-usapkan badannya di kaki Lev. Lev mengelus kepala kucing itu, dan ia merasa sedikit terhibur. Ia merasa tidak begitu sendirian lagi.
Setelah selesai sarapan, Lev kembali ke apartemennya. Ia melihat Anatasya sudah menunggu di depan pintu. "Selamat pagi, Lev!" sapa Anatasya dengan ceria.
"Pagi, Anatasya," jawab Lev.
"Tumben sudah rapi. Kamu sudah sarapan?" tanya Anatasya.
"Sudah," jawab Lev. "Aku tadi ke toko roti."
"Enak, kan donatnya?" tanya Anatasya.
Lev tersenyum kecut. "Enak, tapi... mahal sekali."
Anatasya tertawa terbahak-bahak. "Memang begitu, Lev. Di sini semuanya mahal. Tapi, jangan khawatir, lama-lama kamu akan terbiasa."
Mereka berjalan menuju perpustakaan. Sepanjang jalan, Anatasya menceritakan tentang kota Stockholm, tentang tempat-tempat wisata, tentang makanan lokal, dan tentang budaya Swedia. Lev mendengarkan dengan saksama. Ia merasa pengetahuan Anatasya sangat luas.
"Kamu sudah pernah ke mana saja di sini?" tanya Anatasya.
"Baru ke toko kebab dan toko roti," jawab Lev malu-malu.
Anatasya tertawa lagi. "Kalau begitu, pulang kerja nanti, kita keliling kota. Aku akan tunjukkan beberapa tempat yang menarik."
Lev mengangguk setuju. Ia merasa senang. Ia merasa hidupnya mulai kembali berwarna.
Di perpustakaan, mereka bekerja seperti biasa. Anatasya membantu Lev beradaptasi dengan sistem kerja di perpustakaan. Lev merasa kagum dengan cara Anatasya bekerja. Anatasya sangat profesional, namun tetap ramah dan ceria.
Saat jam pulang, Anatasya menepati janjinya. Ia mengajak Lev keliling kota. Mereka mengunjungi Gamla Stan, kota tua Stockholm yang indah. Bangunan-bangunan kuno, jalanan berbatu, dan suasana yang romantis membuat Lev terpesona.
"Vania pasti suka tempat ini," batin Lev. Ia merasa sedih, namun ia mencoba untuk menikmati keindahan kota ini.
Anatasya melihat ekspresi Lev. "Ada apa, Lev?"
"Tidak, tidak ada. Hanya... teringat seseorang," jawab Lev.
Anatasya tersenyum. "Tidak apa-apa, Lev. Kenangan akan selalu ada. Tapi, hidup harus terus berjalan."
Lev mengangguk. Kata-kata Anatasya terasa menenangkan. Ia merasa Anatasya adalah teman yang baik. Ia beruntung bisa bertemu dengan Anatasya.
Malam itu, saat Lev kembali ke apartemennya, ia melihat kucing garong yang tadi pagi. Kucing itu sudah menunggunya di depan pintu. Lev tersenyum. Ia mengambil sisa roti yang ia bawa dari toko roti, dan memberikannya kepada kucing itu. Kucing itu melahap roti itu dengan rakus.
Lev merasa senang. Ia merasa bahwa ia tidak sendirian di kota ini. Ia punya Anatasya, teman yang baik. Ia punya kucing garong, teman yang setia. Ia tidak lagi merasa kesepian. Ia tahu, ia harus terus berjuang untuk kebahagiaannya. Ia tidak akan menyerah.
