Kepanikan Vania tidak berlangsung lama. Suasana rumah yang penuh isak tangis tiba-tiba memudar, tergantikan oleh keheningan yang damai. Warna-warni dunia Banjarmasin—hijau pepohonan di tepi sungai, cokelat air Martapura, dan kerudung warna-warni para pelayat—semua meluruh menjadi cahaya keemasan yang menenangkan. Vania merasa seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat, menjauh dari rumah yang menjadi saksi bisu kehidupannya.
Ia tidak melayang di angkasa kota, tetapi di sebuah ruang yang terasa tak berbatas, sunyi, namun penuh cahaya. Di sinilah realitas alam barzakh dimulai.
Di hadapannya, muncul sesosok wujud. Bukan malaikat bersayap seperti dalam bayangannya, melainkan sosok yang memancarkan aura ketenangan luar biasa, mengenakan pakaian serba putih bersih, dengan wajah teduh yang sulit dideskripsikan. Vania secara naluriah tahu, inilah pemandunya.
"Assalamu’alaikum, Vania Larasati," sapa sosok itu dengan suara yang terdengar tidak melalui telinga, melainkan langsung di dalam hatinya.
"Wa’alaikumussalam... siapa Anda?" tanya Vania, masih diliputi kebingungan.
"Aku adalah penuntunmu di alam persinggahan ini. Alam Barzakh," jawab sosok itu, tersenyum lembut. "Dunia yang kau tinggalkan adalah masa lalu. Kehidupanmu yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Vania dilanda gelombang kesedihan baru. "Tapi... aku belum siap. Aku ingin kembali. Orang tuaku, Lev, mereka membutuhkanku! Aku melihat mereka menangis tersedu-sedu."
Pemandu roh itu menggeleng pelan. "Itu adalah tabir pertama yang harus kau terima, wahai jiwa yang tenang. Pintu dunia telah tertutup bagimu. Kau tidak bisa kembali, tidak bisa menyentuh, tidak bisa berbicara dengan mereka lagi, sampai hari kebangkitan tiba."
Hati Vania mencelos. Kenyataan ini lebih menyakitkan daripada penyakit yang merenggut nyawanya. "Jadi... aku hanya akan diam di sini selamanya? Melihat mereka menderita karena kepergianku?"
"Tidak diam," koreksi pemandu itu. "Kau akan menjalani kehidupan di sini, di barzakh. Dan kau tetap terhubung dengan mereka, melalui cara yang berbeda, cara yang Islami."
Vania menatap pemandu itu penuh harap. "Cara apa?"
"Doa dan amal shaleh. Itulah satu-satunya jembatanmu ke dunia. Mereka mengirimkan cahaya untukmu, dan kau bisa 'melihat' keadaan mereka melalui cahaya iman yang mereka pancarkan."
Konsep ini terasa asing bagi Vania. Dia terbiasa dengan interaksi fisik, pelukan hangat, dan tawa renyah. Kini, cintanya harus diukur dalam bentuk spiritualitas murni.
Pemandu roh kemudian membuka semacam tirai spiritual, dan Vania melihat kilasan dari rumahnya di Banjarmasin lagi. Kali ini, pandangannya berbeda. Tidak lagi hanya gambar visual, tetapi disertai perasaan—perasaan duka yang tulus dari Bu Fatma, keikhlasan yang kuat dari Pak Arifin, dan... rasa kehilangan yang amat sangat dari Lev Ryley.
"Lihatlah," ujar pemandu itu. "Duka mereka nyata, tetapi iman mereka juga nyata. Mereka mengikhlaskanmu karena mereka tahu ini adalah ketetapan-Nya. Tugasmu sekarang adalah berdamai dengan status barumu, dan menemukan ketenangan di sini."
Vania mencoba fokus pada Lev. Pria tampan itu sedang duduk termenung di musala rumah, memegang tasbih. Walaupun wajahnya sembab, ada keteguhan di matanya. Dia sedang berdoa untuk Vania. Saat doa itu terucap, Vania merasakan semacam kehangatan menyelimuti rohnya.
"Itu adalah hadiah dari Lev untukmu," kata pemandu itu lembut.
Vania mulai mengerti. Meskipun dia terasing dari dunia fisik, dia tidak sepenuhnya terputus. Realitas alam barzakh mengajarkan Vania sebuah pelajaran fundamental: kehidupan setelah mati bukanlah akhir dari koneksi, melainkan ujian keimanan baru bagi yang hidup dan yang telah pergi. Rohnya, Vania Larasati, yang dulunya guru cantik idola di Banjarmasin, kini hanyalah jiwa yang rapuh yang harus belajar menavigasi alam baru ini.
"Aku mengerti," bisik Vania, air mata spiritual mengalir dari matanya. "Tolong ajari aku cara melihat mereka lagi. Aku ingin tahu mereka baik-baik saja."
Pemandu itu tersenyum. "Mari kita mulai perjalananmu, Vania. Petualanganmu yang sesungguhnya baru saja dimulai, sebuah petualangan tanpa raga, di tanah Banjar yang kini hanya bisa kau pandang dari kejauhan."
