Alarm subuh berbunyi nyaring. Pukul 03.30 WITA, rumah kontrakan Lev sudah sibuk seperti bandara menjelang peak season. Mobil sewaan jenis MPV berwarna silver sudah terparkir di depan rumah, siap menelan lima koper dan tiga penumpang.
Lev mengecek ban mobil dengan senter kecil, sementara Anindya memastikan kompor dan keran air tertutup rapat. Aisyah? Dia masih pulas di kursi belakang mobil, terbungkus selimut motif Tayo bus kesayangannya, tidak terganggu sedikit pun oleh keributan persiapan dini hari.
"Sudah semua, Mas?" tanya Anindya sambil mengunci pintu rumah untuk terakhir kalinya.
"Insya Allah beres. Kunci sudah dititipkan ke Pak RT sebelah," jawab Lev, memasukkan tas ransel berisi dokumen penting ke jok depan. "Sekarang, kita ke rumah Umi dulu. Pamit."
Rumah Umi, ibunda Lev, terletak tak jauh dari sana, masih di area padat penduduk di pinggiran Sungai Jingah. Suasana subuh di sana terasa damai. Lampu teras rumah kayu yang khas masih menyala temaram.
Umi menyambut kedatangan mereka dengan wajah haru. Beliau sudah menyiapkan sarapan ringan: kue bingka kentang dan teh manis hangat, penganan wajib khas Banjar untuk mengawali hari.
"Kalian ini, Subuh-subuh sudah repot," ujar Umi lembut, mengelus pipi Lev. "Nggak sarapan dulu?"
"Nanti di jalan aja, Umi. Kita mau ngejar waktu, habis Subuh langsung jalan ke Martapura, biar nggak macet di jalan A Yani," jelas Lev.
Mereka duduk sebentar di ruang tamu. Umi menatap cucunya yang masih tidur nyenyak di gendongan Anindya. "Aisyah pasti senang jalan-jalan jauh ya, Nindya?"
"Insya Allah, Umi. Doakan kami selamat sampai tujuan, lancar ziarahnya, dan kembali dengan selamat," pinta Anindya, mencium punggung tangan mertuanya.
Umi mengangguk, matanya berkaca-kaca. Beliau memeluk Anindya erat, lalu beralih memeluk Lev, anak sulungnya.
"Nazar itu baik, Nak. Allah suka hamba-Nya yang bersyukur dan menepati janji. Perjalanan kalian ini niatnya baik, mencari berkah, menyambung silaturahmi dengan para aulia yang sudah mendahului kita," ujar Umi dengan suara bergetar. "Tapi ingat, di jalan itu banyak godaan. Jaga kesehatan Aisyah, jaga emosi kalian berdua. Jangan lupa salat di awal waktu, di manapun kalian berada."
Wejangan Umi meresap ke hati Lev dan Anindya. Momen pamitan selalu menjadi pengingat bahwa di balik petualangan seru, ada keluarga yang menanti kepulangan dengan doa.
Setelah sarapan bingka singkat dan bertukar pelukan hangat, mereka meminta restu sekali lagi. Umi memercikkan sedikit air putih yang sudah didoakan ke mobil mereka, sebuah tradisi lokal untuk memohon keselamatan dalam perjalanan.
"Hati-hati ya, Nak. Kabari Umi terus," pesan Umi saat mereka masuk ke mobil.
Mobil MPV silver melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Umi. Azan Subuh mulai bergema sahut-sahutan dari berbagai penjuru musala di Banjarmasin.
Anindya menoleh ke belakang, melambaikan tangan pada Umi yang masih berdiri di teras rumah, mengawasi hingga mobil mereka menghilang di tikungan jalan.
"Umi baik-baik ya di rumah," bisik Anindya.
Lev menyalakan mesin mobil. Di kursi belakang, Aisyah mulai menggeliat.
"Abi, kita mau ke mana?" tanya Aisyah dengan suara khas anak bangun tidur.
"Kita mau jalan-jalan cari berkah, Nak," jawab Lev sambil tersenyum, menyalakan lampu utama mobil.
Fajar mulai menyingsing, memancarkan semburat jingga di ufuk timur Sungai Martapura. Keluarga kecil itu resmi memulai perjalanan panjang mereka, membawa serta doa restu dari tanah Banjar, siap menapaki jejak para wali di Kalimantan dan Jawa. Babak pertama petualangan ziarah mereka telah dimulai.
