Minggu pagi adalah waktu favorit Vania. Cuaca cerah, udara sejuk, dan yang paling penting, tidak ada bebek yang mengejarnya. Ia memutuskan untuk mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan, salah satu ikon Banjarmasin yang selalu ramai di akhir pekan. Pasar ini menawarkan pemandangan unik, di mana para pedagang menjajakan dagangan mereka, mulai dari sayur-mayur hingga kue-kue tradisional, dari atas perahu jukung.
Vania mengenakan atasan tunik berwarna cerah dan rok panjang, dipadukan dengan jilbab yang sederhana. Ia membawa kamera saku, berniat mengabadikan momen-momen indah di pasar. Di tengah keramaian, ia menyusuri setiap perahu, matanya berbinar melihat berbagai macam jajanan khas Banjar.
"Kak, cobain kue cincinnya! Enak, Kak!" tawar seorang ibu dari atas perahunya.
Vania tersenyum. "Iya, Bu. Satu ya."
Sambil menunggu kue cincinnya dibungkus, Vania melihat seorang turis asing yang tampak kebingungan. Pria itu tinggi, dengan rambut pirang dan mata biru. Ia mencoba berkomunikasi dengan seorang pedagang, tapi sepertinya mereka tidak saling mengerti.
"Can I help you?" Vania menghampiri turis itu dengan senyum ramah.
Turis itu menoleh, wajahnya lega. "Oh, thank you! I'm trying to buy this, but I don't know how to say it." Turis itu menunjuk ke arah kue-kue di perahu.
"Oh, you want wadai kararaban? Here, I'll help you." Vania dengan lancar berbicara dalam bahasa Inggris, membantu turis itu memilih kue-kue yang ia inginkan.
Setelah selesai, turis itu berterima kasih. "You are very kind. What's your name?"
"Vania. My name is Vania," jawab Vania. "Enjoy the market!"
Vania melanjutkan perjalanannya. Ia merasa senang bisa membantu. Ia memang suka berinteraksi dengan orang-orang baru. Setelah puas berbelanja, ia memutuskan untuk mencari minuman. Matanya tertuju pada sebuah perahu yang menjual es kelapa muda.
"Bu, satu es kelapa mudanya!" pesan Vania.
Saat ia sedang menunggu, seorang pria tinggi berdiri di dekatnya. Pria itu tampak familiar, tapi Vania tidak bisa mengingat di mana ia pernah melihatnya. Pria itu mengenakan kemeja berwarna navy dan celana kain. Aura kalemnya mengingatkan Vania pada seseorang.
"Nih, neng, es kelapa mudanya," ujar ibu pedagang.
Vania mengambil gelas es kelapa muda itu. Ia hendak berbalik, tapi tiba-tiba sebuah perahu lain menabrak perahu si ibu. Perahu itu oleng. Tanpa sengaja, Vania menumpahkan es kelapa muda itu ke punggung pria di depannya.
"Astaga!" Vania terkejut.
Pria itu juga terkejut. Ia berbalik, dan Vania terdiam kaku. Pria itu adalah pria misterius yang menolongnya saat dikejar bebek. Vania nyaris pingsan di tempat.
"Maaf! Maaf sekali! Saya tidak sengaja!" Vania merasa sangat malu. Wajahnya memerah.
Pria itu tersenyum. "Tidak apa-apa. Ini cuma es kelapa muda."
"Tapi... tapi baju Anda basah," Vania menatap noda es kelapa muda di kemeja navy pria itu. "Biar saya ganti."
Pria itu menggeleng. "Tidak usah. Kebetulan saya bawa baju ganti."
"Sungguh, saya minta maaf," Vania masih merasa bersalah. Ia bahkan tidak berani menatap mata pria itu. "Saya Vania."
"Saya Lev," pria itu tersenyum, lesung pipinya terlihat samar. "Senang bertemu lagi, Ratu Bebek."
Vania melongo. Pria itu mengingatnya! Pria itu masih mengingatnya sebagai 'Ratu Bebek'.
"Itu... bukan nama saya..." Vania terbata-bata.
Lev tertawa. "Saya tahu. Tapi itu kenangan yang manis. Saya permisi dulu. Sampai jumpa."
Lev berjalan pergi, meninggalkan Vania yang masih berdiri mematung dengan gelas es kelapa muda yang kosong. Jantung Vania berdebar kencang. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria itu, apalagi dengan cara yang sememalukan ini.
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini," gumam Vania. "Pertama bebek, sekarang es kelapa muda. Apakah saya harus menghindari pria ini?"
Vania merenung. Ia merasa malu, tapi di sisi lain, ia juga merasa senang. Lev tidak marah, bahkan tertawa. Ia kembali ke kafe tempat ia biasa nongkrong, kali ini sendirian, untuk menenangkan diri. Ia mengirim pesan ke grup WhatsApp mereka.
Vania: "Guys... aku ketemu lagi sama pahlawan bebek itu."
Mia: "DIMANA?! DIA GANTENG GAK?! DIA UDAH PUNYA PACAR BELUM?! APAKAH KAMU KEMBALI DIKEJAR BEBEK?!"
Vania: "Tidak. Aku cuma menumpahkan es kelapa muda ke bajunya..."
Seketika, notifikasi Mia hening. Vania tahu, Mia sedang mengetik sesuatu yang akan membuat hidupnya semakin rumit.
Vania hanya bisa menghela napas. Ia menatap ke luar jendela, memandang Sungai Martapura yang mengalir tenang. Entah kenapa, ia merasa hidupnya tidak akan pernah tenang lagi sejak bertemu pria bernama Lev Ryley itu. Ia tidak tahu, apakah ini takdir, atau sekadar lelucon semesta.
