Udara Barabai di awal bulan Juli masih terasa sejuk, meskipun matahari sudah mengintip malu-malu di balik Pegunungan Meratus. Di sebuah rumah dinas tipe 45 yang sederhana namun asri di Komplek PNS Harmoni Indah, denyut kehidupan keluarga Muhammad Hifni baru saja dimulai—atau lebih tepatnya, sudah mencapai puncaknya.
Pukul 06.00 WITA. Jam weker digital milik Hifni, yang disetel dengan suara azan subuh merdu dari Makkah, sudah lima kali menjeritkan panggilannya. Namun, sang pemiliknya, Muhammad Hifni (30), seorang PNS di Dinas Tata Ruang Kabupaten Hulu Sungai Tengah, masih bergulat dengan mimpinya. Selimut motif kotak-kotak warisan pernikahan mereka dua tahun lalu, menjadi benteng terakhir pertahanannya dari realitas pagi hari.
Di sisi lain ranjang, Rina Rufida (30), istrinya yang energik dan seorang PNS guru Bahasa Inggris di salah satu SMP favorit di Barabai, sudah bangkit sejak azan subuh pertama. Mengenakan mukena putih bersih, ia sudah selesai dengan salat Subuh berjamaah yang hanya diimami oleh tiang listrik karena sang imam utama (Hifni) masih istiqomah di alam mimpi.
Rina melipat mukenanya dengan cekatan, lalu melirik suaminya. Napas Hifni teratur, ada sedikit dengkuran halus yang terdengar seperti dengkuran kucing kekenyangan. Rina tersenyum geli. Hifni memang suaminya yang paling baik hati, rajin menabung, dan—sayangnya—paling sulit bangun pagi.
"Abi, bangun. The sun is shining bright," Rina mencoba cara diplomatis, menggunakan bahasa Inggris kesayangannya. Tidak mempan.
"Hifni, bangun! Nanti telat apel pagi!" Kali ini nada suaranya lebih tegas, ala guru sedang menagih PR.
Hifni menggeliat. Matanya terbuka sedikit, lalu mengerjap beberapa kali. "Astaghfirullah, sudah pagi, Ummi?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Subuh tadi sudah lewat satu jam yang lalu, Bi," jawab Rina sambil menata bantal. "Kamu mandi dulu sana, aku siapkan sarapan."
Hifni segera meloncat dari kasur, rasa kantuknya lenyap digantikan kepanikan khas PNS yang takut terlambat absen sidik jari. Di kantor pemerintahan Barabai, keterlambatan semenit saja bisa berarti pemotongan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) yang lumayan menyakitkan di akhir bulan.
"Khalisa sudah bangun, Ummi?" tanya Hifni sambil berlari ke kamar mandi.
"Sudah, lagi main sama boneka sapi kesayangannya di ruang tengah," sahut Rina dari dapur.
Khalisa Salsabila, putri semata wayang mereka yang berumur lima tahun—seorang anak perempuan yang dikhususkan Allah, suci laksana mata air surga—sedang asyik berbicara sendiri dengan boneka sapinya yang sudah agak lusuh. Pagi hari di rumah itu selalu penuh dialog imajiner Khalisa.
"Sapi, nanti kita makan nasi goreng Ummi ya. Enak sekali, yummy!" celoteh Khalisa dengan logat Banjar yang kental tapi dicampur kosakata Inggris dasar yang diajarkan ibunya.
Di dapur, Rina dengan lincah menyiapkan nasi goreng kampung dengan irisan sosis dan kerupuk. Aroma bawang putih dan cabai yang digoreng mulai memenuhi ruangan, mengalahkan aroma sabun mandi Hifni yang baru saja selesai mandi kilat.
Hifni keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya masih basah kuyup. Dia menuju lemari pakaiannya, mencari seragam khaki PNS yang sudah rapi tergantung. Sambil mengenakan baju, ia bersenandung kecil, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih kencang karena drama bangun tidur.
"Abi, minum teh hangatnya dulu," panggil Rina.
Mereka berkumpul di meja makan sederhana di sudut dapur. Hifni memimpin doa makan dengan khidmat, rutinitas pagi yang tak pernah mereka lewatkan.
"Amin," tutup Hifni. Ia mulai menyendok nasi gorengnya dengan lahap.
"Abi, nanti sepulang kantor tolong belikan gas LPG melon yang hijau ya," pinta Rina di sela kunyahan nasinya. "Stok di dapur sudah habis, tadi pagi Ummi masak pakai sisa-sisa api."
Hifni mengangguk patuh. Di rumah ini, meskipun Hifni kepala keluarga, urusan logistik dan manajemen rumah tangga seringkali dipegang penuh oleh Rina yang lebih terorganisir.
"Siap, Ummi. Nanti Abi mampir ke warung Haji Saleh," jawab Hifni.
Tiba-tiba, Khalisa menyela dengan wajah serius. "Abi, kalau gas habis, kenapa tidak telepon pemadam kebakaran?"
Hifni dan Rina saling pandang, lalu tertawa renyah. Logika anak lima tahun memang selalu ajaib.
"Bukan api kebakaran, Nak, tapi api kompor yang kecil," jelas Hifni lembut.
"Ooh," Khalisa mengangguk-angguk paham. "Tapi sapi bilang, kalau Abi telat terus, nanti gajinya dipotong."
Skakmat. Hifni tersedak teh hangatnya. Ia menatap Rina, yang hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Rupanya, Rina sering menggunakan ancaman pemotongan gaji PNS sebagai dongeng pengantar tidur untuk Khalisa.
Waktu menunjukkan pukul 07.15 WITA. Hifni segera menghabiskan sarapannya. Ia mengenakan sepatu pantofel hitamnya, merapikan peci hitam di kepala, dan menyambar kunci motor maticnya. Rina menyiapkan tas kerja dan bekal makan siang Hifni—sebagai upaya penghematan dan hidup sehat ala keluarga Islami.
"Assalamu’alaikum, Ummi, Khalisa. Abi berangkat dulu ya," pamit Hifni, mencium kening Rina dan pipi Khalisa.
"Wa’alaikumussalam Warahmatullah," jawab Rina dan Khalisa serempak.
Rina mengantar Hifni sampai ke teras. Motor Hifni menderu pelan, meninggalkan kepulan asap tipis di pagi Barabai yang cerah.
"Hati-hati di jalan, Bi! Jangan ngebut!" teriak Rina.
Hifni mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.
Setelah Hifni berangkat, suasana rumah sedikit lebih tenang. Rina segera membereskan meja makan, lalu membantu Khalisa bersiap-siap untuk dititipkan di penitipan anak Muslimah di dekat sekolah Rina.
Pagi yang riuh sudah berlalu. Hari baru di Barabai telah dimulai untuk keluarga PNS sederhana ini, siap menghadapi drama, komedi, dan berkah yang menanti di setiap sudut kota kecil yang damai ini. Kehidupan mereka mungkin jauh dari hingar bingar ibu kota, tapi di sinilah harmoni dan kebahagiaan sejati mereka temukan.
