Bab 8: Kencan yang Tidak Sengaja

Bab 8: Kencan yang Tidak Sengaja

Lev
0

Setelah insiden kopi yang kedua yang lebih terkendali berkat Lev Anatasya merasa ada semacam gencatan senjata yang tidak diucapkan antara dirinya dan pria di Sudut Rak. Mereka tidak lagi saling menghindari, tetapi juga tidak secara sengaja memulai interaksi. Keadaan ini, yang bagi orang lain mungkin terasa canggung, justru terasa menenangkan bagi Anatasya. Ia merasa Lev telah melihat sisi paling ceroboh dari dirinya, dan itu membuat ia tidak perlu lagi berpura-pura.

Hari itu, Stockholm diselimuti salju tebal yang turun semalaman. Perpustakaan menjadi tempat yang paling nyaman dan hangat. Anatasya menikmati ketenangan itu, mengurus buku-buku yang baru datang. Tumpukan buku itu kali ini lebih banyak dari biasanya. Ada beberapa buku yang harus dipindahkan ke rak di lantai atas, yang jarang dikunjungi. Anatasya mengambil troli, dan mulai mengisi buku-buku.

Tiba-tiba, ia melihat Lev Ryley berdiri di sampingnya. Ia tidak lagi duduk di Sudut Rak. Ia berdiri, dengan jaket tebal yang ia kenakan, seolah ia baru saja datang atau akan pergi.

"Kau akan membawa semua itu sendirian?" tanya Lev, suaranya tenang.

Anatasya merasa terkejut. Ia tidak menyangka Lev akan memulai percakapan. "Ya," kata Anatasya. "Aku... aku bisa mengatasinya."

"Aku bisa membantumu," kata Lev, dengan nada yang tidak meminta persetujuan.

Anatasya merasa sedikit gugup. "Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu."

"Kau sudah cukup merepotkan dengan tingkahmu yang jatuh dan menumpahkan kopi," kata Lev, sedikit tersenyum. Bukan senyum geli, tetapi senyum yang ramah. "Lagipula, aku tidak punya sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan."

Anatasya tidak bisa menolak lagi. Ia merasa terlalu malu untuk menolak. "Baiklah," kata Anatasya. "Terima kasih."

Mereka berdua mulai mendorong troli buku, naik ke lantai atas. Lantai atas perpustakaan itu gelap dan dingin. Lev Ryley menyalakan lampu, dan cahaya lampu yang redup menerangi lorong-lorong rak buku yang berdebu.

"Di sini jarang ada orang," kata Anatasya, memecah keheningan. "Terlalu dingin."

"Aku suka dingin," kata Lev, singkat.

Mereka menyusun buku-buku dengan tenang. Anatasya merasa ada ketenangan yang aneh di samping Lev. Pria itu tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa menenangkan.

Setelah semua buku tersusun rapi, Anatasya merasa lelah. Ia menghela napas, lalu menatap Lev. "Terima kasih banyak. Kau sangat membantu."

"Sama-sama," kata Lev.

Mereka berdua berjalan kembali ke lantai bawah. Saat mereka sampai di lantai bawah, Gunilla melihat mereka. Ia tersenyum, dengan pandangan yang penuh arti. Anatasya merasa pipinya memanas.

"Kerja bagus," kata Gunilla, dengan nada yang menggoda.
Anatasya merasa malu. "Kami hanya... menyusun buku."
Gunilla tertawa. "Ya, tentu saja. Menyusun buku."

Lev Ryley tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya kembali ke Sudut Raknya.

Sore itu, Anatasya sedang membereskan mejanya, bersiap untuk pulang. Tiba-tiba, ia melihat sebuah catatan kecil di atas mejanya. Catatan itu dari Lev Ryley.

"Aku suka teh. Tapi bukan teh yang tumpah. Sampai jumpa besok."

Anatasya tersenyum. Ia merasa ini adalah kencan yang tidak disengaja. Kencan yang dimulai dengan tumpahan kopi, kencan yang dilanjutkan dengan menyusun buku-buku, dan kencan yang berakhir dengan catatan kecil yang manis.

Anatasya merasa hatinya berdebar. Ia merasa hidupnya tidak lagi tentang buku yang tersusun rapi. Hidupnya kini tentang tawa, tumpahan, dan catatan kecil yang tidak disengaja.
Ia tahu, ini adalah awal dari kekacauan yang lebih besar. Dan kali ini, ia tidak takut. Ia merasa... siap.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default