BAB 1: Gerbang Kayutangi dan Aroma Harapan

BAB 1: Gerbang Kayutangi dan Aroma Harapan

Lev
0
Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.

Agustus 2013. Matahari Banjarmasin seolah berada tepat dua jengkal di atas kepala. Sinar surya memantul di aspal panas Jalan Brigjen H. Hasan Basri—atau yang lebih akrab disebut kawasan Kayutangi oleh warga setempat. Bagi mahasiswi baru, kawasan ini adalah gerbang masa depan, sekaligus medan tempur pertama di tanah perantauan.

Rina Rufida menyeka keringat yang membasahi dahi di balik jilbab lebarnya. Gadis asal Puruk Cahu, Kalimantan Tengah itu, berdiri terpaku di depan sebuah gerbang kayu bertuliskan "Kos Muslimah Shaliha". Di tangan kanannya, ia memegang selembar kertas alamat yang sudah lecek, dan di punggungnya, sebuah tas carrier 60 liter tampak ingin merobek pundaknya.

"Bismillah... Mudahan betah," gumam Rina dengan logat Barito yang masih kental.

Baru saja ia hendak melangkah masuk, sebuah taksi kuning (angkot khas Banjarmasin) berhenti mendadak di depannya. Pintu belakang terbuka, dan seorang gadis dengan wajah panik keluar sambil membawa tumpukan ember, rak piring plastik, dan sebuah bantal bermotif bunga.

"Aduh, aduh! Stop Mang! Hadang dahulu!" seru gadis itu.
Karena terlalu terburu-buru, salah satu embernya terjatuh dan menggelinding tepat ke arah kaki Rina. Rina sigap menangkapnya.

"Eh, maaf, maaf banar! Ulun (saya) gupuh (terburu-buru) tadi," ujar gadis itu sambil meringis. Ia memiliki wajah khas urang Hulu Sungai, berkulit bersih dengan senyum yang ramah. "Kenalkan, ulun Dina dari Amuntai. Pian (anda) anak baru juga?"

Rina tersenyum, rasa tegangnya sedikit mencair. "Iya, aku Rina dari Puruk Cahu. Jurusan Bahasa Inggris di FKIP."

"Wah, ulun di Perawat Gigi! Ayo masuk, mudahan kita sekamar!" ajak Dina penuh semangat.

Di dalam kos, suasana sudah mulai ramai. Ternyata, tak hanya mereka berdua. Di ruang tengah yang beralaskan karpet hijau, tiga gadis lain sudah lebih dulu "menguasai" wilayah.

Ada Eva Putri Mylin, gadis dari Barabai yang tampak sibuk menancapkan kabel charger laptop ke saklar. Di sampingnya, tumpukan buku algoritma sudah tertata rapi. Eva adalah tipe gadis "tenang-tenang menghanyutkan".

"Sini duduk, istirahat dulu. Aku Eva dari Barabai," sapanya singkat tanpa melepas pandangan dari layar laptop—sebuah pemandangan langka di tahun 2013 melihat mahasiswi baru sudah seakrab itu dengan teknologi.

Lalu muncul Abdalia Ulfah dari arah dapur kecil. Bau harum terasi dan ikan haruan goreng langsung memenuhi ruangan. Gadis asal Kandangan ini membawa nampan berisi teh manis hangat.

"Ayo diminum dulu. Tadi aku masak sedikit, ada mandai juga kalau mau. Kita makan sama-sama ya," ujar Abdalia dengan nada bicara yang lembut dan keibuan. Sifat penyabarnya langsung terasa, mencerminkan sosok calon guru SD yang ideal.

Terakhir, seorang gadis duduk di pojok dekat jendela sambil memegang buku catatan kecil. Ia adalah Fatimah dari Pelaihari. Berbeda dengan yang lain yang sibuk beres-beres, Fatimah justru tampak sedang memperhatikan aliran sungai kecil di depan kos.

"Banjarmasin ini indah ya," ucap Fatimah tiba-tiba dengan nada puitis. "Sungainya bicara tentang perjuangan. Oh iya, namaku Fatimah. Bahasa Indonesia adalah duniaku."

Pertemuan di hari pertama itu terasa ajaib. Lima gadis, dari lima kabupaten berbeda, dengan lima karakter yang bertolak belakang, kini berkumpul di bawah satu atap kos yang sama.

Tahun 2013 bukan hanya tentang tren smartphone yang mulai menjamur atau musik pop yang diputar di radio-radio lokal. Bagi mereka, ini adalah tahun dimulainya jihad menuntut ilmu. Di kamar kos yang sempit itu, mereka mulai berbagi cerita. Rina dengan ambisinya menguasai bahasa internasional, Dina dengan ketakutannya pada praktikum gigi, Eva dengan dunianya yang biner, Abdalia dengan ketulusannya ingin mendidik anak bangsa, dan Fatimah yang ingin melestarikan sastra.

Malam itu, mereka shalat Maghrib berjamaah untuk pertama kalinya di ruang tengah yang sempit. Abdalia menjadi makmum yang paling khusyuk, sementara Rina berdoa paling lama, memohon agar ia bisa membanggakan orang tuanya di pedalaman Kalimantan Tengah.

Mereka belum tahu, bahwa setelah malam ini, akan ada ratusan piring mi instan yang mereka bagi berlima, ribuan tawa saat menaiki kelotok, dan air mata yang tumpah saat rindu rumah melanda.

Selamat datang di Banjarmasin. Kota Seribu Sungai ini siap menjadi saksi bisu perjuangan mereka.

Insight untuk Pembaca
:
Latar Tempat: Kawasan Kayutangi (Jalan Hasan Basri) adalah pusat pendidikan di Banjarmasin, rumah bagi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan berbagai kampus swasta ternama.

Kearifan Lokal: Mandai (kulit cempedak goreng) dan Ikan Haruan adalah kuliner wajib bagi masyarakat Banjar.

Transportasi: Tahun 2013, Angkot Kuning masih menjadi primadona transportasi mahasiswa sebelum era ojek online menjamur.

Lanjut ke Bab 2: Suka Duka Kamar Nomor 5...

Dukung terus penulis lokal dengan membagikan kisah ini di media sosial Anda!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default