Bab 11: Nil dan Perahu

Bab 11: Nil dan Perahu

Lev
0

Pagi di Kairo terasa lebih sejuk. Lev, Khadijah, Fatimah, dan Aisyah sudah berkumpul di dermaga, menunggu perahu yang akan membawa mereka menyusuri Sungai Nil. Sungai Nil, yang telah menjadi saksi bisu ribuan tahun peradaban, tampak tenang dan damai, membelah Kairo menjadi dua sisi yang berbeda.

"Aku selalu suka di sini," kata Fatimah, memandang sungai dengan tatapan melankolis. "Sungai ini seperti nadi kehidupan bagi Mesir. Ada banyak cerita yang mengalir di sini."

"Benar," timpal Khadijah. "Dan di sepanjang sungai ini, ada banyak sejarah yang bisa kita pelajari."

Aisyah, yang sudah siap dengan kameranya, langsung bertanya. "Ada mitos-mitos tentang Sungai Nil, Fatimah?"

Fatimah tersenyum. "Banyak. Tapi yang paling penting, sungai ini adalah anugerah. Tanpa sungai ini, Mesir tidak akan menjadi Mesir."

Perahu yang mereka tumpangi tidak besar, hanya sebuah perahu kayu tradisional yang dikemudikan oleh seorang pria tua yang ramah. Mereka berempat duduk di bangku kayu, menikmati pemandangan di sepanjang sungai. Lev, yang jarang melihat sungai sebesar ini di Banjarmasin, merasa takjub. Sungai Martapura yang ia kenal terasa kecil dibandingkan dengan Nil.

"Indah sekali," bisik Lev, takjub.

"Indah, kan?" kata Khadijah, tersenyum. "Di sini, kita bisa melihat sisi lain dari Kairo. Jauh dari kemacetan, lebih dekat dengan alam."

Dalam perjalanan, mereka berbincang dari hati ke hati. Mereka tidak lagi berbicara tentang arsitektur, sejarah, atau konten vlog. Mereka berbicara tentang impian, ketakutan, dan masa depan.

"Aku... kadang merasa takut," kata Aisyah, suaranya pelan. "Aku takut kalau nanti konten-kontenku tidak ada yang suka lagi. Aku takut kalau nanti aku tidak bisa menghasilkan uang lagi dari media sosial."

"Aisyah, kamu punya bakat. Kamu juga punya semangat," kata Khadijah, menenangkan. "Selama kamu tulus, pasti akan ada orang yang menghargai karyamu."

Fatimah menambahkan, "Dan kalau nanti kamu berhenti, kamu tetap punya kami. Teman-temanmu."

Aisyah tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia merasa bersyukur memiliki teman-teman yang begitu peduli.

Khadijah kemudian menceritakan tentang perjalanannya menempuh pendidikan PhD di luar negeri. "Tidak mudah. Ada banyak tantangan. Tapi aku percaya, ilmu itu tidak ada batasnya. Selama kita mau belajar, kita akan selalu tumbuh."

"Aku ingin menjadi seperti kamu, Khadijah," kata Aisyah, kagum.

"Kamu sudah menjadi dirimu sendiri, Aisyah," jawab Khadijah. "Itu yang paling penting."

Fatimah, yang biasanya kritis, kali ini berbicara dari hati. "Aku... aku takut kalau tulisanku tidak bisa membuat perubahan. Aku takut kalau nanti aku mati, tidak ada orang yang membaca tulisanku lagi."

Lev memandang Fatimah dengan simpati. "Fatimah, menulis itu tidak harus selalu tentang mengubah dunia. Menulis itu tentang mengungkapkan apa yang ada di hati. Dan aku yakin, tulisanmu akan menyentuh hati banyak orang."

Lev kemudian menceritakan tentang ketakutannya sendiri. "Aku... takut kalau nanti ilmu yang aku pelajari tidak bisa bermanfaat. Aku takut kalau nanti aku kembali ke Banjarmasin, aku tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa."

"Itu namanya tanggung jawab, Lev," kata Khadijah. "Rasa takut itu wajar. Tapi yang penting, kamu tidak menyerah."

"Kamu punya hati yang tulus, Lev," kata Fatimah. "Dengan hati yang tulus, kamu bisa melakukan banyak hal."

"Dan kamu konyol!" Aisyah menimpali. "Kekonyolanmu bisa membuat orang lain tertawa. Itu juga kontribusi!"

Lev tertawa. Ia merasa beban di hatinya sedikit terangkat. Di atas perahu di Sungai Nil, di tengah keheningan, mereka berbagi kisah-kisah yang jarang mereka ceritakan kepada orang lain. Mereka tidak lagi terikat oleh perbedaan, melainkan oleh persamaan: mereka semua adalah manusia yang penuh dengan impian, ketakutan, dan harapan.

Sore itu, mereka mengakhiri perjalanan menyusuri Nil dengan hati yang lebih ringan. Mereka tidak hanya melihat keindahan sungai, tetapi juga melihat keindahan di dalam diri masing-masing. Sungai Nil menjadi saksi bisu dari ikatan persahabatan yang semakin erat, dan dari janji-janji yang mereka ikrarkan di atas perahu kayu yang sederhana.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default