Maimunah mengambil buku yang diberikan Naufal. Di sampulnya tertera judul Hikmah di Balik Luka. Maimunah membolak-baliknya. Buku itu sepertinya cukup tebal dan penuh dengan kutipan-kutipan inspiratif. Zainab dan Adam hanya mengamati dari kejauhan, membiarkan Maimunah larut dalam pikirannya.
"Kenapa dia kasih kamu buku, Mun?" tanya Zainab, saat mereka sudah duduk kembali.
"Katanya... dia juga mau hijrah," jawab Maimunah, suaranya pelan.
Zainab dan Adam saling bertukar pandang. Mereka merasa aneh dengan tindakan Naufal. Jika Naufal memang ingin hijrah, kenapa dia harus kembali lagi pada Maimunah?
"Mun, kamu hati-hati," kata Adam, "jangan sampai kamu terjebak lagi."
Maimunah mengangguk. "Aku tahu, Dam. Aku nggak akan."
Maimunah tidak lagi memikirkan Naufal. Ia fokus pada hijrahnya. Ia membaca buku yang diberikan Naufal, dan ia merasa, ia semakin tercerahkan.
Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang mengikuti kajian di masjid, tiba-tiba seorang wanita cantik berhijab masuk. Wanita itu terlihat ramah, dan ia menyapa Maimunah, Zainab, dan Adam.
"Assalamualaikum," sapanya, dengan aksen Jepang yang kental. "Kalian dari Indonesia, kan?"
Maimunah, Zainab, dan Adam terkejut. Mereka tidak menyangka, ada muslimah dari Jepang di Moskow.
"Iya, kami dari Indonesia," jawab Maimunah. "Kamu... dari Jepang?"
Wanita itu tersenyum. "Iya. Nama saya Yumi."
Maimunah, Zainab, dan Adam memperkenalkan diri. Mereka merasa senang, karena mereka memiliki teman baru.
"Aku datang ke Moskow buat belajar," kata Yumi, "sekalian mau lihat, kehidupan muslim di sini."
Maimunah, Zainab, dan Adam menceritakan kisah mereka pada Yumi. Mereka menceritakan tentang petualangan mereka mencari Vasily, dan tentang Naufal. Yumi mendengarkan dengan seksama.
"Jadi, Naufal itu teman masa kecil kamu?" tanya Yumi pada Maimunah.
"Iya," jawab Maimunah, "tapi sekarang dia udah punya calon istri."
Yumi terdiam sejenak, lalu ia tersenyum. "Naufal itu... teman lamaku."
Maimunah, Zainab, dan Adam terkejut. "Teman lama?"
"Iya," kata Yumi, "dulu, kami pernah kuliah di Jepang. Kami sempat dekat. Tapi, karena beda agama, kami putus."
Maimunah merasa terkejut. Ia tidak menyangka, Naufal pernah berhubungan dengan Yumi.
"Terus, sekarang gimana?" tanya Maimunah.
"Sekarang... kami udah jadi teman," jawab Yumi, "dia udah nemuin jodohnya. Dan aku... aku juga lagi nyari jodoh. Tapi aku yakin, Allah pasti ngasih yang terbaik."
Maimunah terharu. Ia merasa, Yumi adalah wanita yang kuat.
Setelah kajian selesai, Maimunah, Zainab, Adam, dan Yumi pergi ke kafe. Mereka mengobrol, dan tertawa. Maimunah merasa, ia telah mendapatkan teman baru yang berharga.
"Yumi, kenapa kamu hijrah?" tanya Maimunah.
Yumi tersenyum. "Karena aku merasa, Islam itu agama yang indah. Islam mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dan aku merasa, aku harus hijrah."
Maimunah merasa, ia semakin terinspirasi oleh Yumi. Ia merasa, ia tidak sendirian. Ada banyak muslimah di luar sana yang berjuang untuk hijrah.
Di tengah-tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba Naufal datang. Naufal melihat Yumi, lalu tersenyum.
"Yumi," sapa Naufal.
Yumi tersenyum. "Naufal."
Maimunah, Zainab, dan Adam merasa canggung. Mereka tidak tahu, harus bereaksi seperti apa.
"Kalian udah kenal?" tanya Naufal.
"Udah," jawab Yumi, "kami ketemu di masjid."
Naufal tersenyum. "Syukurlah. Jadi aku nggak perlu kenalin kalian lagi."
Maimunah merasa, Naufal tidak memiliki perasaan apa-apa pada Yumi. Maimunah merasa, ia telah salah paham.
"Naufal, kamu ngapain di sini?" tanya Maimunah.
"Aku... aku cuma mau lihat kamu," jawab Naufal, "aku mau tahu, kamu baik-baik aja."
Maimunah terharu. Ia merasa, Naufal memang pria yang baik. Tapi ia juga merasa, ia tidak bisa lagi kembali pada Naufal.
"Aku baik-baik aja," kata Maimunah. "Terima kasih."
Naufal tersenyum. "Sama-sama, Mun."
Setelah itu, Naufal pergi. Maimunah menatap kepergian Naufal, lalu tersenyum. Ia merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.
To be continued...
