Bau asap diesel yang menusuk hidung tak kunjung hilang. Sebaliknya, ia semakin pekat, mengotori udara murni Hutan Evergreen. Ketenangan yang tadinya menjadi ciri khas pagi hari kini digantikan oleh suasana tegang. Burung-burung kolibri super cepat berhenti beterbangan, dan tupai kristal bersembunyi di lubang pohon mereka. Seluruh ekosistem merasakan ada sesuatu yang salah secara fundamental.
Leo, sang kucing hutan bijak, melompat dari posisi santainya dengan gerakan yang sangat lincah untuk ukuran tubuhnya yang besar. Kelakuannya yang malas langsung lenyap ditelan insting predator puncak.
"Perbatasan selatan," desisnya, suaranya dalam dan bergemuruh, sangat kontras dengan dengkuran halusnya tadi. "Sesuatu telah masuk ke wilayah kita."
Bumble, si lebah panik, terbang zigzag di sekitar kepala Leo, matanya yang majemuk memproses jutaan skenario bencana secara bersamaan. "Masuk? Siapa yang masuk? Apakah itu klan monyet yang suka mencuri pisang lagi? Atau suku jamur liar yang mau ekspansi wilayah? Oh, dear, oh dear!"
Spinner, sang ahli strategi, melipat syal maroon setengah jadinya dengan rapi dan mengikatnya ke salah satu kakinya. "Bukan monyet, Bumble. Bukan jamur. Baunya berbeda. Lebih... mekanis. Lebih busuk." Spinner memanjat dahan tertinggi pohon ara dengan kecepatan luar biasa, delapan kakinya mencengkeram kulit kayu dengan presisi. Dia menggunakan kemampuan khususnya, merentangkan dua kaki belakangnya dan melepaskan sehelai sutra tipis yang melayang tinggi ke udara. Sutra itu berfungsi sebagai antena sensorik, menangkap getaran dan partikel di atmosfer.
Beberapa detik kemudian, Spinner menarik sutranya kembali. Ekspresinya yang biasanya tenang kini keruh.
"Aku bisa merasakan getaran tanah," lapornya saat turun kembali ke tanah. "Konstan. Berat. Dan aku menangkap partikel jelaga di udara. Ada yang membakar area di perbatasan."
"Membakar?" Leo mendengus marah, taringnya yang sebesar belati mencuat sedikit dari mulutnya. "Di wilayah Raja Evergreen? Tidak bisa dibiarkan."
"Baiklah, kita harus mengintai," putus Spinner, mengambil peran sebagai pemimpin party taktis. "Bumble, kamu terbang di atas kanopi, tapi tetap tersembunyi. Gunakan kecepatanmu untuk memindai area perbatasan. Leo, kamu bergerak di bawah, melalui semak belukar. Gunakan indra penciumanmu yang tajam. Aku akan menggunakan jaring pengintaimu dan tetap di tengah."
Bumble mendengung hormat, namun masih tidak bisa menahan kepanikan alaminya. "Bagaimana jika mereka bersenjata? Bagaimana jika mereka punya obat nyamuk semprot raksasa? Aku alergi DEET, Spinner!"
"Mereka tidak akan melihatmu jika kamu cepat, Bumble," hibur Spinner. "Bergerak sekarang. Kita bertemu di area Batu Bundar dalam satu jam."
Trio itu berpencar.
Perjalanan ke perbatasan terasa berbeda hari ini. Hutan yang biasanya hidup kini terasa sunyi, seolah alam menahan napas. Leo bergerak seperti bayangan, tubuhnya yang besar meliuk di antara pepohonan dengan kelincahan yang mustahil. Dia mencium tanah, mengendus jejak bau kaki yang asing, bau keringat manusia, dan minyak mesin. Bau-bau itu mengiritasi hidungnya yang sensitif.
Bumble terbang begitu cepat sehingga dia hampir tidak terlihat, dengungannya berubah menjadi desisan angin. Dari atas, melalui celah-celah dedaunan, dia melihatnya: garis lurus kehancuran. Pohon-pohon raksasa yang sudah berdiri ribuan tahun kini tumbang, tergeletak tak bernyawa. Area yang dulunya hijau kini menjadi tanah cokelat berlumpur. Dan di tengahnya, beberapa makhluk berkulit pucat, yang diidentifikasi Bumble sebagai "Manusia", mengoperasikan mesin-mesin raksasa yang menggeram.
Di Batu Bundar, satu jam kemudian, Bumble mendarat dengan keras, terengah-engah.
"Penebangan! Penebangan besar-besaran!" serunya, tawon madunya hampir tumpah dari sarangnya karena stres. "Mereka punya gergaji baja raksasa! Dan truk monster! Mereka menghancurkan pohon! Mereka... mereka merusak rumah kita!"
Leo menggeram rendah, cakarnya menggaruk tanah dengan tidak sabar. "Manusia. Makhluk sombong itu lagi. Mereka tidak pernah belajar."
Spinner menceritakan temuannya. "Aku menemukan jejak kaki mereka. Mereka banyak. Dan aku menemukan ini." Spinner menunjukkan sebuah benda logam kecil, sebuah gantungan kunci berbentuk logo perusahaan konstruksi dengan inisial "PMC" (Primaterra Mining Corp).
"Mereka bukan pemburu biasa," analisis Spinner. "Ini terorganisir. Ini adalah invasi industri."
Suasana hening sejenak, digantikan oleh keheningan Hutan Evergreen yang berduka. Bumble melihat ke arah selatan, matanya berkaca-kaca (jika lebah bisa menangis).
"Mereka menghancurkan bunga Nectarina Crystallis," bisiknya sedih.
Kata-kata itu memicu sesuatu dalam diri Leo. Bunga-bunga itu adalah sumber makanan penting bagi banyak spesies, dan simbol kemurnian hutan. Amarah menguasai sang kucing bijak.
"Cukup," kata Leo, suaranya penuh otoritas. "Kita bukan lagi trio pemalas yang mengurus madu dan syal. Hutan ini adalah rumah kita. Makhluk-makhluk ini adalah parasit. Mereka merusak hutan, dan mereka harus dihentikan."
Spinner mengangguk setuju, benang sutranya kini terangkat, siap digunakan sebagai senjata. "Ini bukan lagi masalah administrasi logistik, Bumble. Ini adalah peperangan."
Bumble, yang biasanya panik, mengangguk dengan tekad baru. Ketakutannya digantikan oleh kemarahan protektif terhadap sarangnya dan bunga-bunga yang dirusak.
"Baiklah," dengungnya, sengatnya di belakang bersinar dengan cahaya hijau redup. "Mari kita tunjukkan kepada manusia-manusia bau kapitalis itu apa artinya main-main dengan Raja Lebah!"
Misi RPG pertama mereka secara resmi dimulai.
