Setelah menghabiskan beberapa hari di Banjarmasin untuk beristirahat dan menyusun rencana baru, Lev dan Faruq bersiap untuk melanjutkan petualangan mereka ke Kalimantan Timur. Perjalanan pertama mereka kali ini adalah menuju Sampit, kota yang terkenal dengan Pelabuhan Mentaya dan keindahan alamnya. Namun, seperti biasa, petualangan Lev tidak pernah berjalan mulus.
Pagi itu, mereka sudah berada di dalam mobil travel menuju Sampit. Lev yang merasa percaya diri, mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi peta digital. Ia merasa bangga, karena ia sudah belajar dari kesalahan sebelumnya.
"Faruq, kamu tenang saja. Kali ini, aku yang akan memandu jalannya," kata Lev, dengan nada sombong.
Faruq hanya tersenyum. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Lev.
Setelah beberapa jam perjalanan, Lev mulai merasa ada yang aneh. Jalan yang mereka lewati semakin kecil dan sepi. Tidak ada mobil lain yang terlihat, hanya hutan-hutan yang menjulang tinggi di kiri dan kanan jalan.
"Lev, kamu yakin ini jalan yang benar?" tanya Faruq, dengan nada khawatir.
"Tentu saja, Faruq. Peta ini menunjukkan jalan ini. Mungkin ini jalan pintas," jawab Lev, dengan nada meyakinkan.
Faruq hanya mengangguk, meskipun ia merasa tidak yakin.
Setelah beberapa menit, mobil travel mereka tiba di sebuah persimpangan. Di sana, terdapat dua jalan. Satu jalan yang terlihat lebih besar, dan satu jalan lagi yang terlihat seperti jalan setapak.
"Lev, yang mana?" tanya Faruq.
Lev menatap peta digitalnya, lalu menunjuk ke arah jalan setapak. "Yang ini, Faruq. Peta ini menunjukkan jalan ini."
Sopir travel, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. "Mas, apa tidak salah? Jalan ini biasanya tidak dipakai."
Lev merasa yakin. "Tidak, pak. Peta ini pasti benar. Ini jalan pintas."
Sopir travel itu menghela napas, lalu mengikuti arahan Lev. Mobil travel mereka mulai memasuki jalan setapak. Jalan itu semakin sempit, dan di beberapa bagian, mobil harus berjalan dengan sangat hati-hati.
"Lev, kamu yakin ini bukan jalan buntu?" tanya Faruq, dengan nada khawatir.
"Tidak, Faruq. Sebentar lagi pasti kita sampai," jawab Lev.
Namun, setelah beberapa menit, mobil travel mereka berhenti. Di depannya, terdapat sebuah sungai yang cukup lebar, tanpa jembatan.
Lev membelalakkan matanya. Ia menatap peta digitalnya, lalu menatap sungai di depannya. Ia merasa bodoh.
"Tuh kan, Lev! Aku bilang juga apa," kata Faruq.
"Maaf, Faruq. Aku tidak menyangka akan ada sungai," jawab Lev, dengan nada menyesal.
Sopir travel itu menggeleng-gelengkan kepala. "Saya sudah bilang, mas. Ini bukan jalan yang benar."
Mereka berbalik arah. Perjalanan kembali ke jalan utama terasa sangat panjang. Lev merasa bersalah. Ia telah membuang-buang waktu.
Setelah kembali ke jalan utama, Lev menyerahkan ponselnya kepada Faruq. "Kamu saja yang memandu, Faruq. Aku tidak becus."
Faruq tersenyum. "Tidak apa-apa, Lev. Namanya juga belajar. Tapi lain kali, kalau tidak yakin, tanya saja."
Mereka melanjutkan perjalanan. Faruq memandu jalan, dan kali ini, perjalanan berjalan lancar. Beberapa jam kemudian, mereka tiba di Sampit.
"Alhamdulillah, sampai juga," kata Lev, dengan nada lega.
"Selamat datang di Sampit, Lev. Dan selamat datang di petualangan yang sesungguhnya," kata Faruq, sambil tersenyum.
Malam itu, mereka menginap di sebuah penginapan sederhana. Lev merasa lelah, tapi ia merasa bahagia. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
