Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, yang melayani wilayah Banjarmasin dan sekitarnya, sore itu terasa ramai. Keluarga Ryley sudah menunggu di area kedatangan internasional. Anindya tak bisa berhenti tersenyum dan melongok ke arah pintu otomatis kaca setiap kali pintu itu terbuka. Lev Ryley berdiri di sampingnya dengan posisi siaga, tangannya memegang papan kecil bertuliskan "AISHA KIM - WELCOME TO BANJARMASIN" yang dibuat oleh Maryam dengan seni kaligrafi halus.
"Abi, tegang banget mukanya. Aisha bukan mau wawancara kerja, kok," goda Anindya, menyenggol lengan suaminya.
"Ini demi kesan pertama yang baik, Mi. Tamu kita chef bintang lima, standar keramahannya pasti tinggi," balas Lev, masih mencoba melafalkan 'mannaseo bangapseumnida' (senang bertemu denganmu) di dalam hati.
Aisyah Humaira, si sulung yang organisatoris, sibuk mengecek ponselnya, memastikan kedatangan pesawat Aisha sudah on time. Maryam Safiya fokus dengan kamera polaroid barunya, bersiap mengabadikan momen bersejarah itu. Sementara Ghina dan Rayyan sibuk menebak-nebak isi koper Aisha.
"Pasti isinya snack Korea yang pedas-pedas, Kak!" seru Rayyan, polos.
"Jangan pedas-pedas, dong! Yang manis-manis lah," balas Ghina, realistis.
Tiba-tiba, pintu kaca otomatis terbuka lebar. Sosok seorang wanita tinggi semampai, mengenakan hijab modern berwarna beige yang elegan dan outer panjang, keluar dari kerumunan penumpang. Matanya yang sipit menyapu ruangan dan langsung terkunci pada sosok Anindya yang melambai heboh.
"AISHA! CHINGU-YA!" teriak Anindya, melupakan semua kesan anggunnya sebagai influencer dan ibu majelis taklim.
Aisha Kim (Sora) tersenyum lebar, senyum yang sama persis seperti yang Anindya ingat dari Manchester. Air mata kebahagiaan langsung mengalir di pipi keduanya saat mereka berhamburan ke pelukan satu sama lain.
"Assalamualaikum, Anindya! Masya Allah, aku rindu sekali!" ujar Aisha, suaranya sedikit serak karena haru.
"Waalaikumsalam, Aisha! Ya Allah, kamu cantik sekali berhijab begini," balas Anindya, terisak kecil.
Setelah drama pelukan melepas rindu antara dua sahabat, Aisha menoleh ke arah keluarga Ryley yang lain. Lev Ryley maju dengan gagah, memegang papan nama dengan bangga.
"Assalamualaikum, Aisha Kim-ssi," sapa Lev, sedikit membungkuk ala Korea, namun dengan senyum khas Banjar yang ramah. "Jeo... jeoneun Lev Ryley-imnida. Selamat datang di Banjarmasin."
Aisha tertawa kecil melihat tingkah Lev yang kikuk tapi tulus. "Waalaikumsalam, Mas Lev. Kamsahamnida (terima kasih). Tidak perlu seformal itu, panggil saja Aisha."
Satu per satu anak-anak Anindya menyalami Aisha. Aisyah Humaira menyalami dengan sopan, Maryam dengan senyum malu-malu sambil memotret Aisha, dan si kembar (Ghina dan Rayyan) menyalami sambil mata mereka melirik ke arah koper Aisha.
"Tante bawa ramyeon halal?" tanya Rayyan polos, membuat semua orang tertawa.
"Insya Allah ada di dalam koper," jawab Aisha, mengedipkan mata. Ghina dan Rayyan bersorak.
Perjalanan dari bandara ke rumah di Banjarmasin memakan waktu sekitar satu jam lebih. Di dalam mobil, Aisha terpaku melihat pemandangan di luar jendela. Kontras sekali dengan Seoul. Di sini, yang mendominasi adalah pepohonan hijau yang rindang, rumah-rumah panggung tradisional Banjar di pinggir sungai, dan langit senja yang jingga membara. Udara terasa lembap dan hangat, jauh dari udara Seoul yang sejuk.
"Masya Allah, indah sekali sungainya. Dan udaranya... hangat sekali ya," komentar Aisha.
"Ini belum seberapa, Aisha. Besok kita ke pasar terapung, lebih seru lagi!" ujar Anindya, bersemangat.
Di sepanjang perjalanan, Lev Ryley bertindak sebagai pemandu wisata dadakan, menunjuk tempat-tempat penting di Banjarmasin seperti Jembatan Barito, meskipun penjelasannya sering kali diselingi lelucon garing tentang paket online istrinya.
Setibanya di rumah, Aisha terpesona dengan transformasi ruang tamu yang baru. "Wah, minimalis sekali, Anindya. Daebak (luar biasa)!"
Anindya tersenyum bangga, melirik Lev dengan tatapan penuh kemenangan. Lev hanya bisa menggelengkan kepala sambil membantu menurunkan koper Aisha.
Malam itu, makan malam terasa hangat. Anindya menyajikan menu khas Banjar: Ikan Patin Bakar dan Sayur Asam. Aisha menyukai semuanya. Sambil makan, mereka bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing.
Aisha bercerita sedikit tentang perjuangannya sebagai mualaf di Seoul. "Tantangan terbesar adalah makanan halal. Sulit sekali mencari bahan yang benar-benar terjamin kehalalannya di sana. Makanya aku jadi terobsesi belajar adaptasi resep dan berkebun sendiri."
Anindya mendengarkan dengan saksama. "Di sini insya Allah gampang cari yang halal, Aisha. Tapi tantangannya beda lagi. Tantangan ibu-ibu di sini biasanya mengelola keuangan biar nggak habis buat belanja online," sindirnya, melirik Lev.
Lev tersedak minumnya, membuat semua anak tertawa.
Malam itu, Aisha Kim tidur dengan nyenyak di kamar tamu yang sejuk berkat humidifier baru. Ia merasa bersyukur. Setelah perjalanan panjang dari Seoul, ia akhirnya menemukan rumah keduanya di Banjarmasin, di tengah keluarga muslim yang hangat dan penuh tawa ini. Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.
