Langit di atas Kota Palangkaraya sore itu tampak seperti lukisan cat air yang tumpah. Warna jingga kemerahan berpadu dengan awan mendung kelabu yang menggantung rendah di atas Sungai Kahayan. Di sebuah komplek perumahan bernama Cluster Sakinah, aroma kayu gaharu dan masakan ikan jelawat bakar menyeruak dari dapur-dapur rumah, menandakan waktu berbuka puasa sunnah bagi sebagian penghuninya.
Zaki, seorang pria berusia 33 tahun dengan janggut tipis yang rapi, baru saja memarkir motor matiknya. Ia menghela napas panjang, menatap pintu rumahnya dengan perasaan campur aduk antara rindu dan waspada. Sebagai seorang arsitek yang bekerja di pusat kota, rumah adalah surga. Namun, sore ini, surga itu sedang berubah menjadi "Bioskop Seoul Mini".
"Assalamualaikum, Siti?" Zaki melangkah masuk dengan hati-hati.
"Waalaikumsalam! Mas Zaki, lepas sepatunya di luar ya! Tadi barusan dipel pakai cairan pembersih aroma lavender kesukaan Oppa Gong Yoo!" suara Siti Nurhaliza melengking dari arah ruang tengah.
Zaki meringis. Istrinya, Siti Nurhaliza—nama yang diberikan mertuanya dengan harapan sang anak bisa bersuara merdu, namun nyatanya malah hobi berteriak histeris setiap kali melihat aktor Korea menangis—sedang duduk bersila di depan TV LED 50 inci. Di tangannya ada satu kotak tisu dan sepiring tteokbokki instan yang baunya menusuk hidung Zaki yang lebih terbiasa dengan bau sambal terasi.
"Loh, belum mandi, Siti? Ini sudah mau Maghrib," tegur Zaki lembut sambil melepas dasinya.
"Satu adegan lagi, Mas! Ini episode terakhir ‘My Husband is a Gumiho’. Kalau aku telat nonton sedetik saja, algoritmanya bisa hilang dari kepalaku!" jawab Siti tanpa menoleh. Matanya berkaca-kaca menatap layar.
Zaki hanya bisa beristighfar dalam hati. Ia berjalan ke dapur, bermaksud mengambil air wudhu. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara gaduh dari tembok sebelah—rumah Fahri.
“No, Fahri! I told you, walk like a gentleman! Like Brad Pitt in Babylon! Dada tegak, pandangan lurus ke depan, jangan kayak orang mau setor zakat!” Itu suara Krisdayanti, istri Fahri yang merasa dirinya adalah reinkarnasi sosialita Beverly Hills yang nyasar di Kalimantan Tengah.
Zaki mengintip dari jendela samping. Di halaman sebelah, Fahri yang malang sedang berjalan bolak-balik mengenakan kemeja slim-fit yang tampak sesak, sementara Krisdayanti mengarahkannya dengan memegang majalah fashion internasional.
"Sabar, Fah," bisik Zaki pelan, seolah ada ikatan batin antar sesama pria "nasib serupa".
Tak berselang lama, dentuman musik yang sangat dramatis—suara biola yang melengking-lengking khas latar belakang sinetron—terdengar dari rumah ketiga di deretan itu. Itu rumah Imran. Zaki tahu persis, jika musik itu sudah berbunyi, berarti Ibu Hermione sedang menonton adegan di mana seorang menantu tertukar dengan anak angkat yang ternyata adalah anak kandung dari selingkuhan kakeknya.
Zaki mengintip lagi. Benar saja, di teras rumah sebelah, Imran sedang duduk merenung di atas kursi rotan sambil memijat pelipisnya.
"Imran!" panggil Zaki pelan.
Imran menoleh, wajahnya kusam. "Eh, Mas Zaki. Baru pulang?"
"Iya. Itu... Hermione lagi nonton apa? Kok suaranya sampai menggetarkan kaca rumahku?"
Imran menghela napas, "Judulnya ‘Istriku Menangis karena Aku Lupa Membeli Seblak’. Tadi aku telat pulang lima menit, dia langsung merasa terzalimi seperti aktris di TV itu, Mas. Sekarang dia lagi latihan akting menangis di depan cermin, katanya buat persiapan kalau nanti kita masuk acara reality show."
Zaki terkekeh, tapi tawa itu segera hilang saat Siti Nurhaliza berteriak dari dalam rumah. "MAAAAS ZAKIII! TISUNYA HABIIIS! TOLONG AMBILKAN DI KAMAR MANDI SEKARANG!"
Zaki berjengit. Ia menatap Imran, dan Imran menatapnya balik dengan tatapan penuh simpati. Di komplek ini, mereka bertiga dikenal sebagai pria-pria perkasa—Zaki sang arsitek, Fahri sang pengusaha kayu, dan Imran sang PNS berprestasi. Tapi di hadapan remot TV dan hobi istri, mereka hanyalah pion yang tak berdaya.
"Maghrib sebentar lagi, Mas," ujar Imran mengingatkan. "Ayo kita ke masjid. Satu-satunya tempat di mana kita memegang kendali penuh atas diri kita sendiri."
Zaki mengangguk mantap. "Setuju. Aku panggil Fahri dulu."
Zaki pun berteriak ke arah rumah Fahri, "Fahri! Ayo ke masjid! Berhenti jadi Brad Pitt, waktunya jadi hamba Allah!"
Fahri langsung berlari keluar rumah seolah baru saja lolos dari kamp militer, sambil melepas jasnya dengan terburu-buru. "Ayo, ayo! Sebelum Krisdayanti menyuruhku latihan bahasa Inggris untuk doa sujud!"
Ketiga pria berumur 30-an itu berjalan beriringan menuju Masjid Al-Ikhlas yang terletak di ujung jalan. Gerimis tipis mulai membasahi aspal jalanan Palangkaraya. Di belakang mereka, suara drama Korea, dialog bahasa Inggris ala Hollywood, dan tangisan sinetron Indonesia bersahut-sahutan menciptakan simfoni unik kehidupan rumah tangga mereka.
Mereka bahagia, sungguh. Karena bagi Zaki, Fahri, dan Imran, "takut istri" hanyalah istilah lain dari "terlalu sayang". Selama shalat lima waktu tidak terlewat dan dapur tetap ngepul, drama-drama itu hanyalah bumbu penyedap dalam indahnya hidup bertetangga di Bumi Tambun Bungai.
Namun, mereka belum tahu bahwa besok, sebuah tantangan besar akan datang: Siti Nurhaliza berencana mengajak mereka semua ikut lomba cover dance K-Pop tingkat kelurahan.
Zaki memejamkan mata saat berjalan, "Ya Allah, kuatkan pinggang hamba..." batinnya pasrah.
Rekomendasi untuk Pembaca:
Ingin tahu kelanjutan nasib Zaki yang dipaksa belajar tari K-Pop? Simak Bab 2: Siti Nurhaliza dan Sindrom Second Lead Male yang Membuat Zaki Cemburu!
