Bab 7: Penyakit Mematikan

Bab 7: Penyakit Mematikan

Lev
0

Hujan mengguyur tanpa henti, membasahi hutan dan menjadikannya labirin lumpur. Dingin menusuk tulang, dan kelembapan yang mencekam membuat penyakit mudah menyebar. Wabah cacar, musuh tak terlihat yang lebih mematikan dari peluru Belanda, mulai melanda perkemahan para pejuang. Satu per satu, prajurit-prajurit yang gagah perkasa tumbang, tubuh mereka dipenuhi ruam merah yang kemudian bernanah. Ketakutan menyebar lebih cepat dari kabar kemenangan.

Antasari, Khalifatul Mukminin yang tak kenal lelah, juga tidak luput dari serangan wabah. Suatu pagi, ia bangun dengan demam tinggi dan sekujur tubuhnya terasa sakit. Ia berusaha menyembunyikan kondisinya, tidak ingin membuat pasukannya panik. Namun, Tumenggung Surapati yang setia, melihat bintik-bintik merah mulai muncul di kulit Antasari.

"Pangeran, Anda harus istirahat," kata Surapati, khawatir. "Biarkan kami yang mengurus perkemahan. Anda adalah pemimpin kami, kesehatan Anda lebih penting."

Antasari menggeleng. "Aku tidak bisa. Banyak prajurit kita yang sakit. Mereka membutuhkan semangatku. Aku harus berada di sini."

Namun, penyakit itu lebih kuat dari semangatnya. Beberapa hari kemudian, Antasari terbaring lemah di pondoknya. Tubuhnya menggigil, dan kesadarannya sering hilang timbul. Tumenggung Pandan dan Tumenggung Surapati berusaha merawatnya dengan obat-obatan tradisional yang mereka ketahui, tetapi penyakit itu terus menggerogoti.

Di tengah kesakitannya, Antasari tidak pernah berhenti memikirkan perjuangan. Bahkan dalam kondisi setengah sadar, ia sering bergumam, "Haram manyarah, waja sampai ka puting." Ia memanggil putranya, Muhammad Seman, yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tangguh, untuk menghadap.

"Seman, lihatlah keadaanku," ujar Antasari dengan suara serak. "Suatu saat, aku tidak akan bisa lagi memimpin kalian."
"Pangeran, jangan berkata begitu," balas Seman, menahan air mata.

"Dengarkan aku," pinta Antasari, memegang tangan Seman dengan lemah. "Perjuangan ini bukan hanya untukku. Perjuangan ini adalah untuk rakyat Banjar. Jika aku pergi, kau harus menggantikanku. Kau harus melanjutkan perjuangan ini. Ingat, jangan pernah menyerah. Jangan biarkan Belanda menang."

Muhammad Seman mengangguk, hatinya hancur melihat kondisi ayahnya. "Aku berjanji, Pangeran. Aku akan melanjutkan perjuangan ini, sampai titik darah penghabisan."

Kabar tentang sakitnya Pangeran Antasari akhirnya sampai ke telinga Belanda. Mereka bersorak kegirangan, menganggap ini adalah akhir dari perlawanan. Mereka bahkan mengintensifkan perburuan, berharap dapat menangkap Antasari yang sedang lemah. Namun, para pejuang Banjar, meskipun sedih dan khawatir, bersumpah untuk melindungi pemimpin mereka sampai akhir. Mereka memperketat penjagaan, menyembunyikan lokasi persembunyian Antasari, dan terus melanjutkan serangan gerilya untuk mengalihkan perhatian musuh.

Malam terakhirnya, Antasari meminta agar ia dibawa ke tempat terbuka. Ia ingin melihat bintang-bintang di atas langit Kalimantan untuk terakhir kalinya. Di atas sebuah rakit bambu, ia berbaring, dikelilingi oleh para pengikut setianya. Ia memandang langit, seolah sedang berbicara dengan para leluhurnya.

"Kalian lihat," bisiknya lemah, "aku telah berjuang. Aku tidak akan pernah menyerah."

Pada tanggal 11 Oktober 1862, saat fajar mulai menyingsing, Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, Pangeran Antasari, mengembuskan napas terakhirnya. Perjuangan fisiknya telah berakhir, tetapi semangatnya baru saja dimulai. Tangis pecah di antara para pejuang. Seorang pahlawan telah gugur, tetapi warisannya akan hidup selamanya.

Setelah Antasari wafat, Muhammad Seman mengambil alih kepemimpinan. Ia memimpin pasukan, melanjutkan perjuangan ayahnya. Semangat "Haram manyarah, waja sampai ka puting" yang ditinggalkan ayahnya menjadi api yang membakar jiwa setiap pejuang. Perang Banjar tidak berakhir dengan gugurnya Antasari, melainkan memasuki babak baru, di mana seorang anak akan melanjutkan perjuangan ayahnya, meneruskan nyanyian pemberontakan yang tak pernah padam.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default