Bab 1: Sujud Syahdu di Bawah Langit Makkah

Bab 1: Sujud Syahdu di Bawah Langit Makkah

Lev
0
Ikuti perjalanan keluarga mereka dalam menyambut kehadiran anak kembar setelah perjalanan umrah. Sebuah kisah slice of life Islami tentang persaudaraan Khalisah dan Naura, hobi memelihara kucing, dan bumbu komedi kehidupan bertetangga.



Malam itu, suhu di Kota Makkah terasa lebih bersahabat, meski ribuan manusia berdesakan memenuhi pelataran Masjidil Haram. Aroma gaharu yang khas bercampur dengan harumnya air zam-zam menciptakan suasana yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh siapa pun yang pernah menapakkan kaki di sana. Di antara lautan putih pakaian ihram, Muhammad Hifni berdiri tegak, matanya menatap lekat pada bangunan megah berselimut kain kiswah hitam: Ka'bah.

Sebagai seorang PNS yang terbiasa dengan rutinitas berkas dan rapat di kantor pemerintahan, momen ini adalah bentuk kemerdekaan spiritual yang luar biasa bagi Hifni. Di sampingnya, Rina Rufida, sang istri, tampak khusyuk dengan mukena putihnya. Rina, yang kesehariannya berkutat mengajar tenses dan vocabulary sebagai guru Bahasa Inggris, kali ini tak banyak bicara dalam bahasa manusia. Ia sedang sibuk berdialog dengan Sang Pencipta.

"Abi, lihatlah," bisik Rina pelan saat mereka berhasil mendekati area Multazam, area mustajab antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. "Allah menghadirkan kita di sini tepat di malam-malam terakhir Ramadhan. It’s beyond words."

Hifni mengangguk pelan. Ia tahu betapa besar keinginan Rina untuk kembali memiliki momongan setelah enam tahun Khalisah Salsabilla lahir. Khalisah sendiri, yang saat itu dititipkan sementara di hotel bersama neneknya, sedang fase sangat menyukai kucing. Sebelum berangkat, bocah enam tahun itu bahkan sempat berpesan, "Abi, jangan lupa doakan supaya kucing kita di rumah, si Meong, punya teman baru. Dan aku juga mau punya adik yang lucu kayak kucing!"

Hifni tersenyum mengingat permintaan polos putrinya. Namun di hadapan Ka'bah, doanya menjadi lebih dalam. Ia merapatkan diri ke dinding baitullah, merasakan dinginnya granit di tengah hangatnya suasana tawaf. Air matanya luruh tanpa bisa dicegah—sebuah pemandangan langka bagi Hifni yang biasanya dikenal kaku dan sangat administratif.

"Ya Allah," batin Hifni, "Jika Engkau ridhai, titipkanlah kembali amanah-Mu pada kami. Jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, dan berikanlah Khalisah adik yang bisa menjadi penyejuk hati kami."

Di sisi lain, Rina juga sedang menumpahkan segalanya. Baginya, umrah di bulan Ramadhan adalah puncak dari segala perjalanan spiritual, di mana pahalanya setara dengan berhaji bersama Rasulullah SAW. Ia tidak tahu bahwa di balik dinding Ka'bah yang megah itu, rencana besar Allah sedang bekerja. Ia hanya merasa damai, sedamai doa-doa yang ia susun dalam bahasa terbaiknya.

Selesai melaksanakan sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah, mereka duduk di teras masjid sambil menanti waktu sahur. Angin malam Makkah meniup lembut ujung jilbab Rina.

"Bi, kalau nanti doa kita dikabulkan, aku ingin nama anak kita nanti ada unsur keindahan seperti tempat ini," ujar Rina sambil memandang menara-menara masjid yang menjulang tinggi ke angkasa.

Hifni menggenggam tangan istrinya. "InsyaAllah, Mi. Allah sebaik-baiknya perencana."

Mereka tidak menyangka, sekembalinya ke tanah air nanti, bukan hanya satu, melainkan dua keajaiban sekaligus yang akan hadir di rahim Rina. Sebuah kejutan yang bahkan akan membuat drg. Dina Yulianti, tetangga sekaligus sahabat mereka, terbelalak heran saat memeriksanya nanti. Namun untuk saat ini, di bawah langit Makkah yang penuh berkah, mereka hanya ingin menikmati status sebagai hamba yang sedang rindu-rindunya pada Tuhan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default