BAB 1: Teh Chai dan Janji yang Retak di Vali-Asr

BAB 1: Teh Chai dan Janji yang Retak di Vali-Asr

Lev
0
"Sebuah Novel Islami bertema Slice of Life yang menguras air mata. Mengisahkan Hamzah, mahasiswa di Teheran, Iran, yang terpaksa melepaskan tunangannya karena merasa belum mampu membahagiakan dirinya sendiri. Ikuti perjalanan sad & komedi Hamzah menemukan arti self-love sebelum menjemput kembali cintanya.



Udara musim dingin di Teheran tidak pernah berkompromi. Angin yang turun dari puncak Gunung Alborz membawa kristal salju tipis yang menusuk hingga ke tulang. Di sepanjang Jalan Vali-Asr, pohon-pohon plane yang menjulang tinggi berdiri kaku seperti saksi bisu atas ribuan perpisahan yang pernah terjadi di trotoarnya yang panjang.

Hamzah merapatkan overcoat abu-abunya yang mulai menipis. Di dalam sebuah Chai-Khaneh (kedai teh) kecil yang terjepit di antara toko karpet antik dan penjual buku bekas, ia duduk mematung. Aroma kapulaga dan kayu manis dari teko samovar mengepul, namun tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku.

Di depannya, Zahra—gadis dengan sorot mata yang selalu mengingatkan Hamzah pada ketenangan kubah masjid di Isfahan—sedang menyesap tehnya dengan jemari yang gemetar.

"Kamu terlalu sering menunduk hari ini, Hamzah," suara Zahra memecah kebisingan suara orang-orang Parsi di sekitar mereka. "Ada apa?"

Hamzah mendongak. Di bawah pendar lampu gantung kuno, wajah Zahra tampak begitu sempurna. Itulah masalahnya. Zahra terlalu sempurna untuk seseorang yang bahkan tidak tahu bagaimana caranya bangun di pagi hari tanpa merasa kalah oleh beban pikirannya sendiri.

"Zahra, aku pernah bilang bahwa aku mencintaimu karena Allah," suara Hamzah rendah, hampir tenggelam oleh bunyi denting sendok yang beradu dengan gelas Istakan. "Tapi aku melupakan satu hal penting. Aku belum selesai mencintai diriku sendiri."

Zahra terdiam. Ia meletakkan gelas tehnya perlahan. "Apa maksudmu? Kita sudah merencanakan ini sejak tahun kedua kuliah di Universitas Teheran. Tinggal sedikit lagi, Hamzah."

"Itu dia masalahnya. 'Sedikit lagi' bagimu adalah beban raksasa bagiku," Hamzah menarik napas panjang, menghirup aroma Teheran yang khas—perpaduan antara asap kendaraan dan wangi mawar kering. "Aku merasa gagal membahagiakan kehidupanku sendiri. Aku hidup dalam kecemasan, finansialku berantakan karena ego, dan mentalitasku masih seperti puing-puing Bam setelah gempa."

Hamzah mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku mantelnya. Kotak berisi janji yang ia buat setahun lalu di bawah langit Mashhad.

"Aku melepaskanmu, Zahra."

Kata-kata itu meluncur begitu saja. Rasanya seperti merobek kulit sendiri. Hamzah melihat bagaimana binar di mata Zahra meredup, digantikan oleh genangan air mata yang siap tumpah.

"Aku melupakan fakta bahwa aku telah melepaskanmu dalam pikiranku sejak sebulan lalu, karena aku sadar... memaksamu tinggal di sisiku saat aku sendiri masih 'sakit', hanya akan menghancurkanmu. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang sudah 'utuh', bukan seseorang yang sedang mengumpulkan serpihan dirinya sepertiku."

"Ini tidak adil," bisik Zahra, setetes air mata jatuh ke atas taplak meja bermotif Termeh.

"Dunia memang tidak pernah adil, tapi Allah Maha Adil," potong Hamzah dengan senyum getir yang dipaksakan. Ia mencoba memasukkan unsur humor untuk menutupi sesaknya. "Lihat aku, bahkan untuk membayar teh ini saja aku harus menghitung sisa Rial di dompetku dengan gemetar. Bagaimana aku bisa menjamin senyummu di masa depan?"

Zahra mencoba tertawa di tengah tangisnya, sebuah tawa pahit. "Kamu selalu punya cara konyol untuk merusak suasana sedih, Hamzah."

"Itu bakat alamiku," sahut Hamzah lirih.

Ia berdiri, meninggalkan kotak itu di atas meja. Sebelum berbalik, ia membisikkan doa yang paling tulus yang pernah ia ucapkan. "Maafkan aku. Semoga kau segera menemukan bahagia dengan orang baru... seseorang yang tidak perlu menghancurkan hatimu hanya untuk belajar cara berdiri tegak."

Hamzah melangkah keluar kedai. Di luar, salju turun lebih deras. Ia berjalan menjauh, membiarkan sosok Zahra menjadi titik kecil di kejauhan. Di bawah lampu jalan Teheran yang remang, Hamzah menyadari satu hal: melepaskan adalah bentuk cinta paling tinggi, meski itu berarti ia harus berjalan sendirian menembus badai salju yang tak kunjung usai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default