Beberapa minggu setelah pemakaman Kolya, kafe Ksenia kembali dibuka. Namun, suasana di sana tidak sama. Kehangatan yang dulu dipancarkan Kolya kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Ksenia dan Vera, meskipun mencoba tersenyum kepada pelanggan, tidak bisa menyembunyikan kesedihan di mata mereka.
Andriy, yang kini mencoba untuk lebih terbuka, sering datang ke kafe. Ia duduk di meja yang sama, tetapi ia tidak memesan teh chamomile. Ia memesan kopi pahit, sebuah minuman yang dibenci Kolya, sebagai pengingat bahwa Kolya tidak lagi ada.
"Andriy," Ksenia memanggil, suaranya sedikit serak. "Kau tidak minum teh chamomile lagi?"
"Tidak," jawab Andriy, menatap kopi pahitnya. "Kolya yang menyukainya."
"Tapi kau menyukainya," kata Ksenia. "Kau selalu meminumnya."
"Ya, tapi rasanya tidak sama," jawab Andriy. "Tanpa Kolya, teh itu terasa... dingin."
Ksenia mengangguk mengerti. Ia tidak memaksakan Andriy untuk minum teh chamomile. Ia tahu, Andriy sedang berduka dengan caranya sendiri.
Vera, yang baru saja selesai membuat kopi untuk pelanggan lain, datang ke meja Andriy. Ia melihat kopi pahit di depan Andriy, dan ia tersenyum tipis.
"Kau tahu, Andriy," kata Vera. "Kakek Nikolai tidak akan suka melihatmu minum kopi pahit. Dia akan memaksamu untuk minum teh chamomile."
Andriy tersenyum kecil. "Dia tidak ada di sini."
"Dia ada di sini," kata Vera, menunjuk ke arah cangkir kopi Andriy. "Dalam kenangan. Dalam setiap cangkir teh chamomile yang kita buat. Dalam setiap tawa yang kita dengar."
Andriy menatap Vera, dan ia merasakan kehangatan yang mengalir dari kata-katanya. Ia menyadari, duka manusia mungkin berbeda dengannya, tetapi cara mereka menghadapi duka itu adalah pelajaran yang berharga.
"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?" tanya Andriy.
"Aku akan terus membuat vlog," jawab Ksenia. "Aku akan merekam semua hal yang terjadi di kafe ini. Aku akan merekam kenangan-kenangan Kakek. Aku akan merekam hal-hal lucu yang Ogon lakukan. Aku akan... membuat kafe ini tetap hidup."
"Aku akan membantu Ksenia," kata Vera. "Aku akan mengambil alih kafe ini. Kakek Nikolai akan senang melihat kafe ini diteruskan oleh keturunannya."
Andriy tersenyum. Ia melihat Ksenia dan Vera, dua wanita muda yang penuh semangat. Mereka tidak menyerah pada duka. Mereka menggunakan duka itu sebagai motivasi untuk terus hidup.
"Kalian luar biasa," kata Andriy.
"Kau juga, Andriy," kata Vera. "Kau telah membantu kami. Kau telah menunjukkan kepada kami bahwa hidup tidak selalu harus sempurna. Kadang-kadang, hidup itu tentang menerima perpisahan, dan terus melanjutkan."
Ksenia dan Vera kembali ke pekerjaan mereka. Andriy memandangi mereka, dan ia merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Ia tidak lagi ingin terisolasi. Ia ingin menjadi bagian dari keluarga ini.
Ia menyesap kopi pahitnya, dan ia tidak merasakan pahitnya. Ia merasakan manisnya kenangan, manisnya persahabatan, dan manisnya harapan. Ia menyadari, bahwa meskipun Kolya sudah tiada, kenangan akan dirinya akan tetap hidup.
Babak baru dalam kehidupan Andriy, yang penuh dengan kenangan, teh chamomile, kopi pahit, dan harapan, telah dimulai. Ia akan terus hidup, dan ia akan terus mencari kebahagiaan, seperti yang dijanjikannya kepada Kolya. Ia tidak lagi takut pada perpisahan, karena ia tahu, kenangan yang ia jalin akan selalu hidup.
