Kantin Sehat Ibu Siti: Kisah Fajar dan Fatimah Belajar Memilih Jajanan Bergizi di Sekolah
Waktu istirahat tiba, dan anak-anak di SD Kampung Amanah berlarian menuju kantin. Kantin sekolah mereka dikelola oleh Ibu Siti yang ramah. Jajanan yang dijual di sana bersih dan harganya terjangkau. Namun, ada juga penjual jajanan keliling di luar pagar sekolah, yang menjual makanan dengan warna-warni mencolok.
Fajar, Rizal, dan Budi, bersama teman-teman lainnya, ikut berlari menuju kantin. Fajar melihat ada penjual es berwarna merah muda cerah di luar pagar. Es itu terlihat sangat menarik.
“Aku mau beli es itu, Kak,” bisik Fajar kepada Fatimah yang berjalan di belakangnya.
Fatimah melihat ke arah penjual es. Ia merasa khawatir. “Jangan, Jar. Lebih baik kita jajan di kantin Ibu Siti. Jajanan di sana lebih sehat.”
Fajar tidak mau mendengarkan. Ia dan Budi mendekati penjual es itu. Rizal memilih untuk jajan di kantin Ibu Siti, membeli kue dan segelas teh hangat.
“Satu es ini, Pak,” kata Fajar.
Penjual es itu tersenyum dan memberikan es berwarna merah muda yang menarik. Fajar dan Budi meminum es itu dengan lahap. Rasanya manis sekali.
Setelah bel masuk berbunyi, Fajar dan Budi kembali ke kelas. Fajar merasa perutnya sedikit sakit. Wajahnya mulai pucat. Budi juga mengeluhkan hal yang sama.
Fatimah melihat Fajar tidak fokus pada pelajaran. “Kamu kenapa, Jar? Sakit?” tanya Fatimah.
Fajar mengangguk. “Perutku sakit, Kak. Mungkin karena es yang tadi.”
Fatimah menghela napas. “Aku sudah bilang, jajan di kantin Ibu Siti saja. Makanan di luar belum tentu bersih.”
Melihat kondisi Fajar dan Budi, Bu Guru Yanti memanggil mereka berdua. Bu Guru Yanti kemudian menjelaskan, “Anak-anak, tidak semua makanan yang terlihat menarik itu sehat. Kadang, warna yang terlalu mencolok bisa jadi berasal dari pewarna buatan yang berbahaya.”
Bu Guru Yanti juga mengingatkan, “Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu menjaga kesehatan. Dengan memilih makanan yang sehat, kita bersyukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan.”
Fajar dan Budi merasa menyesal. Mereka meminta maaf kepada Bu Guru Yanti. Bu Guru Yanti memberikan mereka obat sakit perut dan menyuruh mereka istirahat.
Saat jam istirahat tiba, Fajar dan Budi pergi ke kantin Ibu Siti. Mereka membeli kue dan segelas susu hangat. Makanan itu terasa sangat nikmat. Ibu Siti juga mengingatkan, “Jajanan di sini selalu Ibu masak dengan bersih, Nak. Tidak perlu khawatir.”
Fajar dan Budi tersenyum. Mereka belajar bahwa kesehatan itu jauh lebih berharga dari sekadar jajanan yang terlihat menarik. Mereka berjanji, mulai sekarang, akan selalu jajan di kantin Ibu Siti. Dan mereka juga belajar, bersyukur atas nikmat kesehatan adalah hal yang sangat penting.
