Langit di atas Pelaihari sore itu perlahan berubah menjadi jingga keemasan, memantul di permukaan air waduk di kejauhan. Namun, ketenangan di Gang Hikmah terusik ketika terdengar suara tangisan kecil dari rumah Nomor 14. Ternyata, putra bungsu Agustina Rahmi yang bernama Farhan sedang diserang demam tinggi setelah pulang bermain bola di lapangan dekat perkantoran Gagas.
Seketika itu juga, naluri keibuan Agustina yang "pro-medis" bangkit. Ia segera mengambil termometer digital dari kotak P3K miliknya. Bunyi tit... tit... tit... terdengar nyaring, menunjukkan angka 38,9 derajat Celsius. Tanpa membuang waktu, Agustina menyiapkan segelas air putih dan satu tablet paracetamol sirup yang dosisnya sudah ia hitung dengan teliti sesuai berat badan anaknya.
"Ayo sayang, minum ini dulu. Ini akan menghambat enzim siklooksigenase di otakmu supaya demamnya turun," ujar Agustina dengan istilah medis yang membuat si kecil Farhan hanya melongo bingung.
Di saat yang bersamaan, Melysa yang sedang menyiram tanaman kumis kucing di halaman depan, menangkap radar "kedaruratan" dari rumah sebelah. Sebagai tetangga yang sudah menganggap anak Nina seperti anaknya sendiri, Melysa segera meletakkan selang airnya dan menghampiri jendela rumah Agustina yang terbuka.
"Jeng Nina! Kenapa si Farhan? Kok kedengarannya sedang rewel sekali?" tanya Melysa dengan nada cemas yang tulus.
Agustina muncul di balik jendela dengan wajah lelah. "Ini Jeng, Farhan demam tinggi. Sepertinya kelelahan dan mungkin terpapar virus di lapangan. Ini baru saya kasih obat penurun panas."
Melysa terdiam sejenak, matanya berkedip-kedip seolah sedang memproses data di kepalanya. "Jeng Nina, obat kimia itu bagus, tapi efeknya tidak instan untuk membuat anak nyaman. Tunggu sebentar, saya punya 'senjata rahasia' warisan nenek moyang urang Banjar."
Sebelum Agustina sempat menolak atau menjelaskan tentang farmakokinetik obat, Melysa sudah melesat kembali ke dapurnya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa piring kecil berisi beberapa butir bawang merah yang sudah dikupas dan diiris tipis, dicampur dengan sedikit minyak kayu putih dan parutan asam jawa.
"Nah, ini dia! Kompres bawang merah dan asam jawa," ujar Melysa bangga saat masuk ke kamar Farhan (setelah meminta izin, tentu saja). "Ini namanya kearifan lokal, Jeng. Bawang merah ini mengandung atsiri yang bisa membantu melebarkan pembuluh darah secara alami melalui pori-pori kulit, jadi panasnya cepat keluar."
Agustina memandang piring itu dengan tatapan antara ngeri dan ragu. "Tapi Jeng Mel, secara klinis... maksud saya, baunya ini lho, nanti Farhan malah merasa seperti bumbu dapur berjalan. Apakah tidak ada kontaminasi bakteri jika ditaruh di kulit yang sedang panas?"
Melysa tertawa lebar sambil mulai mengoleskan ramuan itu ke lipatan ketiak dan ubun-ubun Farhan yang tampak mulai menikmati rasa dingin dari asam jawa tersebut. "Jeng Nina, ilmu medis itu hebat, tapi sentuhan alami ibu dengan bahan dari bumi Allah ini punya 'keberkahan' tersendiri. Anggap saja ini kolaborasi. Obat Jeng Nina bekerja dari dalam, bawang saya bekerja dari luar. Win-win solution, kan?"
Farhan yang tadinya merintih, perlahan-lahan mulai tenang. Aroma bawang merah yang menyengat bercampur dengan wangi minyak kayu putih memenuhi ruangan, mengalahkan bau disinfektan yang biasanya mendominasi rumah Agustina.
Keluarga Melysa memang unik; suaminya, Pak Ahmad, sering bercanda bahwa jika mereka sakit, mereka tidak pergi ke apotek, tapi ke "apotek hidup" di belakang rumah. Sementara keluarga Agustina, melalui Pak Ridwan, sering membalas bahwa mereka adalah donatur tetap apotek di Jalan seberang karena saking percayanya pada obat-obatan pabrik.
Namun, di tengah drama suhu tubuh sore itu, sebuah momen komedi terjadi. Suami Agustina, Pak Ridwan, baru saja pulang kerja dan langsung masuk ke kamar. Ia mengendus udara dengan bingung.
"Ma, kamu sedang masak soto banjar di dalam kamar Farhan ya? Kok baunya sedap sekali, ada bau bawang goreng dan rempah-rempahnya?" tanya Pak Ridwan polos.
Melysa dan Agustina spontan tertawa bersama, memecah ketegangan yang sempat ada. Ternyata, bau ramuan herbal Melysa memang identik dengan bumbu dasar masakan khas Kalimantan Selatan.
"Ini bukan soto, Pa! Ini Farhan sedang 'dimarinasi' sama Jeng Melysa supaya panasnya turun," jawab Agustina sambil memegang tangan Melysa. Ada rasa terima kasih yang mendalam di matanya. Walaupun ia tetap percaya pada paracetamolnya, ia tidak bisa memungkiri bahwa perhatian dan kehadiran Melysa memberikan ketenangan psikologis yang tidak bisa dibeli di apotek manapun.
Malam itu, Gang Hikmah kembali tenang. Farhan akhirnya tertidur lelap setelah keringat dingin mulai keluar—hasil dari kerja sama antara kimia modern dan bawang merah kampung. Melysa pulang ke rumahnya dengan hati puas, sementara Agustina mencatat di buku hariannya: "Ternyata, kesehatan itu bukan hanya soal molekul, tapi juga soal kepedulian tetangga."
Catatan Penting untuk Pembaca (SEO & Health):
Dalam dunia kesehatan, penggunaan bawang merah untuk menurunkan demam adalah praktik tradisional yang dipercaya dapat membantu proses penguapan panas melalui dilatasi pembuluh darah kulit (vasodilatasi). Namun, penggunaan obat penurun panas (Antipiretik) seperti Paracetamol tetap menjadi standar medis utama untuk mencegah kejang demam pada anak. Pastikan untuk selalu memantau suhu tubuh dengan termometer akurat.
Untuk panduan penanganan demam pada anak secara medis, Anda dapat merujuk pada Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atau melihat panduan herbal yang aman di Katalog Tanaman Obat Nasional oleh Kemenkes.
Kisah ini mengajarkan bahwa dalam Islam, menghormati tetangga adalah kewajiban, dan menggabungkan ikhtiar lahiriah (medis) dengan doa serta kearifan alam adalah bentuk syukur atas nikmat akal dan bumi yang diberikan oleh Allah SWT di tahun 2025 ini.
