Sore itu, udara Puruk Cahu terasa sedikit gerah. Muhammad Hifni, yang masih mengenakan celana kain cokelat khas PNS namun sudah mengganti atasan dengan kaus polo santai, melangkah ragu ke area belakang pasar tradisional. Di tangannya, Khalisah menggenggam erat sebuah botol plastik kosong, siap diisi dengan "penghuni" baru untuk akuariumnya yang masih tampak sepi.
"Ayah, Bubbles butuh teman. Dia tadi terlihat sedih, sendirian seperti Ayah kalau Bunda sedang rapat di sekolah," ucap Khalisah dengan logika anak enam tahunnya yang ajaib.
Hifni hanya terkekeh. "Bubbles itu ikan, Nak. Dia tidak butuh teman curhat, dia butuh oksigen. Tapi baiklah, kita cari satu lagi yang warnanya cerah."
Langkah mereka terhenti di depan sebuah kios yang dipenuhi deretan toples kaca kecil. Di sana, seorang wanita berhijab cokelat susu sedang membungkuk, membantu seorang anak perempuan memilih ikan Cupang.
"Tiara, pilihlah yang siripnya utuh dan warnanya merah membara. Merah itu melambangkan keberanian, seperti pahlawan dalam buku ceritamu," suara wanita itu terdengar sangat lembut, dengan artikulasi yang sangat terjaga—khas seseorang yang sangat menghargai keindahan Bahasa Indonesia.
Hifni mematung. Suara itu. Irama bicaranya yang tertata. Ia merasa seperti ditarik kembali ke lorong SMA belasan tahun yang lalu, tahun 2013, saat ia masih sibuk dengan urusan organisasi siswa dan wanita di depannya ini adalah primadona kelas yang selalu menulis puisi di buku catatan sastranya.
"Nadira? Nadira Asfia?" sapa Hifni ragu.
Wanita itu menoleh. Matanya membulat sesaat sebelum sebuah senyum sopan terukir. "Hifni? Ya Allah, Muhammad Hifni?"
Dunia terasa mendadak sempit di antara bau amis pasar ikan dan riuh rendah suara pedagang. Nadira Asfia, lulusan 2013 yang dulu sempat menjadi "teman dekat" Hifni sebelum jarak memisahkan mereka demi gelar sarjana, kini berdiri tepat di depannya.
"Kamu... masih di Puruk Cahu?" tanya Hifni canggung. Tangannya refleks merapikan rambutnya yang sedikit berantakan terkena angin motor.
"Aku mengajar di sini, Hifni. Guru Bahasa Indonesia," jawab Nadira singkat namun elegan. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada Khalisah. "Ini putrimu? Cantik sekali, mirip ibunya sepertinya."
"Iya, ini Khalisah. Dan ini...?" Hifni menunjuk ke arah Tiara.
"Ini Tiara Andini. Dia sedang jatuh cinta pada ikan Cupang," Nadira memperkenalkan putrinya.
Khalisah dan Tiara saling pandang. Jika ayah dan ibunya terjebak dalam nostalgia canggung, dua bocah ini justru langsung masuk ke mode kompetisi.
"Ikan Mas Kokiku lebih besar dari ikanmu!" cetus Khalisah, memecah suasana.
Tiara Andini, yang rupanya mewarisi gaya bicara ibunya yang baku, menjawab, "Besar bukan berarti indah, Khalisah. Ikan Cupangku ini punya sirip yang megah seperti gaun pesta. Ia adalah petarung yang anggun."
Hifni dan Nadira saling berpandangan, lalu keduanya tertawa kecil. Kecanggungan itu mencair sejenak. Namun, di balik tawa itu, Hifni mulai berpikir: bagaimana ia menjelaskan pertemuan ini pada Rina Rufida di rumah nanti? Rina adalah pakar grammar yang sangat teliti, dan dia pasti tahu jika suaminya menyembunyikan sesuatu—termasuk fakta bahwa ia baru saja bertemu kembali dengan sosok dari masa lalu tahun 2013.
"Kapan-kapan, biarlah mereka bermain. Mungkin akuarium kita bisa 'berdiskusi' bersama," tutup Nadira dengan gaya puitisnya sebelum berpamitan.
Hifni pulang dengan membawa satu ekor ikan baru dan satu tumpuk beban pikiran tentang bagaimana melakukan "diplomasi rumah tangga" yang aman malam ini.
Tips Mengatasi Ikan Stres setelah dari Pasar (SEO Optimized):
Baru membeli ikan seperti Khalisah dan Tiara? Jangan langsung memasukkannya ke akuarium. Lakukan proses Aklimasi Ikan Hias dengan mengapungkan plastiknya di air akuarium selama 15-20 menit. Ini penting agar ikan tidak kaget dengan perubahan suhu, terutama di iklim Kalimantan yang bisa berubah drastis. Jika Anda pecinta kucing, pastikan plastik ikan tetap jauh dari jangkauan si meong saat proses ini berlangsung
