Hari Senin pagi di SMA Negeri 1 Banjarbaru selalu identik dengan upacara bendera dan rutinitas padat. Bagi Zahra, Senin pagi ini lebih menegangkan daripada ujian Biologi. Pasalnya, hari ini ada rapat OSIS penting yang mengharuskannya tampil rapi, profesional, sekaligus stylish.
Masalahnya satu: Zahra mengalami krisis fashion hijab syar'i.
Di kamarnya, lemari pakaian Zahra terbuka lebar. Puluhan pashmina dan khimar berbagai warna berserakan di tempat tidur. Dia sudah mencoba lima style berbeda, tapi tidak ada yang terasa pas di hatinya—atau di kepalanya.
"Ini terlalu formal kayak mau kondangan," gumamnya sambil melepas hijab satin ungu. "Ini terlalu santai kayak mau ke pasar. Aduh!"
Zahra mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi Instagram. Matanya dengan cepat memindai unggahan terbaru dari idolanya, Dian Pelangi dan Ria Miranda. Dia butuh inspirasi segera. Dia mengagumi bagaimana kedua desainer itu mampu mengombinasikan unsur tradisional, modern, dan kaidah syar'i menjadi satu kesatuan yang indah dan elegan.
"Aku butuh sentuhan artistik Dian Pelangi, tapi dengan kepraktisan Ria Miranda," keluhnya pada diri sendiri.
Di luar kamar, Fikri yang sedang lewat sambil bersenandung lagu Chrisye menghentikan langkahnya. Pintu kamar Zahra yang terbuka memperlihatkan pemandangan 'medan perang' pakaian.
“Astaghfirullah, Nak. Ini kamar apa toko kain?” tanya Fikri sambil tertawa.
Zahra menoleh dengan wajah panik. “Ayah! Tolongin Zahra! Aku nggak punya baju yang pas buat rapat OSIS!”
Fikri masuk ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur yang penuh kain. “Ya Allah, padahal bajumu banyak begitu. Rapat OSIS saja kok repot amat, kayak mau meeting sama produser film nasional.”
“Ini penting, Yah! Ini soal image OSIS kita!” Zahra mulai frustrasi.
Fikri memungut selembar pashmina berwarna dusty pink. “Pakai yang ini saja, Nak. Warnanya lembut, sopan, dan nggak mencolok. Yang penting kan aurat tertutup dan kamu nyaman.”
“Tapi ini polos banget, Yah! Nanti aku kelihatan kayak ibu-ibu mau ke majelis taklim biasa,” protes Zahra.
“Memang salah kalau kelihatan kayak ibu-ibu majelis taklim?” Tiba-tiba Aisyah muncul di pintu, siap dengan seragam PNS-nya. “Umi pakai begini setiap hari juga bahagia tuh.”
Zahra cemberut. Aisyah masuk dan mendekati putrinya. Dia paham betul dilema remaja putrinya.
“Sini Umi bantu,” kata Aisyah lembut. Dia memilih gamis berwarna abu-abu muda dan pashmina dusty pink pilihan Fikri.
Aisyah mulai melilitkan pashmina di kepala Zahra dengan gerakan cepat dan rapi. Hanya butuh dua menit, sebuah style hijab syar'i yang simpel, elegan, namun tetap terlihat muda dan segar terbentuk.
“Umi, style ini kayak... kayak yang dipakai Kak Ria Miranda di look terbarunya!” seru Zahra takjub melihat pantulan dirinya di cermin.
Aisyah tersenyum. “Makanya, nggak usah pusing mikirin tren terus. Kesederhanaan itu seringkali justru yang paling indah dan berkarakter.”
Fikri mengangguk bangga. “Betul itu. Less is more, Nak. Kayak lagunya Ebiet G. Ade, sederhana tapi maknanya nancep ke hati.”
Di sekolah, Zahra melenggang percaya diri. Rapat OSIS berjalan lancar. Beberapa teman putrinya memuji style hijabnya hari itu.
“Ra, hijab lo keren banget hari ini! Simpel tapi elegan. Brand apa?” tanya salah satu temannya.
Zahra tersenyum. “Rahasia dong. Yang penting syar’i dan nyaman. Terinspirasi dari Umi dan sedikit polesan ala Ria Miranda.”
Zahra sadar hari itu. Ia bisa tampil modis dan sesuai kaidah Islam tanpa harus berlebihan. Ia belajar bahwa inspirasi dari para idola seperti Dian Pelangi dan Ria Miranda bukanlah soal meniru mentah-mentah, tapi menemukan jati diri dan kenyamanan dalam berbusana Muslimah.
Dilema style hijabnya teratasi, dan ia siap untuk babak selanjutnya dalam kehidupan remajanya di Banjarbaru.
