Hari Minggu adalah hari paling sakral bagi keluarga Hifni dan Rina. Tidak ada apel pagi, tidak ada rapat kantor, tidak ada tugas mengajar. Hari itu sepenuhnya didedikasikan untuk family time. Pagi ini, rencananya mereka hanya akan bersantai di rumah, menikmati udara pagi Barabai yang segar dan sarapan kue apam khas lokal yang dibeli Rina semalam.
Muhammad Hifni, yang sudah rapi dengan kaus polo dan sarung, baru selesai menyiram tanaman hias di halaman depan. Rina sedang mencuci piring sisa sarapan. Sementara Khalisa Salsabila, putri semata wayang mereka yang berusia lima tahun, sedang asyik menggambar di meja ruang tamu dengan pensil warna-warni.
Suasana tenang itu tiba-tiba terusik oleh pertanyaan Khalisa yang dilontarkan dengan nada polos, tapi berhasil membuat Rina yang sedang mengelap piring terdiam kaku.
"Ummi, kenapa ya, kalau kita salat harus pakai mukena?"
Rina menghentikan aktivitasnya. Ia mendekati Khalisa, duduk di kursi kecil di sebelah anaknya. "Karena mukena itu penutup aurat, Nak. Allah sayang sama kita, jadi kita harus tutup aurat yang rapi waktu menghadap Allah."
Khalisa mengangguk-angguk, tapi kerutan di dahinya menunjukkan ia belum puas. "Tapi kenapa Allah ndak bisa lihat kita kalau ndak pakai mukena?"
Rina tersenyum. "Bukan begitu, Sayang. Allah itu Maha Melihat, Dia bisa lihat kita kapan saja. Tapi pakai mukena itu tanda kita sopan, tanda kita menghormati Allah, sama seperti kita pakai baju bagus waktu ke pesta ulang tahun teman."
Khalisa terdiam sejenak, mencerna penjelasan ibunya. Kemudian ia kembali fokus pada gambarnya, menggambar sesuatu yang bentuknya mirip masjid dengan menara yang miring.
Saat Hifni masuk ke ruang tamu, Khalisa langsung mengalihkan target pertanyaannya.
"Abi, sapi katanya masuk surga ya?"
Hifni yang baru saja duduk di sofa, bingung. "Sapi siapa, Nak? Sapi mainanmu?"
"Bukan, sapi beneran! Yang kita kurban pas Idul Adha tahun lalu," jawab Khalisa dengan penuh penjiwaan. "Kata Pak Haji Saleh, sapi yang ikhlas dikurban itu masuk surga."
Hifni tersenyum. "Iya, Nak. Insya Allah, pahala kurban itu besar. Hewan yang jadi kurban itu bisa jadi kendaraan kita di akhirat nanti."
Khalisa meletakkan pensil warnanya. Matanya yang bulat menatap Hifni dengan serius luar biasa.
"Kalau sapi masuk surga, berarti sapi ndak mau lagi jadi sapi, Abi?"
"Maksud Khalisa?"
"Ya, kan enak jadi manusia. Bisa main sama sapi mainan.
Kalau di surga nanti, sapinya jadi manusia juga? Terus kita main sama sapinya yang sudah jadi manusia?"
Hifni dan Rina saling pandang, menahan tawa. Logika Khalisa memang seringkali melampaui nalar orang dewasa. Mereka berdua sering kali harus memutar otak untuk memberikan jawaban yang sederhana namun tetap benar secara akidah.
"Nanti di surga itu beda, Nak," Hifni mencoba menjelaskan. "Surga itu tempat paling indah yang pernah ada. Semua yang kita inginkan ada. Kalau Khalisa mau main sama sapi, sapinya ada, bentuknya paling bagus, paling lucu. Di surga itu ndak ada yang sedih, ndak ada yang sakit."
"Berarti di surga ndak ada tugas Bahasa Inggris dari Ummi?" Khalisa bertanya polos, membuat Rina melotot pura-pura marah.
"Enak saja! Di surga juga ada speaking class sama Ummi!" sahut Rina sambil mencubit gemas pipi Khalisa.
Gelak tawa pun memenuhi ruang tamu sederhana itu. Pertanyaan-pertanyaan Khalisa, meskipun kadang membuat pusing, justru menjadi momen berharga bagi Hifni dan Rina untuk menanamkan nilai-nilai Islami dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak.
Siang harinya, setelah salat Zuhur, Hifni mengajak Rina dan Khalisa pergi sebentar ke toko buku kecil di pusat kota Barabai. Hifni ingin mencari beberapa buku referensi tentang administrasi publik terbaru, sementara Rina mencari buku cerita anak Islami untuk Khalisa.
Di toko buku, Khalisa menemukan sebuah buku bergambar tentang kisah nabi-nabi. Dia langsung tertarik pada kisah Nabi Nuh AS dan kapalnya yang besar.
"Abi, Nabi Nuh hebat ya, bisa bikin kapal sebesar ini!" seru Khalisa sambil menunjuk gambar kapal di buku itu.
"Iya, Nak. Itu mukjizat dari Allah," jawab Hifni.
"Mukjizat itu apa, Abi?"
"Mukjizat itu sesuatu yang luar biasa, yang ndak bisa dilakukan manusia biasa, yang Allah berikan ke Nabi-Nya," jelas Hifni.
Khalisa terdiam lagi, berpikir keras. Setelah mereka membayar buku dan berjalan keluar dari toko, Khalisa kembali melontarkan pertanyaan mautnya.
"Abi, kalau Ummi bisa bikin nasi goreng seenak ini setiap pagi, itu mukjizat juga?"
Hifni dan Rina kembali tergelak. Rina tersipu malu, sementara Hifni mengangguk setuju.
"Iya, Nak. Buat Abi, masakan Ummi yang enak setiap pagi itu mukjizat kebahagiaan rumah tangga kita," kata Hifni tulus.
Rina memukul pelan lengan suaminya, tapi matanya memancarkan kebahagiaan. Pujian kecil dari Hifni, yang dibumbui kepolosan Khalisa, terasa lebih manis daripada kenaikan pangkat atau TKD penuh.
Di tengah kesibukan mereka sebagai abdi negara yang dihadapkan pada rutinitas kedinasan, momen-momen seperti inilah yang menjadi pengisi ulang energi mereka. Logika Khalisa yang unik dan pertanyaan-pertanyaan agamanya yang mendasar memaksa Hifni dan Rina untuk selalu belajar, merenung, dan mensyukuri setiap detail kecil dalam kehidupan mereka.
Mereka kembali ke rumah di Komplek Harmoni Indah dengan hati yang penuh. Minggu santai mereka memang diwarnai rentetan pertanyaan ajaib, tapi justru karena itulah, rumah mereka terasa hidup, hangat, dan penuh berkah. Mereka adalah keluarga kecil PNS di Barabai yang bahagia, dengan iman sebagai pondasi dan tawa Khalisa sebagai melodi utamanya.
