Bab 4: Kisah di Balik Jeda

Bab 4: Kisah di Balik Jeda

Lev
0
Novel fantasi slice-of-life tentang dua elf terakhir, Eva dan Andriy, yang bertemu tak terduga di Greenland. Kisah persahabatan, rahasia, dan kehidupan abadi di dunia modern.


Barak ekspedisi yang tadinya ramai dengan obrolan kini terasa seperti ruangan yang hanya diisi oleh dua orang. Dunia di sekitar mereka memudar, menyisakan hanya tatapan mata Eva dan Andriy yang saling bertemu. Sebuah keheningan canggung, namun juga penuh kelegaan, menyelimuti mereka. Andriy adalah yang pertama memecah keheningan itu.

"Sudah berapa lama?" tanyanya, suaranya pelan, seolah takut pertanyaan itu akan terbang ditiup angin dan terdengar oleh telinga manusia.

"Sudah lama," jawab Eva, menundukkan kepala. "Ratusan musim. Saya berhenti menghitung setelah era Napoleon."

Andriy tersenyum kecil. "Saya juga. Rasanya tidak ada gunanya lagi." Ia menyentuh ukiran elangnya. "Ukiran ini," katanya, "adalah sisa-sisa terakhir dari hutan tempat saya lahir. Hutan itu sekarang menjadi area perumahan."

Eva menatap ukiran itu, merasakan sentuhan magis dari karya seni itu. Ia melihat penderitaan dan kerinduan yang sama yang ia rasakan. "Saya datang dari Alaska," katanya. "Hutan di sana masih tersentuh, tetapi mereka membangun jalan, mereka memasang tiang listrik. Dunia berubah, dan kita tetap sama."

"Saya tahu perasaan itu," kata Andriy. "Melihat anak-anak manusia tumbuh, menua, dan pergi. Ini menyakitkan."

Mata Eva berkaca-kaca. "Saya berhenti mencoba. Saya membangun dinding. Saya tinggal sendiri di kabin di tengah hutan. Saya pikir saya adalah yang terakhir. Kesepian itu... tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya."

"Sama," bisik Andriy. "Ukiran adalah pelarian saya. Saya mencoba untuk membingkai apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan, dalam kayu. Tapi pada akhirnya, itu hanya ukiran. Ia tidak hidup."

"Kenapa kamu di sini?" tanya Eva, matanya penasaran.
"Saya mendengar tentang ekspedisi ini," jawab Andriy. "Mereka mencari legenda kuno. Saya pikir, ini adalah kesempatan terakhir saya untuk melihat sesuatu yang berasal dari masa lalu. Untuk melihat apakah ada jejak yang tersisa."

Eva mengangguk. "Saya juga. Saya tidak tahu kenapa, tapi saya merasa terpanggil. Rasanya seperti ada sesuatu yang memanggil saya ke sini."

Andriy tersenyum penuh arti. "Mungkin itu kita. Mungkin takdir yang mempertemukan kita."

Percakapan mereka terpotong saat seorang peserta lain mendekati meja mereka, ingin tahu. Andriy dengan cepat kembali menjadi dirinya yang canggung, dan Eva menjadi sosoknya yang tertutup. Mereka berbicara tentang hal-hal sepele, tentang cuaca, tentang ekspedisi, tentang hal-hal yang tidak penting bagi mereka. Ketika peserta itu pergi, keheningan kembali menyelimuti mereka.

"Kita harus pergi," kata Andriy tiba-tiba.

"Ke mana?" tanya Eva, terkejut.

"Entah. Jauh dari sini. Di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri. Di mana kita tidak perlu berpura-pura." Andriy menatapnya dengan harapan di matanya. "Saya tidak bisa kembali ke Chelyabinsk. Saya tidak bisa kembali ke kesendirian itu. Tidak lagi."

"Saya tidak tahu," bisik Eva. "Saya tidak pernah berpikir ini akan terjadi."

"Itu karena kita tidak pernah mengira ada orang lain," kata Andriy. "Tapi sekarang ada." Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kita tidak perlu lagi sendirian, Eva."

Hati Eva, yang telah membeku selama berabad-abad, terasa hangat. Sebuah sensasi yang ia pikir tidak akan pernah ia rasakan lagi. Sebuah harapan kecil muncul di hatinya, seperti tunas pertama yang tumbuh di musim semi setelah musim dingin yang panjang. Ia menatap mata Andriy, mata yang sama tua dan lelahnya dengan matanya, dan ia tahu ia tidak bisa kembali ke kehidupannya yang dulu.

"Baiklah," kata Eva. "Kita pergi."

Malam itu, di dalam tenda masing-masing, Eva dan Andriy tidak bisa tidur. Mereka berdua memikirkan percakapan mereka, tentang pertemuan tak terduga yang mengubah segalanya. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ke mana mereka akan pergi, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka merasakan kegembiraan. Mereka tidak lagi sendirian. Mimpi-mimpi mereka, harapan-harapan mereka, tidak lagi harus dipendam. Di tengah hamparan es Greenland, dua elf terakhir akhirnya menemukan satu sama lain, dan dengan demikian, sebuah babak baru dalam hidup mereka yang abadi dimulai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default