Pagi di Pantai Batakan disambut kokok ayam hutan dan udara pegunungan yang menusuk tulang. Setelah salat Subuh berjamaah dan sarapan mi instan yang dihangatkan kembali, empat sahabat itu segera berkemas. Tujuan hari ini adalah Pantai Joras, sebuah pantai tersembunyi yang konon hanya bisa diakses dengan sedikit perjuangan hiking.
"Siap guys? Peta bilang jaraknya sekitar 5 kilometer dari sini, melalui perbukitan," kata Aisyah, siap dengan sepatu hiking dan daypack-nya.
Zahra sudah siap dengan segala perlengkapan vlogging-nya, termasuk stabilizer dan powerbank cadangan. "Siap dong! Zahra siap menaklukkan rimba raya Kalimantan!"
Lev tersenyum penuh tekad. Tantangan fisik semacam ini adalah yang ia butuhkan untuk mengalihkan pikirannya dari kegelisahan eksistensialnya. Faris, seperti biasa, santai tapi siap sedia dengan kamera terbaiknya.
Perjalanan dimulai. Awalnya treknya landai, melintasi perkebunan warga dan semak belukar. Namun, semakin jauh, medannya semakin menantang. Tanjakan curam, jalan setapak yang licin karena embun pagi, dan akar pohon yang melintang menjadi rintangan.
Zahra yang awalnya paling semangat, mulai mengeluh di pertengahan jalan. "Ya Allah, jauh banget! Ini namanya hiking apa maraton bukit, sih? Aisyah, review peta kamu dong, jangan-jangan kita kesasar!"
Aisyah yang berjalan di depan dengan langkah pasti, menoleh ke belakang. "Sabar, Zahra. Sedikit lagi. Kita sudah di jalur yang benar. Kata Allah, mintalah pertolongan dengan sabar dan salat. Ujian ini kecil kok dibanding ujian hidup lainnya."
Faris yang berjalan di paling belakang, bertugas mengawasi Zahra yang seringkali ceroboh. "Makanya, Zah, jangan kebanyakan bikin konten prank, energinya habis buat ketawa. Jalan santai aja, nikmati prosesnya."
Lev yang berjalan di samping Aisyah, merasakan napasnya mulai tersengal. Namun, setiap kali ia merasa lelah, ia teringat tujuan perjalanannya: mencari ketenangan hati. Ia memfokuskan pikirannya pada ayat-ayat Al-Qur'an tentang perjuangan dan kesabaran.
"Hidup ini memang perjalanan mendaki, Aisyah," kata Lev sambil menghela napas. "Kadang landai, kadang curam. Tapi ujungnya pasti ada pemandangan indah yang menanti."
Aisyah mengangguk setuju. "Betul, Lev. Sama kayak jalan dakwah. Nggak selamanya mudah, banyak rintangan dan godaan. Tapi kalau niatnya lurus dan kita sabar, insyaAllah tujuan kita sampai."
Setelah perjuangan sekitar dua jam, mereka akhirnya tiba di puncak bukit terakhir. Dari sana, pemandangan Pantai Joras yang masih perawan terhampar di depan mata.
Pantai itu luar biasa indah. Pasirnya putih kecoklatan, berpadu dengan air laut biru kehijauan yang jernih. Diapit oleh tebing-tebing karang yang kokoh, pantai ini terasa seperti surga tersembunyi. Tidak ada satu pun wisatawan lain di sana, seolah-olah pantai itu milik mereka berempat.
Zahra, yang tadinya mengeluh, langsung terlonjak kegirangan. "MasyaAllah! Indah banget! Lelahku terbayar lunas!" Ia langsung berlari ke bibir pantai, meninggalkan segala penatnya.
Faris dengan sigap mengeluarkan kameranya dan mulai memotret. Setiap angle terlihat sempurna. Lev dan Aisyah tersenyum puas, menikmati keindahan alam ciptaan Allah yang luar biasa.
Mereka menggelar tikar dan menikmati bekal makan siang sambil mengagumi panorama. Faris mengambil banyak foto mereka, mengabadikan momen kebersamaan di pantai tersembunyi itu.
Pantai Joras mengajarkan mereka sebuah pelajaran berharga: keindahan dan kebahagiaan seringkali membutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra. Sama halnya dengan perjuangan di jalan dakwah dan dalam hidup, tantangan adalah bagian dari proses. Jika dihadapi dengan keteguhan hati dan niat yang lurus, hasil akhirnya pasti sepadan.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sana, menikmati privasi dan ketenangan yang jarang mereka temukan di kota. Saat matahari mulai beranjak turun, mereka kembali menapaki jalan setapak, kali ini dengan langkah yang lebih ringan dan hati yang penuh rasa syukur. Perjalanan ini benar-benar mulai mengubah Lev dari dalam.
