Tawa kecil Lev kemarin, meski singkat, sudah cukup menjadi bekal bagi Cindy. Pagi ini, ia kembali ke kamar Lev dengan membawa nampan berisi sarapan: nasi kuning, lauk pauk, dan segelas teh hangat. "Selamat pagi, Manusia Gua," sapa Cindy, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
"Nasi kuning? Dari mana dapatnya?" tanya Lev, suaranya terdengar lebih baik dari kemarin.
"Tante Rosa yang masak," jawab Cindy. "Katanya, kalau kamu nggak makan, nanti Tante Rosa akan menangis. Kamu mau Tante Rosa nangis?"
Lev terdiam, lalu mengambil sendok dan mulai makan. Ini adalah pertama kalinya ia makan dengan lahap sejak Vania tiada.
Setelah Lev selesai makan, Cindy duduk di sebelahnya. Suasana menjadi hening, namun bukan kesunyian yang mencekam seperti sebelumnya. Cindy memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan. "Lev... aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
Lev menghentikan gerakannya. "Ke mana?"
"Ke tempat Vania," jawab Cindy, dengan nada yang lembut. "Aku ingin berziarah. Aku tahu itu akan berat, tapi kurasa... itu perlu."
Lev menatap Cindy, matanya kembali menunjukkan kesedihan. "Kenapa? Kamu tidak perlu melakukan itu, Cindy. Kamu baru saja sampai."
"Aku tahu. Tapi aku ingin. Sebagai sepupumu, dan sebagai orang yang ingin kamu bahagia, aku ingin melihat tempat di mana Vania beristirahat," jawab Cindy. "Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Tapi aku tetap akan pergi."
Lev terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku ikut."
Perjalanan ke makam Vania terasa begitu berat bagi Lev. Ia diam saja di sepanjang jalan, pandangannya kosong. Cindy mengamati sepupunya, menyadari betapa dalam luka di hatinya. Mereka tiba di pemakaman. Makam Vania bersih dan terawat, ditaburi bunga-bunga segar.
Lev langsung berjongkok di samping makam, mengusap nisan dengan lembut. Cindy berdiri di belakangnya, memberi ruang untuk Lev berduka. "Vania... aku datang. Maaf aku lama tidak ke sini," bisik Lev, suaranya bergetar.
Melihat Lev yang kembali larut dalam kesedihan, Cindy tahu ini adalah saat yang tepat untuk membantunya melepaskan. Ia duduk di samping Lev. "Ceritakan tentang dia," pinta Cindy.
Lev menoleh ke arah Cindy, matanya masih berkaca-kaca. "Kamu tahu Vania itu seperti apa?"
"Aku hanya tahu dia cantik dan baik," jawab Cindy.
"Vania itu... adalah orang yang paling sabar yang pernah aku kenal," mulai Lev. "Dia selalu tahu cara membuat aku tenang kalau aku sedang marah. Dia selalu ada untukku, bahkan saat aku sendiri tidak tahu apa yang aku mau. Dia seperti... rumah.
Lev menceritakan semua kenangan indah mereka. Mulai dari pertama kali bertemu di sebuah acara amal, bagaimana mereka saling jatuh cinta, hingga rencana-rencana masa depan yang kini harus terkubur. Cindy mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk, tanpa menghakimi atau menginterupsi.
"Kami sudah berencana untuk menikah tahun depan," ujar Lev, suaranya pecah. "Kami sudah punya daftar nama anak, kami sudah punya rencana untuk membangun rumah di dekat sini, agar bisa dekat dengan orang tua. Tapi... semuanya hilang begitu saja."
Air mata Lev jatuh, membasahi tanah di makam Vania.
"Aku tidak tahu bagaimana cara hidup tanpanya," kata Lev, suaranya terdengar seperti bisikan.
Cindy mengambil tangan Lev dan menggenggamnya erat. "Lev, cinta Vania tidak akan pernah hilang. Cintanya tetap ada di sini," kata Cindy, meletakkan tangannya di dada Lev. "Tapi kamu juga harus melanjutkan hidup. Vania pasti tidak ingin melihat kamu begini. Dia ingin kamu bahagia."
Lev hanya diam.
Cindy lantas mengusap nisan Vania. "Vania, saya Cindy, sepupu Lev. Saya tahu kamu adalah orang yang baik. Saya janji, saya akan buat Lev bahagia lagi. Semoga kamu tenang di sana."
Setelah itu, Cindy mengajak Lev berdoa bersama. Mereka berdua khusyuk memanjatkan doa, meminta ampunan untuk Vania dan ketenangan untuk hati Lev.
Setelah berdoa, Cindy berdiri. "Ayo pulang, Lev," ajaknya. "Vania sudah tenang. Sekarang giliran kamu yang menenangkan hati."
Di perjalanan pulang, Lev tidak lagi diam. Ia menceritakan satu per satu kenangan lucunya bersama Vania, dan Cindy mendengarkan dengan tulus. Cindy menyadari, ziarah ini adalah langkah awal yang sulit, tapi juga langkah yang paling penting. Dengan menceritakan kenangan, Lev tidak lagi mengurung Vania di dalam hatinya, melainkan membiarkannya pergi dengan damai.
