Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Banjarmasin, namun ketenangan di kediaman Lev ℛyley sudah pecah sejak kumandang Subuh tadi. Jika di Mekah beberapa bulan lalu mereka berjuang menembus lautan manusia di tawaf, kini Lev harus berjuang menembus tumpukan koper di ruang tamunya sendiri.
"Bun, jujur sama Ayah. Kita ini mau ke Tanjung atau mau buka pameran barang pecah belah di Tabalong?" Lev berdiri dengan tangan di pinggang, menatap satu koper besar yang resletingnya sudah terlihat "tersiksa" karena dipaksa menutup.
Anindya Putri, yang tetap terlihat segar dengan mukena sutra dan ponsel di tangan, hanya memberikan senyum andalannya—senyum yang biasanya membuat Lev luluh sekaligus pasrah. "Itu bukan cuma baju, Yah. Itu ada titipan kain sasirangan buat Ibu Rina, ada set alat masak buat drg. Dina, sama ada stok camilan buat Rayyan di jalan. Ayah tahu sendiri kan, anak jagoan kita itu kalau lapar bisa berubah jadi rewel level maksimal."
Lev menghela napas, jemarinya memijat kening. Sebagai seorang IT yang terbiasa dengan efisiensi data, melihat bagasi mobilnya "overload" adalah sebuah error sistem yang nyata. Namun, ia tahu, melawan instruksi sang istri sama saja dengan mencoba coding tanpa kopi: mustahil.
"Aisyah! Maryam! Bantu Ayah angkat ini ke bagasi!" teriak Lev.
Aisyah Humaira, si mahasiswi PGSD ULM yang cekatan, muncul dengan ransel yang tertata rapi. Sebagai calon guru, ia adalah orang paling terorganisir di keluarga ini. "Tenang, Yah. Aisyah sudah hitung volumenya. Kalau kita pakai formasi 'Tetris', semua pasti masuk."
Di belakangnya, Maryam Safiya berjalan pelan sambil memeluk buku sketsanya. "Aku nggak bawa banyak barang, Yah. Cuma buku gambar sama cat air. Aku mau gambar api abadi di Tugu Obor nanti," ucapnya lembut, kontras dengan keriuhan di sekitarnya.
Sementara itu, Ghina Qalbi sudah beraksi di depan kamera ponselnya yang dipasang di tripod mini. "Hai Guys! Hari ini keluarga Viral Banjarmasin mau invasi ke Tabalong! Perjalanan lima jam, tapi tenang, aku bakal review semua rest area yang kita singgahi. Stay tuned!"
"Ghina, bantu angkat tas mukena dulu, baru ngonten!" tegur Anindya.
"Siap, Kanjeng Mami!" jawab Ghina sambil cengengesan.
Drama puncaknya adalah Rayyan Zuhayr. Bocah kecil itu berlarian di sela-sela koper sambil membawa sorban oleh-oleh dari Madinah yang dililitkan asal-asalan di kepalanya. "Ayah, kita mau naik unta lagi ya ke Tanjung?"
Lev berlutut, merapikan sorban jagoannya. "Enggak sayang, kita naik mobil. Tapi di Tanjung nanti ada banyak kucing. Rayyan jangan panggil mereka unta lagi ya?"
"Tapi kucing kan unta yang belum tumbuh besar, Yah?" jawab Rayyan dengan wajah polos tanpa dosa.
Lev hanya bisa menoleh ke arah Aisyah, "Syah, nanti kalau sudah jadi guru, tolong jelaskan perbedaan spesies ke adikmu ini ya."
Setelah perjuangan selama satu jam—yang melibatkan keringat, tawa, dan sedikit omelan kecil—mobil akhirnya siap berangkat. Lev duduk di kursi kemudi, menarik napas dalam-dalam, lalu memimpin doa safar. Suasana mendadak hening dan khusyuk. Ada getaran haru yang menyelinap; memori saat mereka bersama-sama berdoa di bus rombongan Umroh kembali terbayang.
"Bismillah, target kita: Tanjung, Tabalong. Misi: Menyambung ukhuwah yang dimulai dari Mekah," ucap Lev mantap.
Mobil pun bergerak perlahan meninggalkan Banjarmasin, membelah jalanan Ahmad Yani yang mulai padat. Mereka tidak tahu, bahwa di ujung jalan sana, di jantung kota Tabalong, dua keluarga "Salsabilla" sudah menyiapkan kejutan yang tak kalah seru.
