Keesokan paginya, semangat trio kita sudah membara. Mereka kembali ke area Tahura Sultan Adam, kali ini dengan persiapan yang lebih matang. Anatasya membawa peta detail area, Vania membawa perbekalan logistik yang lebih efisien, dan Lev membawa kamera kakeknya dengan niat yang sudah dimurnikan.
"Oke, menurut Codex dan peta topografi," Anatasya memulai, menunjuk sebuah area lembah yang lebih dalam, "habitat Owa Kalimantan (Hylobates albibarbis) ada di sekitar situ. Mereka hewan arboreal, sangat lincah di pepohonan. Ini bakal sulit."
"Sulit itu seru!" Vania sudah bersemangat. "Kita nggak bisa cuma ngejar dan foto. Mereka Rank B. Mereka pasti lebih pintar dari Bekas."
"Prof Rahmat bilang niat itu penting," Lev memegang erat kameranya. "Aku nggak akan memperlakukan mereka sebagai objek lagi, tapi sebagai calon mitra."
Mereka bergerak masuk ke dalam hutan yang lebih lebat. Suasana di sini lebih sepi dan asri, pepohonan tinggi menjulang. Oyen si kucing oren berjalan di depan, hidungnya mengendus udara, menjadi garda depan tim.
Setelah satu jam berjalan, Oyen mendesis pelan.
"Ada sesuatu di depan," bisik Anatasya.
Mereka mengendap-endap mendekati area kanopi pohon yang rapat. Terdengar suara siulan khas dan gerakan lincah di atas sana. Vania mendongak. Di dahan yang tinggi, terlihat dua ekor Owa Kalimantan, satu jantan dengan janggut putih khas, dan satu betina. Mereka bergelayutan dari satu pohon ke pohon lain dengan kecepatan luar biasa.
"Spesies: Owa Kalimantan (Hylobates albibarbis). Rank: B (Langka). Skill: Brankiasi (berayun) Super Cepat, Komunikasi Vokal."
"Rank B! Dua ekor!" bisik Lev, matanya berbinar.
"Oke, kita butuh strategi," Vania berbisik kembali, mengaktifkan gelang merahnya. "Mereka terlalu cepat untuk dikejar di darat. Oyen pun kalah lincah kalau di kanopi."
"Aku punya ide," kata Anatasya, liontinnya bersinar hijau redup. "Owa itu punya sistem komunikasi vokal yang kompleks. Mereka teritorial. Kalau kita bisa memancing mereka turun atau mendekat ke area yang lebih terbuka..."
"Kita pancing pakai suara!" seru Lev.
"Tepat," Anatasya mengangguk. "Aku akan meniru suara panggilan Owa lain yang memasuki wilayah mereka. Mereka pasti akan datang untuk mengusir penyusup. Vania, kamu siap di bawah pohon paling besar. Lev, kamu siap di area terbuka."
Rencana disetujui. Anatasya menyembunyikan diri di balik semak-semak, memfokuskan pendengarannya, lalu mulai meniru suara siulan Owa dengan akurat menggunakan bantuan analisis dari liontinnya.
Tak lama kemudian, Owa jantan berjanggut putih itu berhenti berayun. Ia menoleh ke arah sumber suara, matanya memancarkan amarah teritorial. Ia mengeluarkan suara panggilan balasan yang keras, lalu mulai bergerak cepat ke arah Anatasya.
"Dia datang!" bisik Vania ke alat komunikasi kecil yang mereka pakai.
Vania bersiap di bawah pohon besar yang sudah ditentukan. Owa jantan itu turun ke dahan yang lebih rendah, mencari penyusup.
"Sekarang, Van! Pancing dia ke area terbuka!" perintah Anatasya.
Vania melompat keluar dari persembunyiannya. "Sini, kawan! Lawan gue!"
Owa itu terkejut melihat manusia, tapi amarah teritorialnya lebih besar. Ia berteriak dan bersiap melompat ke tanah.
"Lev! Siap!"
Lev sudah siap dengan kamera di area terbuka. Owa jantan itu melompat ke tanah, mendarat dengan anggun. Vania langsung melancarkan tendangan, tapi Owa itu menghindar dengan gesit, jauh lebih cepat dari Doberman atau Bekas.
"Astaga, cepat banget!" Vania kaget.
Owa itu berlari ke arah pohon lain untuk memanjat lagi. Momen sepersekian detik itu dimanfaatkan Lev.
"Aku niatkan kamu sebagai mitra, kawan!" Lev memfokuskan seluruh energinya, niat murni memenuhi pikirannya.
KLIK!
Cahaya biru Rank B menyilaukan mata. Kartu emas Rank B meluncur keluar dari kamera Lev. Sang Owa jantan menghilang.
"Spesies: Owa Kalimantan (Hylobates albibarbis). Rank: B (Langka). Status: Sinkronisasi Stabil: 90% (Gembira)."
"Gembira?" Lev membaca status itu dengan bingung.
"Berhasil, Lev!" seru Anatasya, berlari mendekat. Vania juga mendekat, napasnya terengah-engah.
Tiba-tiba, Oyen yang dari tadi diam, mengeong keras ke arah pohon tempat Owa betina berada. Owa betina itu menatap mereka bertiga dengan mata sedih, lalu melesat pergi ke dalam hutan, menghilang dengan cepat.
Vania menatap kartu Owa jantan di tangan Lev. "Kita misahin pasangan?"
Lev merasa bersalah. Status 'Gembira' di kartu Owa jantan itu kini berubah menjadi 'Sedih'.
"Oh, tidak," Anatasya memegang liontinnya. "Owa itu hewan monogami seumur hidup. Kita... kita sudah mengganggu ekosistem sosial mereka."
Suasana kemenangan langsung sirna digantikan rasa bersalah yang mendalam. Mereka mendapatkan Rank B baru, tetapi dengan harga yang mahal.
"Kita harus mengembalikannya," kata Lev mantap.
"Kita sudah 'menangkapnya', Lev. Mengembalikannya berarti melepaskannya sepenuhnya," kata Vania.
"Tapi kita nggak bisa misahin pasangan begini!"
Mereka bertiga terdiam, menatap hutan lebat di sekitar mereka. Tantangan sebagai summoner ternyata tidak hanya soal pertarungan dan organisasi jahat, tapi juga soal etika dan dampak tindakan mereka terhadap alam liar. Misi Konser Alam Liar kini menjadi lebih personal dan kompleks.
