Teheran di pagi hari adalah perpaduan antara simfoni klakson yang memekakkan telinga dan kabut polusi yang menyelimuti Menara Azadi. Bagi Hamzah, menghirup udara Teheran saat ini rasanya seperti menghirup kenangan pahit; sesak dan membuat mata perih.
Sudah seminggu sejak kejadian di kedai teh di Vali-Asr. Hamzah resmi menjadi "jomblo fisabilillah" yang tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja. Ia terbangun di kamar asramanya yang sempit dengan perasaan seperti dihantam truk pengangkut karpet.
"Hamzah! Bangun! Kamu sudah melewatkan kelas Falsafah pagi ini. Profesor Mansouri bisa mengubahmu menjadi batu kalau kamu bolos lagi!" teriak Ali, teman sekamar Hamzah asal Aceh yang sudah terlalu lama tinggal di Iran sampai-sampai logat Parsi-nya lebih fasih daripada bahasa Indonesianya.
Hamzah hanya mengerang, menarik selimutnya lebih tinggi. "Biarkan saja aku jadi batu, Li. Setidaknya batu tidak perlu memikirkan bagaimana cara membahagiakan diri sendiri."
Ali mendekat, menendang pinggiran tempat tidur Hamzah. "Wah, kadar puitismu sudah mencapai level akut. Ini pasti karena Zahra, kan? Dengar, kawan. Di Teheran ini, lebih mudah mencari penjual Kebab Koobideh daripada mencari laki-laki yang melepaskan tunangannya hanya karena merasa 'belum selesai dengan diri sendiri'. Kamu itu aneh, atau terlalu sok suci?"
Hamzah bangkit dengan rambut berantakan. "Ini bukan soal sok suci, Li. Ini soal integritas. Bagaimana aku bisa menafkahi Zahra kalau untuk makan siang saja aku masih mengandalkan kupon subsidi kampus dan sering berakhir dengan makan roti Nan kering dicelup teh?"
"Tapi tidak perlu sampai putus, Bambang!" seru Ali frustrasi. "Kamu bisa bicara baik-baik."
"Namaku Hamzah, bukan Bambang," koreksi Hamzah lemas. ia melangkah menuju dapur kecil mereka yang berantakan.
Tragedi di Dapur Asrama
Berniat untuk memulai hidup baru yang lebih mandiri dan "bahagia", Hamzah memutuskan untuk memasak. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa mengurus dirinya sendiri. Ia mengambil beras sisa bulan lalu, beberapa potong daging kambing beku yang sudah entah berapa lama di freezer, dan sebungkus bumbu instan pemberian ibunya dari Indonesia.
"Aku akan membuat Nasi Kebuli paling enak di Teheran. Ini adalah langkah pertama menuju penyembuhan mental," gumam Hamzah penuh tekad.
Namun, fokus adalah barang mewah bagi orang yang patah hati. Sambil menunggu nasi matang, pikiran Hamzah melayang kembali ke wajah Zahra. Ia teringat bagaimana Zahra selalu merapikan kerah kemejanya. Lamunannya begitu dalam sampai ia tidak menyadari bau gosong yang mulai memenuhi ruangan.
"Hamzah! Itu asap apa?!" teriak Ali dari ruang tengah.
Hamzah tersentak. Asap hitam keluar dari rice cooker tua miliknya. Ternyata, ia lupa memasukkan air karena terlalu sibuk meratapi nasib.
"Astagfirullah! Nasi Kebuliku!" Hamzah panik, mencoba membuka tutup rice cooker tanpa alas tangan.
"Aduh! Panas!" Ia melompat-lompat kesakitan sambil memegang telinganya—refleks orang Indonesia saat kepanasan.
Ali datang membawa handuk basah dan menggeleng-gelengkan kepala. "Inilah gambaran hidupmu sekarang, Hamzah. Gosong di luar, mentah di dalam. Kamu ingin membahagiakan dirimu sendiri tapi menyalakan rice cooker saja lupa pakai air. Kamu itu butuh psikiater, atau minimal butuh kursus memasak tingkat PAUD."
Hamzah terduduk di lantai dapur yang dingin. Di depannya, nasi yang seharusnya menjadi simbol "kebangkitan" justru menghitam dan mengerak. Ia tertawa, lalu tawa itu berubah menjadi isak kecil yang ia sembunyikan di balik telapak tangannya.
"Li... aku benar-benar berantakan, ya?"
Ali menghela napas, ia duduk di samping sahabatnya itu. "Iya, kamu berantakan sekali. Tapi setidaknya kamu tahu kamu berantakan. Banyak orang di luar sana yang merasa dirinya sempurna padahal hatinya lebih gosong dari nasimu ini."
Kesadaran di Balik Jendela
Sore harinya, Hamzah duduk di balkon asrama, menatap lampu-lampu kota Teheran yang mulai menyala satu per satu. Ia melihat pasangan-pasangan muda berjalan di bawah sana, tertawa di balik syal tebal mereka.
Ia membuka ponselnya. Ada satu notifikasi pesan dari Zahra yang belum ia hapus.
“Hamzah, kalau kamu merasa belum selesai dengan dirimu, jangan lari sendirian. Tapi kalau menurutmu melepaskanku adalah cara untukmu sembuh, maka aku akan belajar untuk tidak mencarimu lagi.”
Hamzah menghapus pesan itu dengan tangan gemetar. Ia telah melupakan fakta bahwa ia sendiri yang membangun tembok ini. Ia melepaskan Zahra bukan karena ia tidak sayang, tapi karena ia takut Zahra akan ikut tenggelam dalam pusaran rasa rendah diri yang ia miliki.
"Maaf, Zahra," bisiknya pada angin malam. "Semoga kau segera menemukan seseorang yang sudah 'selesai' dengan dunianya, sehingga ia punya ruang penuh untuk duniamu."
Malam itu, Hamzah tidur dengan perut lapar karena nasi yang gosong, namun dengan satu tekad kecil: Besok, ia harus belajar cara menyalakan kompor hidupnya lagi, meski tanpa Zahra di sisinya.
