Imran Al-Fikri adalah sosok yang dihormati di komunitas Muslim Paris. Kedermawanannya, ketaatannya, dan selera humornya yang halus membuatnya menjadi pilihan alami ketika komite Masjid Agung Paris membutuhkan sukarelawan untuk mengorganisir acara amal tahunan mereka: "Festival Budaya Islam Paris".
Tugas Imran: mengawasi logistik dan hiburan.
Tentu saja, dalam pikiran Imran, "hiburan" berarti sesuatu yang spektakuler, sesuatu dengan produksi bernilai jutaan dolar, seperti acara penghargaan Hollywood atau, lebih spesifik lagi, acara promosi film The Rock. Dia ingin impact, dia ingin penonton terinspirasi, dia ingin... panggung yang megah.
"Kita butuh lighting yang dramatis," jelas Imran kepada komite masjid, yang terdiri dari beberapa bapak-bapak tua yang bijak dan beberapa pemuda pragmatis, dalam rapat perencanaan. "Dan sistem suara yang jernih. Mungkin efek asap ringan saat pembukaan? Seperti saat The Rock masuk ring gulat dulu."
Bapak Mahmud, ketua komite yang berusia 70-an dengan janggut putih lebat dan pandangan skeptis, menatap Imran. "Efek asap, Akhi Imran? Kita di masjid, bukan di kelab malam. Dan dana kita terbatas. Kita butuh karpet baru untuk ruang salat wanita, bukan efek asap."
Imran tersipu. "Maaf, Pak Mahmud. Maksud saya, presentasi yang profesional. Saya hanya ingin acara kita berkesan. Menarik perhatian media global. SEO- optimized, kalau boleh dibilang."
Akhirnya, mereka mencapai kompromi. Imran boleh mengurus panggung dan tata letak bazar, asalkan biayanya tidak melebihi anggaran yang sangat ketat.
Hari festival tiba. Cuaca Paris cerah, dan halaman Masjid Agung dipenuhi stan-stan makanan halal, buku-buku Islami, busana Muslimah (stan Aisha yang paling populer), dan panggung kecil di tengah.
Imran, mengenakan rompi panitia, berlarian ke sana kemari, menyamakan headset komunikasinya dengan panitia lain. Dia benar-benar dalam mode "sutradara acara".
"Cek sound di panggung utama!" perintahnya melalui headset, meniru produser acara TV. "Pembacaan Al-Qur'an akan dimulai dalam lima menit!"
Kekacauan dimulai saat waktu makan siang. Ada miskomunikasi besar antara stan makanan Maroko dan stan makanan Turki mengenai alokasi meja. Antrean mulai memanjang, dan ketegangan meningkat.
Imran, melihat potensi kerusuhan kecil, segera berlari ke lokasi. Dia butuh solusi cepat, solusi yang akan meredakan suasana tegang.
"Tenang, tenang semuanya!" teriaknya, berdiri di atas sebuah kotak kosong. Dia mencoba mempraktikkan "tatapan mata The Rock" yang mengintimidasi namun adil.
"Saudara-saudaraku seiman, mari kita selesaikan ini dengan damai dan terorganisir," katanya dengan suara berat. "Ketertiban adalah bagian dari iman. Kita punya banyak makanan untuk semua orang. Tidak perlu berebut."
Entah karena tatapan matanya yang lucu atau karena perut orang-orang sudah terlalu lapar, kerumunan itu malah tertawa. Suasana tegang mencair menjadi tawa renyah. Bapak Mahmud datang, menepuk pundak Imran, dan membantu menata antrean dengan lebih efisien.
Masalah logistik terbesar adalah kedatangan penceramah utama dari London, Syekh Abdullah, yang terkenal dengan ceramahnya yang lucu dan mencerahkan. Pesawatnya tertunda, dan dia akan tiba terlambat tepat saat jadwal ceramahnya dimulai.
Imran panik. Dia butuh pengisi acara dadakan untuk mengisi waktu 20 menit di panggung utama.
"Siapa yang bisa kita naikkan ke panggung sekarang?" tanya Imran di headset kepada Aisha, yang sedang sibuk di stan butiknya.
Aisha berpikir cepat. "Suruh Tariq dan teman-temannya main sepak bola freestyle di depan panggung! Mereka kan jago juggling bola!.
"Ide brilian!"
Dalam sekejap, Tariq dan dua temannya, yang mengenakan jersey PSG, naik ke panggung dan mulai menunjukkan trik sepak bola freestyle mereka diiringi nasyid bersemangat. Penonton, terutama anak muda, bersorak gembira. Juggling bola yang terampil itu berhasil menghibur dan mengisi waktu dengan sempurna. Tariq merasa seperti Messi di hadapan ribuan penonton.
Akhirnya, Syekh Abdullah tiba, dan ceramahnya sukses besar, penuh tawa dan hikmah. Festival itu secara keseluruhan adalah kesuksesan besar, menghasilkan banyak dana untuk masjid dan mempererat komunitas.
Di akhir acara, Bapak Mahmud mendatangi Imran yang sedang kelelahan.
"Akhi Imran, 'efek asap'mu memang tidak ada," kata Bapak Mahmud sambil tersenyum. "Tapi 'efek tawa' dan 'efek sepak bola' dari keluargamu jauh lebih baik. Jazakallah khairan atas usahamu."
Imran tersenyum, hatinya hangat. Dia mungkin tidak bisa membuat acara semewah Hollywood, tapi dia belajar bahwa acara komunitas terbaik tidak membutuhkan efek visual mahal. Mereka hanya membutuhkan kerja sama, sedikit kreativitas ala keluarga Al-Fikri, dan niat yang tulus. Dan mungkin, sedikit trik juggling bola dari Tariq.
