Bab 4: Kompetisi "Bintang Surga" dan Tragedi Tas Sekolah

Bab 4: Kompetisi "Bintang Surga" dan Tragedi Tas Sekolah

Lev
0
Kisah inspiratif Khalisah Salsabilla di Barabai, Kalimantan Selatan. Belajar Bahasa Inggris dan menghafal Juz 30 ditemani kucing oren bernama Mochi. Cerita keluarga PNS yang penuh komedi dan nilai agama.

Hari pertama Khalisah di TK Cahaya Bintang dimulai dengan sebuah drama kecil yang melibatkan seekor kucing oren. Saat Hifni dan Rina sudah siap berangkat menuju kantor dinas masing-masing, Khalisah tampak kesulitan menutup ritsleting tas ranselnya yang bergambar unicorn.

"Khalisah, hurry up, Dear. Nanti Abah telat absen, bisa-bisa tunjangan Abah dipotong buat beli pakan Mochi sebulan," canda Hifni sambil memanaskan mesin mobil di garasi.

"Bentar, Bah! Tasnya heavy banget!" seru Khalisah dari dalam rumah.

Setelah perjuangan keras, akhirnya mereka berangkat. Di gerbang sekolah, Nurul Inayah sudah berdiri menyambut murid-muridnya dengan senyum khas lulusan SMA 2013 yang tetap awet muda. Khalisah turun dari mobil dengan langkah mantap, namun ada yang aneh; tasnya bergerak-gerak sendiri.

"Selamat pagi, Khalisah! Siap belajar sama Husna hari ini?" sapa Nurul ramah.

"Siap, Aunty Nurul! I'm ready!" jawab Khalisah semangat.

Namun, tepat saat Hifni hendak berpamitan, ritsleting tas Khalisah terbuka secara paksa dari dalam. Sebuah kepala oren bulat dengan telinga tegak menyembul keluar. Mochi. Kucing itu rupanya berhasil menyelinap dan bersembunyi di antara buku gambar dan botol minum Khalisah.

"Astagfirullah, Mochi!" pekik Rina tertahan.

Hifni menepuk jidatnya. "Ya Allah, Chi... kamu mau ikut sekolah jadi PNS atau gimana?"

Khalisah malah tertawa girang. "Mochi mau ikut menghafal, Abah! Dia bilang mau join kelas Husna."

Nurul Inayah tertawa terpingkal-pingkal melihat kejadian itu. "Aduh, Hifni, Rina... sepertinya anak kalian benar-benar punya asisten pribadi. Tapi maaf ya Khalisah, sekolah kita belum punya kurikulum khusus kucing."

Akhirnya, dengan sedikit negosiasi—dan janji bahwa Mochi akan diberi makan ikan tongkol goreng saat pulang nanti—Hifni berhasil mengevakuasi kucing itu kembali ke mobil. Drama pagi itu berakhir dengan sukses, menyisakan tawa di antara para orang tua yang mengantar anak mereka.

Di dalam kelas, suasana menjadi lebih tenang. Nurul Inayah memperkenalkan Khalisah kepada teman-teman barunya. Husna, putri Nurul, duduk di bangku paling depan dengan tenang.

"Anak-anak, hari ini kita akan muraja'ah bersama. Siapa yang sudah hafal Surah Al-Ma'un?" tanya Nurul.

Husna langsung mengangkat tangan dengan sopan. Ia membacakan surah tersebut dengan nada yang sangat syahdu dan pelan. Khalisah mendengarkan dengan saksama. Di rumah, ia baru sampai Surah Al-Kafirun. Ia merasakan desiran aneh di hatinya—sebuah keinginan untuk bisa sehebat Husna.

Saat jam istirahat tiba, kedua anak itu duduk bersama di bangku taman sekolah.

"Husna, kok kamu bisa hafal banyak? Is it difficult?" tanya Khalisah sambil membuka kotak bekalnya yang berisi nasi goreng buatan Mama Rina.

Husna tersenyum kecil. "Nggak kok, Khalisah. Ibuku bilang, kalau kita hafal satu ayat, Allah kasih satu bintang di surga. Aku mau punya banyak bintang buat Ibu sama Bapak."

Khalisah terdiam. Ia ingat janji Abah Hifni tentang sepeda dan es krim potong. Namun, mendengar alasan Husna, ia menyadari sesuatu yang lebih dalam.

"Aku juga mau kasih bintang buat Abah sama Mama," gumam Khalisah. "Tapi aku juga suka es krim."

"Boleh kok suka es krim," sahut Husna polos. "Kata Ibu, Allah itu senang kalau kita senang saat belajar."

Pembicaraan dua bocah enam tahun itu sangat murni, khas slice of life yang menyejukkan hati. Di satu sisi ada Khalisah dengan latar belakang keluarga modern yang fasih berbahasa Inggris, dan di sisi lain ada Husna yang tumbuh dalam nuansa religius yang kental.

Sore harinya, Hifni menjemput Khalisah tepat waktu. Di perjalanan pulang melintasi jalanan Barabai yang mulai padat oleh motor para pegawai yang pulang kantor, Khalisah bercerita tanpa henti.

"Abah, tadi Husna baca surahnya panjang banget! She is so cool!"

Hifni melirik dari spion tengah. "Oh ya? Terus Khalisah jadi semangat nggak?"

"Semangat! Tapi Abah... hadiahnya tetap ada kan? Hehe."

Hifni terkekeh. "Tentu ada. Tapi sekarang hadiahnya Abah tambah. Kalau Khalisah bisa hafal lebih banyak dari target, kita nggak cuma beli es krim, tapi kita ajak Mochi jalan-jalan ke taman kota pakai kalung baru."

"Horeee!"

Malamnya, rumah keluarga Hifni dipenuhi suara riuh. Bukan suara televisi, melainkan suara Khalisah yang sedang beradu argumen dengan Mochi tentang siapa yang lebih cepat menghafal Surah Al-Fiil. Rina yang baru saja selesai mengoreksi tugas murid-muridnya, bersandar di bahu Hifni sambil memperhatikan putri mereka.

"Bah, sepertinya keputusan kita memasukkan dia ke sekolah Nurul sangat tepat. Lihat, dia nggak cuma belajar bahasa langit, tapi dia belajar tentang persahabatan," bisik Rina.

Hifni mengangguk, lalu menarik napas panjang. "Iya, Rin. Menjadi PNS itu capek, urusan kantor nggak ada habisnya. Tapi melihat dia semangat kayak gini, semua lelahnya hilang. Inilah investasi kita yang sebenarnya, bukan cuma gaji tiap tanggal satu."

Di sudut ruangan, Mochi mendengkur keras di atas tumpukan buku Bahasa Inggris Rina, seolah-olah ia juga setuju bahwa hari ini adalah awal dari petualangan besar menuju mahkota surga dari kota Barabai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default