Jika rumah Zaskia adalah sebuah puisi sunyi yang ditulis dengan tinta emas di atas kertas daur ulang, maka rumah Anita Khairunnisa adalah sebuah lagu dangdut up-beat yang diputar di tengah pasar pagi—ramai, penuh semangat, dan tak mungkin diabaikan. Bagi Anita, warna bukan sekadar soal estetika atau tren yang sedang naik daun di media sosial; warna adalah pernyataan syukur yang berisik kepada Sang Pencipta.
Pagi itu, setelah memberikan kue bingka kepada Zaskia, Anita tidak langsung beristirahat. Ia justru menyalakan radio tape tuanya, memutar lantunan shalawat dengan nada yang rancak, sambil mulai menyapu halaman rumahnya yang dicat kuning kunyit. Setiap gerakan sapu lidi di atas semen itu seakan mengikuti irama musik. Anita adalah tipe wanita yang tidak bisa diam; energinya seolah-olah dipasok langsung oleh matahari Gambut yang terik.
"Ma, apa tidak sakit mata melihat pagar kita sendiri?" tanya suaminya, Pak Mansyur, yang baru saja keluar sambil mengenakan sarung bermotif kotak-kotak hijau botol—satu-satunya benda dengan warna agak gelap di rumah itu.
Anita berkacak pinggang, tangan kanannya masih memegang sapu lidi. "Sakit mata bagaimana toh, Pa? Justru ini terapi! Di luar sana hidup sudah susah, harga gabah naik-turun, urusan politik di TV bikin pusing. Masa kita pulang ke rumah mau melihat warna yang layu-layu juga? Kalau rumah kita terang, hati kita ikut terang. Malaikat juga kalau lewat pasti bilang, 'Wah, ini rumah hamba Allah yang paling semangat hidupnya!'"
Pak Mansyur hanya tertawa kecil. Ia sudah memaklumi kegilaan istrinya terhadap warna cerah sejak mereka pertama kali bertemu di pasar terapung puluhan tahun lalu. Saat itu, Anita adalah satu-satunya pedagang yang memakai kerudung warna merah cabai di tengah kabut pagi yang kelabu. Itulah yang membuat Mansyur jatuh hati; keberanian Anita untuk menjadi berbeda.
Namun, di balik keceriaan yang tampak "nyentrik" itu, Anita memiliki alasan yang lebih dalam. Ia tumbuh besar di sebuah panti asuhan kecil yang dindingnya selalu berwarna abu-abu kusam dan lembap karena rembesan air rawa. Kenangan masa kecilnya adalah tentang kesuraman dan rasa kehilangan. Saat ia menikah dan memiliki rumah sendiri di Gambut, ia bersumpah tidak akan membiarkan sejengkal pun sudut rumahnya terlihat sedih.
"Pa, jangan lupa," ujar Anita sambil memindahkan pot bunga mawar merahnya ke posisi yang lebih terkena matahari. "Nanti malam pengajian di rumah kita. Saya sudah bilang ke Jeng Zaskia supaya pakai baju ceria. Kasihan dia, setiap hari pakai warna seperti cucian yang kurang dibilas. Pucat sekali! Padahal dia itu cantik, kalau pakai warna oranye pasti seperti artis ibu kota."
"Ma, selera orang itu beda-beda," tegur Pak Mansyur lembut. "Zaskia itu orangnya tenang, tipikal wanita yang shalihat dengan cara yang anggun. Kita harus menghormati dia."
"Lho, Mama kan juga menghormati, Pa! Justru karena Mama sayang, Mama ingin dia merasakan energi cahaya. Coba bayangkan, nanti di surga itu pasti warnanya lebih terang dari gerbang kita, kan? Tidak mungkin di surga warnanya cuma krem dan abu-abu!" celetuk Anita dengan logika polosnya yang seringkali sulit dibantah.
Anita kemudian beralih ke dapur. Di sana, ia menyiapkan konsumsi untuk pengajian malam nanti. Jika Zaskia membuat puding dengan warna gradasi cokelat yang elegan, Anita menyiapkan Masak Habang (masakan khas Banjar dengan bumbu cabai merah kering). Ia memastikan bumbu merahnya keluar dengan warna yang sangat intens, merah menyala yang menggugah selera. Baginya, makanan yang enak haruslah sedap dipandang mata terlebih dahulu.
Sambil mengulek bumbu, Anita merenung. Ia sebenarnya sangat mengagumi Zaskia. Ia kagum pada kerapian, tutur kata yang tertata, dan bagaimana Zaskia bisa menjaga rumahnya tetap terlihat seperti galeri seni meski memiliki anak kecil. Anita sering merasa dirinya terlalu berisik dan berantakan. Itulah sebabnya, meski mereka sering berdebat soal warna, Anita selalu menjadi orang pertama yang membela Zaskia jika ada tetangga lain yang bergosip.
Pernah suatu kali, seorang ibu-ibu di pasar menyindir bahwa rumah Zaskia terlalu "sombong" karena tertutup dan terlalu rapi. Anita langsung berdiri paling depan. "Sombong bagaimana? Itu namanya estetik! Daripada rumah situ, warnanya tidak jelas, lumut di mana-mana!" semprot Anita saat itu.
Kekuatan hubungan mereka terletak pada keseimbangan ini. Zaskia memberikan "rem" pada ledakan energi Anita, sementara Anita memberikan "gas" pada kehidupan Zaskia yang terkadang terlalu datar. Di tanah Gambut yang asam, kedua keluarga ini membuktikan bahwa persahabatan tidak butuh warna yang sama untuk menjadi sebuah lukisan yang indah.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan langit Gambut berubah menjadi jingga—warna favorit Anita—ia berdiri di depan rumahnya, menatap ke seberang. Ia melihat Zaskia sedang membaca Al-Qur'an di teras rumahnya yang tenang. Anita tersenyum. Ia merasa beruntung. Memiliki tetangga seperti Zaskia adalah sebuah berkah, sebuah pengingat bahwa ketenangan itu perlu, sebagaimana keceriaan itu wajib.
"Tunggu saja, Jeng Zaskia," bisik Anita nakal. "Malam ini saya akan buat kamu setidaknya memakai jilbab warna merah muda yang paling ngejreng!"
Wawasan Budaya & Tips Kehidupan
Karakter Anita mewakili semangat masyarakat Kalimantan yang terbuka dan penuh warna (vibrant). Dalam Islam, keceriaan dan menampakkan nikmat Allah pada diri kita adalah bagian dari rasa syukur, selama tidak terjatuh pada sifat pamer (Riya). Bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang kuliner berwarna khas Banjar seperti Masak Habang, Anda bisa melihat referensinya di Portal Pariwisata Indonesia. Simak Bab 4 selanjutnya: Drama Jemuran Pagi Hari, di mana sebuah daster cokelat susu dan kerudung merah cabai akan memicu tawa seluruh warga gang!
