Sementara Adam dan Hawa asyik dengan aroma kari dan prata di Dunlop Street, Zahra sudah berada di dunianya sendiri: kampus arsitektur yang modern dan dinamis. Pagi itu, dia memiliki jadwal presentasi revisi desain untuk proyek akhir semesternya, sebuah tantangan besar yang menguras energi dan pikirannya.
Zahra berjalan menyusuri koridor kampus dengan map berisi sketsa dan render digital di tangan. Pikirannya melayang, memikirkan bagaimana cara terbaik mengintegrasikan prinsip-prinsip desain Islami—yang menekankan pada keterbukaan, hubungan harmonis dengan alam, dan privasi ke dalam konteks arsitektur urban Singapura yang padat dan modern. Inspirasinya sering kali datang dari perpaduan unik bangunan tua dan baru di Singapura.
Di ruang studio yang luas, tempat para mahasiswa sibuk dengan maket dan layar komputer yang menyala, Zahra mengambil posisi di depan dosen pembimbingnya, Profesor Tan, seorang arsitek senior yang sangat dihormati namun juga dikenal kritis.
"Baiklah, Zahra, silakan jelaskan revisi konsep site plan masjid komunitas urban Anda," ujar Profesor Tan, kacamatanya melorot sedikit di hidung, matanya siap menelaah setiap detail.
Zahra menarik napas dalam-dalam. "Terima kasih, Prof. Setelah berdiskusi dengan Abi, saya merevisi konsep site plan ini dengan menekankan pada 'oase dalam kota'. Saya ingin masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang hijau terbuka yang berfungsi sebagai paru-paru lingkungan, mirip dengan konsep taman di sekitar Gardens by the Bay, namun dengan fungsi sosial yang lebih padat."
Ia menjelaskan detailnya, tentang penggunaan material yang ramah lingkungan, sistem pencahayaan alami, dan yang paling penting, desain courtyard atau halaman dalam yang terinspirasi dari arsitektur tradisional Melayu dan Timur Tengah, namun diadaptasi dengan estetika modern.
"Menarik," komentar Profesor Tan, alisnya terangkat. "Tapi, bagaimana Anda menanggapi kritik sebelumnya tentang privasi? Halaman dalam Anda terlihat sangat terbuka."
"Di situlah tantangannya, Prof," Zahra tersenyum. "Keterbukaan yang saya maksud adalah keterbukaan visual terhadap alam, bukan keterbukaan fungsi. Saya menggunakan screen atau kisi-kisi geometris Islami modern mirip dengan yang bisa kita lihat di beberapa bagian arsitektur Masjid Sultan di Kampong Glam—yang memungkinkan sirkulasi udara dan cahaya masuk, namun tetap menjaga privasi area salat utama."
Zahra memaparkan render digital yang menampilkan suasana siang hari di masjidnya. Cahaya matahari menembus kisi-kisi tersebut, menciptakan pola bayangan artistik di lantai marmer, memberikan efek ketenangan dan keteduhan.
Profesor Tan mengangguk-angguk, ekspresinya melunak. "Integrasi yang cerdas, Zahra. Anda berhasil menerjemahkan kearifan lokal dan nilai-nilai keagamaan Anda ke dalam bahasa arsitektur kontemporer yang relevan di Singapura. Ini sebuah kemajuan signifikan."
Pujian dari Profesor Tan membuat hati Zahra berbunga-bunga. Usahanya tidak sia-sia. Ia merasa terinspirasi oleh kekayaan arsitektur di sekitarnya. Setiap sudut Singapura, dari bangunan kolonial putih bersih di Fort Canning hingga gedung kaca menjulang di area Shenton Way, menawarkan pelajaran tentang sejarah, adaptasi, dan modernitas.
Setelah presentasi, Zahra memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak untuk menenangkan pikirannya. Dia berjalan menuju arah stasiun MRT Bayfront. Tujuannya adalah menikmati suasana sore hari di sekitar Marina Bay Sands.
Duduk di pinggir boardwalk, Zahra memandang ke arah gedung teater Esplanade - Theatres on the Bay yang ikonik dengan bentuk mirip durian. Pemandangan skyline Singapura dari titik ini selalu memberikan perspektif baru. Di seberang sana, Merlion Park mulai dipadati turis yang berfoto dengan patung singa legendaris yang memuntahkan air.
Ia mengeluarkan sketchbook-nya dan mulai menggambar cepat suasana sore itu. Fokusnya kali ini bukan pada bangunan raksasa, melainkan pada jembatan-jembatan yang menghubungkan satu area ke area lain. Jembatan-jembatan itu, baik yang fungsional seperti Benjamin Sheares Bridge maupun yang estetik seperti Helix Bridge di dekatnya, adalah metafora sempurna untuk kehidupan di Singapura.
"Mereka menghubungkan," gumam Zahra pada dirinya sendiri. "Sama seperti arsitektur, sama seperti agama, sama seperti kemanusiaan."
Ia teringat perbincangan lucunya dengan Adam pagi tadi, tentang prata dan teman-teman yang berbeda agama. Semua elemen itu terhubung dalam satu mosaik kehidupan yang indah di Kota Singa. Impian Zahra semakin jelas: ia ingin merancang ruang yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung antar manusia, tempat di mana harmoni dapat tumbuh subur, persis seperti kota tempat ia dibesarkan.
Sinar matahari sore mulai keemasan, memantul indah di permukaan air Marina Bay. Zahra menutup sketchbook-nya, senyum puas terukir di bibirnya. Revisi proyek arsitekturnya sukses besar, dan ia menemukan inspirasi baru di jantung kota yang ia cintai. Hari itu, Zahra tidak hanya berhasil sebagai mahasiswa arsitektur, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga Imran yang terus memupuk harmoni di Bayfront Singapura.
