BAB 3: Gema di Sepertiga Malam

BAB 3: Gema di Sepertiga Malam

Lev
0
Listen Before I Go menceritakan puisi-puisi puncak keikhlasan Lev Ryley melepas Vania Larasati di Banjarbaru. 

Keheningan adalah teman paling setia sekaligus musuh paling kejam bagi Lev Ryley. Di kamarnya yang terletak di kawasan Banjarbaru Kota, hanya suara detak jam dinding yang mengisi ruang. Jarum jam menunjukkan pukul 03.15 dini hari—waktu yang bagi Lev bukan lagi sekadar jam tidur yang terganggu, melainkan waktu di mana ia merasa paling dekat dengan langit, dan secara spiritual, paling dekat dengan kenangan Vania Larasati.

Di atas meja belajarnya, laptop yang masih menyala menampilkan statistik blog pribadinya. Sejak unggahan "Pesan dari Kursi Kosong" di Lapangan Murjani kemarin, notifikasi tidak berhenti mengalir. Ribuan orang membaca, membagikan, dan meninggalkan komentar. Namun, Lev tidak merasa bangga. Ia justru merasa terbebani oleh sebuah tanggung jawab baru: bagaimana mengubah duka pribadinya menjadi cahaya bagi orang lain yang juga sedang berjalan dalam gelap.

Ia teringat Vania di tahun terakhirnya. Saat kanker itu mulai menyerang sistem sarafnya, Vania sering terbangun di jam seperti ini. Bukan untuk mengeluh karena rasa sakit yang menghujam tulang, melainkan untuk bersujud.

"Lev," suara Vania seolah berbisik di telinganya, membawa aroma parfum bunga mawar yang sering ia kenakan dulu. "Sakit ini adalah cara Allah memanggilku agar lebih sering berbicara dengan-Nya. Jangan sampai kamu yang sehat justru lupa berbicara pada-Nya."

Air mata Lev jatuh tanpa permisi, membasahi jemarinya. Ia kembali menarik papan ketik, jemarinya bergerak cepat melahirkan bait-bait baru untuk proyek puisinya yang kini viral: "Listen Before I Go".

Puisi: Listen Before I Go (Bagian III – Sebelum Fajar Menjemput)

Dengarkanlah, sebelum fajar menyapu sisa-sisa gelap ini,
Di sepertiga malam, saat seluruh dunia terlelap dalam mimpi semu.

Aku terbangun bukan karena dinginnya angin Banjarbaru,
Tapi karena rindu yang tak punya alamat untuk pulang.
Listen before I go...

Dengarlah bisikan dari balik sajadah yang mulai basah.
Vania mengajarkanku bahwa kematian bukanlah musuh,
Ia hanyalah gerbang pulang bagi jiwa-jiwa yang sudah rindu pada Rabb-nya.

Jangan kau habiskan air matamu untuk meratapi yang telah pergi,
Tapi habiskanlah nafasmu untuk mempersiapkan diri menyusul mereka.

Dengarlah, sebelum aku benar-benar melangkah keluar dari sunyi ini,
Cinta yang abadi tidak tumbuh di atas pelaminan dunia,
Ia berakar di dalam doa, dan mekar sempurna di taman-taman Jannah.

Lev berhenti sejenak. Ia menyadari bahwa target artikel dan puisinya ini mulai meluas. Bukan hanya untuk mereka yang kehilangan karena kanker, tapi untuk setiap jiwa yang merasa lelah dengan dunia. Ia ingin menggunakan SEO yang tepat agar pesan ini menjangkau mereka yang sedang mencari kata kunci seperti "cara mengikhlaskan kehilangan" atau "ketabahan dalam Islam".

Ia mulai menambahkan narasi di bawah puisinya:
"Banyak dari kalian bertanya, bagaimana aku bisa bertahan setahun ini tanpa Vania? Jawabannya bukan karena aku kuat, tapi karena aku dipaksa untuk mendengarkan. Mendengarkan apa? Mendengarkan pesan tersembunyi di balik setiap ujian. Sebelum kalian 'pergi'—entah itu pergi dari sebuah hubungan, pergi dari masa lalu, atau pergi dari dunia ini—dengarlah suara nurani kalian. Sudahkah kita mencintai Sang Pencipta lebih dari kita mencintai ciptaan-Nya?"

Unggahan itu langsung mendapatkan respon dari seorang pembaca di luar pulau. “Lev, aku hampir menyerah malam ini karena kehilangan ibuku, tapi puisimu membuatku ingin bersujud sekali lagi,” tulis salah satu komentar.

Membaca itu, Lev menyadari satu hal. Vania mungkin sudah tiada secara fisik di usia 20 tahun, namun melalui tulisan ini, Vania seolah hidup kembali dalam bentuk inspirasi. Lev tidak lagi menulis dengan kemarahan. Ia menulis dengan harapan.

Cahaya subuh mulai merayap masuk melalui celah jendela kamar. Adzan berkumandang dari Masjid Al-Munawwarah, memanggil setiap jiwa untuk menghadap. Lev menutup laptopnya, mengambil wudhu, dan bersiap untuk melangkah keluar. Ia tahu, bab selanjutnya bukan lagi tentang bagaimana ia menangisi Vania, melainkan tentang bagaimana ia membawa pesan Vania ke seluruh penjuru dunia melalui tinta yang ia torehkan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default