Bab 6: Edea, Penyihir Stylish, dan Bahaya Laten Syirik

Bab 6: Edea, Penyihir Stylish, dan Bahaya Laten Syirik

Lev
0

Kembali ke Balamb Garden setelah misi Dollet yang kacau balau, suasana akademi terasa berbeda. Para kadet yang berhasil melewati ujian, termasuk Lev Ryley, kini resmi menyandang gelar SeeD magang. Ada rasa bangga yang menjalar di dada Lev, meskipun dia masih merindukan nasi kuning khas Banjarmasin.

Upacara kelulusan diadakan dengan khidmat. Headmaster Cid memberikan wejangan, dan para kadet menerima peringkat dan bayaran pertama mereka. Lev mendapat peringkat tinggi berkat strategi tempurnya yang nyeleneh tapi efektif. Dia menerima uang G (mata uang game Gil) pertamanya.

"Alhamdulillah, rezeki anak soleh di dunia game," gumamnya sambil menghitung uangnya.

Setelah upacara, Quistis memanggil Lev dan timnya. "Kalian beristirahat dulu. Besok pagi, ada tugas baru dari Master NORG. SeeD adalah tentara bayaran, kita harus siap sedia."

Lev menghabiskan sorenya menjelajahi Balamb Garden. Tempat itu megah, tapi terasa dingin dan hampa. Dia rindu interaksi hangat masyarakat Banjarmasin yang suka nongkrong di teras rumah sambil minum kopi. Dia menemukan perpustakaan Garden dan mencoba mencari buku tentang sejarah dunia ini, berharap menemukan petunjuk tentang cara pulang ke rumah.

Malam harinya, tim Lev ditugaskan untuk misi rahasia: bergabung dengan faksi perlawanan Forest Owls di kota Timber untuk menggulingkan Presiden Deling dari Galbadia. Di sinilah Lev mulai dihadapkan pada ancaman ideologis terbesar di dunia ini: sihir dan penyihir.

Perjalanan ke Timber menggunakan kereta mewah (train hijacking). Di dalam kereta, mereka bertemu Rinoa Heartilly lagi.

"Hei, Lev! Dengar-dengar kamu jadi bintang di Ujian SeeD kemarin!" sapa Rinoa ceria.

"Alhamdulillah, cuma kebetulan saja," jawab Lev merendah.
Saat berdiskusi tentang misi mereka, topik beralih ke musuh utama mereka: Edea, penyihir kuat yang memanipulasi Presiden Galbadia.

"Edea itu penyihir yang kejam. Dia punya kekuatan sihir yang luar biasa," kata Irvine Kinneas, penembak jitu dengan gaya playboy, yang baru bergabung dengan tim.

Mendengar kata "sihir", Lev langsung pasang mode serius. Di Banjarmasin, sihir, santet, dan sejenisnya adalah hal yang sangat serius dan dilarang keras dalam agama.

"Sihir? Maksud kalian magic yang beneran bisa manggil jin atau setan?" tanya Lev dengan nada khawatir.

Rinoa mengangguk. "Ya semacam itu. Edea bisa menghancurkan kota dengan kekuatannya."

Lev merasa merinding. "Itu bahaya laten syirik! Kita tidak boleh bergantung pada sihir. Sihir itu haram, teman-teman!" serunya, membuat semua orang di kompartemen kereta menatapnya aneh.

Squall mendengus. "Di sini, magic adalah alat tempur. Kita menggunakan Junction System untuk mengelola magic. Ini ilmu pengetahuan juga."

"Beda, Squall! Yang kalian pakai itu mungkin semacam energi alami yang diolah. Tapi kekuatan Edea itu murni sihir hitam, kayaknya ada campur tangan setan atau apalah. Itu harus dijauhi!" Lev mencoba berdakwah tentang tauhid di tengah perjalanan kereta.

Irvine, yang mencoba menggoda Quistis di sebelahnya, menyela, "Wah, Lev ini ustaz ya? Ceramahnya mantap juga."
"Bukan ustaz, cuma gamer dari Banjarmasin yang menjaga iman," jawab Lev.

Malam itu, di dalam kereta yang melaju kencang, Lev merasa sangat gelisah. Dia mengeluarkan sajadah mininya dan salat hajat, memohon perlindungan dari Allah SWT dari segala bentuk kesyirikan dan sihir jahat Edea. Dia merasa misinya di dunia ini bukan hanya menamatkan game, tapi juga membersihkan dunia FF8 dari unsur-unsur yang bertentangan dengan akidahnya.

Tiba di Timber, kota yang terlihat suram di bawah kekuasaan Galbadia, tim Forest Owls menyambut mereka. Aksi sabotase dan penyusupan pun dimulai. Lev, dengan tekad bulat, berjanji pada dirinya sendiri akan melawan Edea bukan hanya dengan Gunblade atau Junction, tapi juga dengan iman yang kuat.

Di dunia nyata Banjarmasin, Ustaz Syamsul sedang memberikan ceramah di pengajian ibu-ibu. "Kita harus berhati-hati dengan hiburan zaman sekarang, termasuk video game. Ada unsur-unsur sihir dan kesyirikan yang bisa merusak akidah anak-anak kita..."

Hajjah Halimah, ibunda Lev, mendengarkan ceramah itu dengan air mata berlinang, khawatir anaknya yang hilang kini sedang berhadapan dengan bahaya laten syirik di dunia lain. Babak baru pertarungan ideologis Lev di dunia game baru saja dimulai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default