Bab 5: Jumat Berkah di Masjid Agung Annur

Bab 5: Jumat Berkah di Masjid Agung Annur

Lev
0

Hari Jumat selalu ditunggu-tunggu oleh keluarga Hifni. Bagi mereka, ini adalah puncak spiritual mingguan, momen untuk me-reset kembali fokus pada nilai-nilai keislaman di tengah hiruk pikuk duniawi sebagai abdi negara.

Pagi itu, suasana di rumah sudah berbeda. Hifni mengenakan baju koko putih bersih dan sarung tenun khas Kalimantan Selatan, siap untuk salat Jumat. Rina dan Khalisa juga sudah rapi dengan gamis dan jilbab serasi berwarna biru muda, siap mengantar Hifni dan pergi ke pengajian ibu-ibu di sekitar masjid.

"Ayah ganteng banget kalau pakai baju koko," puji Khalisa tulus, membuat Hifni tersipu.

"Makasih, Sayang. Bunda juga cantik banget, kayak bidadari dari surga," balas Hifni, mencoba gombalan yang sedikit kaku tapi berhasil membuat Rina tersenyum.

Mereka berangkat agak awal untuk mendapatkan tempat terbaik di Masjid Agung Annur, salah satu masjid terbesar dan termegah di Tabalong yang menjadi pusat kegiatan Islami masyarakat setempat. Masjid itu selalu ramai, menjadi simbol kekompakan umat di Bumi Sarabakawa.

Di perjalanan, Hifni menyetel murottal Al-Qur'an dari speaker mobilnya, menciptakan suasana tenang di dalam kendaraan. Rina sibuk menyiapkan bekal kecil berupa beberapa bungkus nasi kuning Banjar yang dibelinya di pinggir jalan untuk dibagikan setelah salat Jumat nanti. Ini adalah kegiatan rutin mereka setiap Jumat, berbagi sedikit rezeki sebagai bentuk syukur.

"Mas, jangan lupa nanti pas khotbah dengerin baik-baik ya. Khawatir topiknya soal PNS yang kurang bersyukur," ujar Rina sambil menata bungkusan nasi kuning.

"Siap, Bu Ustadzah. Ayah selalu khusyuk kok, kecuali kalau penceramahnya ngantukkin," canda Hifni.

Setibanya di masjid, Hifni langsung masuk ke area utama laki-laki. Suasana di dalam sudah mulai penuh. Hifni mengambil posisi di saf tengah, bersiap mendengarkan khotbah.

Sementara itu, Rina dan Khalisa menuju area serambi masjid yang dikhususkan untuk jamaah perempuan. Di sana, sudah ada puluhan ibu-ibu yang berkumpul, menggelar pengajian rutin sebelum salat Jumat.

"Assalamualaikum, Bu Rina!" sapa Bu Lurah yang juga hadir, duduk di barisan depan.

"Waalaikumsalam, Bu. Wah, rajin banget nih hari ini," balas Rina sambil mencari tempat duduk di sebelah Bu Ani.

Pengajian diisi oleh Ustadzah setempat yang membahas tentang pentingnya menjaga lisan dan sikap, terutama di lingkungan kerja. Tema ini terasa sangat relevan bagi Rina, mengingat obrolan arisan semalam dan sikap Hifni yang tertutup.

"Ibu-ibu, sebagai PNS, kita punya tanggung jawab moral untuk memberikan contoh yang baik. Bukan hanya dalam bekerja, tapi juga dalam bersikap, bahkan dalam bercanda," ujar Ustadzah dengan lembut. "Jangan sampai karena urusan duniawi, kita lupa akan kewajiban kita untuk menjaga kerukunan dan saling mengingatkan dalam kebaikan."

Rina merenungkan kata-kata Ustadzah tersebut. Ia sadar, terkadang ia terlalu memaksa Hifni untuk terbuka soal urusan kantor, melupakan bahwa Hifni mungkin punya alasan sendiri. Ia bertekad untuk lebih bersabar dan mendoakan yang terbaik bagi suaminya.

Di sisi lain masjid, khotbah Jumat sedang berlangsung. Khatib dengan suara mantap membawakan tema tentang "Integritas dan Keikhlasan dalam Bekerja".

Hifni mendengarkan dengan saksama. Setiap poin yang disampaikan khatib seolah menusuk langsung ke relung hatinya. Tentang godaan jabatan, tentang pentingnya bekerja karena Allah, bukan karena pujian atasan atau target kenaikan pangkat.

"Setiap rezeki yang kita dapatkan dari pekerjaan kita, seharusnya menjadi berkah bagi keluarga kita. Bukan sebaliknya, menjadi sumber kekhawatiran atau keretakan rumah tangga," ujar khatib, seolah tahu persis apa yang sedang Hifni dan Rina pikirkan.

Hifni menundukkan kepala, merasa diingatkan. Sikapnya yang tertutup semalam mungkin membuat Rina khawatir. Ia merasa bersalah karena tidak bisa meyakinkan Rina bahwa apa pun yang terjadi di kantor, prioritas utamanya tetaplah kebahagiaan keluarga kecilnya.

Usai salat Jumat, jamaah membubarkan diri. Hifni segera menghampiri Rina dan Khalisa di area serambi. Wajah mereka berdua terlihat lebih tenang dan damai.

"Gimana, Mas? Khotbahnya ngena banget ya?" tanya Rina sambil tersenyum.

Hifni mengangguk mantap. "Banget, Bu Guru. Ustadzahnya tadi juga pasti bahas hal yang sama, kan?"

"Tahu aja," balas Rina. "Oh iya, ini nasi kuningnya. Yuk kita bagikan."

Mereka membagikan bungkusan nasi kuning kepada jamaah yang keluar dari masjid, terutama kepada para bapak tua dan anak-anak. Wajah-wajah penerima nasi kuning itu berseri-seri, mengucapkan terima kasih dan doa-doa baik untuk keluarga Hifni.

Momen berbagi itu menghangatkan hati Hifni dan Rina. Mereka sadar, kebahagiaan sejati bukan terletak pada jabatan eselon IV atau gaji besar, tapi pada kemampuan untuk bersyukur, berbagi, dan menjaga keharmonisan rumah tangga.

"Mas, soal mutasi itu... aku nggak mau kamu stres. Aku percaya sama kamu. Apa pun yang terbaik menurut Allah, itu yang terbaik buat kita," ujar Rina tulus, sambil menggandeng tangan Hifni.

Hifni menatap mata Rina, penuh haru. "Makasih, Rina. Aku juga janji, akan lebih terbuka sama kamu. Maaf kalau kemarin aku bikin kamu khawatir."

Mereka saling tersenyum. Di bawah naungan kubah Masjid Agung Annur di Tanjung Murung Pudak, di hari Jumat yang penuh berkah itu, keluarga kecil Hifni menemukan kembali ketenangan jiwa dan menguatkan kembali fondasi Islami dalam rumah tangga mereka. Apapun drama kantor yang menanti minggu depan, mereka siap menghadapinya bersama.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default