Bab 5: Kuliah Online Rizki & Godaan Lagu Pop

Bab 5: Kuliah Online Rizki & Godaan Lagu Pop

Lev
0

Sore di Banjarbaru, setelah salat Ashar. Hujan rintik-rintik mulai turun, menciptakan suasana syahdu yang membuat kantuk mudah datang. Di kamar Rizki, suasana hening. Rizki Salman, si sulung yang kini mahasiswa kedokteran semester tiga, sedang berjibaku dengan materi kuliah Anatomi Fisiologi yang rumit.

Laptopnya menyala terang, menampilkan slide presentasi dosen yang penuh dengan istilah medis Latin. Rizki berusaha fokus. Dia tahu betul, menjadi dokter di Indonesia, apalagi di daerahnya Kalimantan, butuh perjuangan ekstra keras dan disiplin tinggi, mirip dengan perjuangan aktor Reza Rahadian dalam mendalami puluhan karakter ikonik.

“Fokus, Rizki, fokus,” gumamnya sambil memijit pelipisnya.

Namun, suasana sore yang teduh dan rintik hujan menjadi godaan berat. Pikirannya melayang. Secara tidak sadar, tangannya bergerak membuka aplikasi pemutar musik di ponselnya.

Rizki adalah pemuda yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Dia tahu betul batasan-batasan dalam Islam, termasuk soal musik. Dia sering mendengarkan nasyid atau musik instrumental Islami untuk menenangkan hati. Namun, ada kalanya, jiwa remajanya memberontak.

Dia punya playlist rahasia. Sebuah playlist berisi lagu-lagu pop Indonesia lawas yang penuh makna. Terutama lagu-lagu dari penyanyi legendaris seperti Chrisye atau Ebiet G. Ade, yang liriknya puitis dan tidak cengeng.

“Satu lagu saja, buat mood booster,” bisiknya meyakinkan diri sendiri.

Dia memutar lagu “Dealova” milik Chrisye. Alunan melodi lembut langsung memenuhi kamarnya. Rizki memejamkan mata sejenak, menikmati setiap liriknya. Lagu itu memberinya energi baru. Dia merasa lebih rileks dan siap tempur dengan materi kuliahnya.

Baru saja dia masuk kembali ke materi Anatomi, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. 

“Kakak! Umi suruh bantu angkat jemuran!” seru Fahmi dengan suara nyaring, diikuti oleh Mila yang mengekor di belakangnya.

Rizki panik. Dia segera mengecilkan volume ponselnya, tapi terlambat. Fahmi sudah mendengar alunan musik pop itu.

“Wuih, Kakak dengerin lagu galau nih yee!” ledek Fahmi. “Kirain cuma dengerin nasyid doang. Dasar calon dokter bucin!”

Wajah Rizki memerah. "Apaan sih, ini lagu seni! Bukan galau!"
Mila yang polos mendekat ke ponsel Rizki. “Suaranya bagus, Kak. Kayak Om Chrisye nyanyi buat aku.”

“Sana, bantu Umi dulu. Nanti Kakak susul!” usir Rizki, berusaha mengalihkan perhatian.

Setelah Fahmi dan Mila keluar, Rizki menghela napas lega. Untung saja Fahmi tidak spill the tea ke Ayah dan Umi. Fikri pasti akan memulai kuliah umum soal musik yang Islami versus yang tidak.

Rizki mematikan musiknya. Dia merenung. Dia tahu, mendengarkan musik pop bukanlah dosa besar. Tapi dia merasa sedikit bersalah karena melakukannya diam-diam. Dia teringat wejangan Umi Aisyah, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk dalam hiburan.

Dia memutuskan untuk melanjutkan belajarnya tanpa musik. Fokusnya kembali ke buku kedokteran. Rizki belajar bahwa dalam hidup, keseimbangan itu penting. Dia bisa mengagumi karya seni para musisi legendaris Indonesia, tapi prioritas utamanya tetaplah menuntut ilmu dan menjaga kewajiban agamanya.

Kuliah online sore itu menjadi pelajaran berharga baginya tentang manajemen diri dan prioritas. Rizki siap menjadi dokter yang pandai mengobati fisik, dan juga pandai menata hati. Hujan di luar semakin deras, tapi hati Rizki terasa lebih tenang.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default